
“B-bisa tidak, jangan semenjijikan itu.” Revina mengerutkan keningnya, ia merasa risih sendiri dengan ca*ran yang sudah menyelimuti perutnya, licin dan juga punya bau yang cukup aneh.
“Revina, apa kamu baru saja menolak semua teman-temanku?” Tanya Dhavin, wajahnya merungut sedih saat melihat ekspresi wajah istrinya yang sedang memberikan ekspresi wajah tegang.
“T-tubuhku jadi bau aneh,” Revina berkata demikian dengan mata terpejam, dan mulut serta hidungnya pun di tutup dengan lengan kanannya, ia benar-benar tidak mampu untuk melihat kondisi baik itu tubuhnya yang sudah di selimuti dengan ca*ran cinta milik Dhavin, juga posisi mereka berdua yang cukuplah dekat.
Bahkan di saat seperti ini, karena tubuh Dhavin yang begitu besar juga punya punggung yang lebar, hal tersebut membuat dirinya tertutup dengan begitu baik oleh tubuh Dhavin, layaknya sebuah tameng.
“Tenang saja, lagi pula nanti aku yang memandikanmu. Kan sudah jadi tanggung jawabku agar tubuhmu senantiasa harum dan sebagai ganjarannya, aku jadi terus terpesona dengan aromamu yang harum.” Jawab Dhavin, bahkan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya itu sama sekali tidak mempertimbangkan apa yang akan terjadi kepada Revina nantinya.
Revina, seketika menutup rapat mulutnya. ‘Ya tuhan, kenapa sekalinya aku dapat suami, bisa seperti ini?’
Antara sedih karena terharu, juga ingin tertawa karena menjengkelkan.
Revina terharu sebab doanya terkabul, pemikiran tidak mungkin punya jodoh, ternyata terwujud, terlepas dari perekonomian yang dimiliki oleh Revina sebelumnya. Tetapi yang paling menjengkelkannya adalah ia tidak bisa menghapus keberadaan dari godaan milik Dhavin ini.
“Bisa tidak, jadi pria normal?” Gumam Revina, pada akhirnya.
Dhavin yang hendak berbicara, hanya mengatupkan mulutnya saat Revina lebih dulu berbicara.
Sekarang Dhavin mengerjapkan matanya. “Apa kamu baru saja menganggap kalau aku ini tidak normal? Padahal aku sangat normal. Sampai aku mampu menanam benih di dalam perutmu ini, bukankah artinya aku sangat normal?”
__ADS_1
“Dhavin, bukan itu, aku tahu kamu sangat subur seperti rumput bergoyang di padang rumput. Yang aku maksud itu adalah isi kepalamu, jangan sering-sering menggodaku, aku sekarang…jadi pusing.” Terus terang Revina terhadap Dhavin.
“Kamu baru saja membatasi suasana hatiku?”
Tiba-tiba saja suasana diantara mereka jadi diam, Revina pun membuka matanya dan melihat apa yang sedang di lakukan oleh Dhavin kali ini, yaitu sebuah tatapan mata yang begitu serius.
‘Aku jadi ingin membelah kepalanya, sebenarnya apa yang dipikirkan Dhavin tentangku selama ini?’ Revina pun membalas tatapan matanya, setidaknya, hanya untuk sesaat saja sebelum Revina kembali menutup matanya karena tidak mau terpesona dengannya, sekaligus, sedang menahan mual yang dimilikinya. “Maksudku bukan itu. Aku ingin melihatmu jadi pria yang terlihat begitu cool? Ehm..atau apa namanya? Jika kamu bersikap dengan orang lain, pasti sikapmu sangat bertolak belakang dengan sikapmu saat menghadapiku, ya kan? Intinya sih seperti itu, rasanya, dimataku kamu jadi terlihat keren, jantan, dan- dan…, dan apa, hmmm…dan itu, itu…”
Revina yang tidak sanggup lagi bicara panjang lebar, lantas membuat Dhavin tersenyum lembut. Penyamarannya untuk tetap terasa imut, layaknya orang bodoh di depan Revina, harus di bongkar juga.
Revina terlihat terus berpikir di bawah mata yang sedang terpejam, “Pokoknya yang seperti pria normal lakukan, contohnya Freddy. Aku ingin kampphhh..!”
Revina membulatkan matanya dengan begitu sempurna, mulutnya yang belum selesai bicara harus di hentikan karena adanya mulut yang tiba-tiba saja menutup mulutnya itu.
Hal tersebut pun membuatnya jadi bertambah jengkel, dan ingin menempatkan sebuah hukuman untuk Revina sekarang juga.
‘Aku harus menghukummu sekarang.’ Tatap Dhavin dengan begitu tajam bahkan cukup dingin, seakan sorotan matanya itu mampu untuk menembus ke kepala Istrinya.
‘G-gawat, jika ekspresinya sudah seperti itu, jelas aku akan di hukum. Padahal bukan ini yang aku harapkan, tetapi kenapa aku malah mendapatkan ini?’ Dan selagi memikirkan itu, Revina tercekat kaget ketika salah satu tangannya Dhavin tiba-tiba saja menyusuri pahanya, dan menarik rok panjangnya itu sampai ke pinggang, sehingga apa yang ada di balik rok tersebut pun akhirnya terekspose juga. “Uhmmph..!” Revina berusaha mendorong tubuh Dhavin, tapi ia tidak mampu untuk melawan tenaga Dhavin yang lebih besar ketimbang dirinya. ‘A-aku butuh udara.’
Revina mengernyitkan matanya, tanda nafasnya sudah mulai menipis.
__ADS_1
Dhavin yang sudah tahu kondisi dari Revina yang menginginkan udara untuk bernafas, ia dengan sengaja memberikannya sebuah kesempatan untuk lepas dari tautan nya.
“Phuahh…hah,...hah…hah…”
Dhavin pun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Revina yang sudah bersemu merah.
Lagi-lagi godaan tanpa Revina sadari, berhasil menarik keinginan dari diri Dhavin yang sudah bercampur dengan rasa kesalnya, sebab nama Freddy belum lama ini terucap dari mulutnya Revina.
_______________
“Hachumm!” Freddy yang kini ada di luar mobilnya, tiba-tiba saja bersin.
“Apa kamu akhirnya bisa sakit?” tanya Arlsei, baru keluar dari mobil miliknya Freddy, dia baru saja menumpang, makannya keluar dari kendaraan pribadinya Freddy.
“Aku tidak mungkin sakit. Justru kamu, wajahmu yang terlihat pucat itu, sudah pasti yang akan sakit adalah kamu.”
Meskipun apa yang dikatakan oleh Freddy benar, tapi Arlsei sama sekali tidak begitu memperdulikannya. “Jika aku sakit, aku bisa mengurus diriku sendiri, tapi lain hal jika itu kamu.” Arlsei membenarkan blazer yang ia pakai, lalu sudut matanya pun melirik ke arah Freddy yang sedang menatapnya. “Kamu kan hanya punya otak untuk menumbuhkan dan mempertahankan ototmu, jadi jika kamu sakit juga artinya kamu sendiri memerlukan bantuan. “
Freddy tiba-tiba saja tersenyum miring, “Apa kamu baru saja berharap agar aku sakit?”
Dengan wajah Arlsei yang terlihat tidak begitu bereaksi apapun selain ekspresi datar, menoleh ke arah Freddy dan menjawab : “Anggap saja seperti itu. Jadi setidaknya aku bisa memeriksa tubuhmu secara keseluruhan.”
__ADS_1
Sebenarnya Arlsei cukup tertarik untuk memeriksa tubuh Freddy secara menyeluruh. Tapi semua itu hanyalah angan-angan saja, karena setiap Freddy melakukan medical check up, Arlsei tidak diperbolehkan untuk menyentuh seluruh tubuhnya itu.
“Diam-diam kamu punya obsesi yang cukup mengerikan.” Kata Freddy, sebelum akhirnya Freddy berjalan meninggalkan Arlsei sendiri di depan rumahnya Dhavin.