Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
69 : DBMJCP : Masih jadi orang baik?


__ADS_3

Setelah keluar dari tempat latihan, Dhavin buru-buru pergi masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh salah satu anak buahnya untuk di parkirkan di depan pintu persis, karena dia akan pulang. 


BRAK…


Dengan kasar, Dhavin masuk kedalam mobil, dan langsung menancap gas sedalam mungkin.


“Apa lagi kali ini? Apakah Arlsei sudah tidak mampu lagi untuk menjaga Istriku? Kalau seperti itu, lebih baik dia ditugaskan di markas saja. Eh..tapi jika seperti itu, siapa yang akan masak? Aku sudah cukup malas untuk merekrut koki, karena akhir dari mereka, pasti sama saja.” Gerutu Dhavin. 


Dan Dhavin pergi dengan mobilnya dalam kecepatan yang cukup tinggi. 


Empat jam yang akan digunakan untuk mengisi urusannya itu akhirnya jadi langsung tertunda karena Arlesei lah yang tadi menelponnya dan menyuruh Dhavin untuk kembali, karena ada sesuatu yang terjadi kepada Revina. 


Dengan kecepatan hampir menyentuh 150 km per jam, Dhavin sampai di rumah dalam waktu kurang dari lima belas menit.


Sesampainya di rumah, Dhavin membuka pintu dengan cukup kasar.


BRAK...


Dan dia langsung bergegas masuk kedalam rumah, dan tepatnya kelantai tiga. Untuk memangkas waktu tempuh, tentu saja Dhavin akan menggunakan lift sebagai alat transportasinya.


TING.

__ADS_1


Dengan buru-buru, tepat setelah lift sampai di lantai tujuan, Dhavin buru-buru berlari pergi menuju kamarnya.


KLEK.


Dhavin berusaha agar membuka pintu kamarnya agar tidak mengganggu Revina yang kemungkinan memang ada di dalamnya.


"Revina~" Panggil Dhavin menghampiri Revina yang lagi-lagi tiduran di atas sofa.


Ya..


Setiap kali Dhavin pulang, dia lebih sering melihat Revina tiduran di sofa yang sempit ketimbang kasur yang besar dan lebar itu.


Tidak ada sahutan sama sekali pada Revina, Dhavin berjalan menghampiri istrinya itu.


"Dhavin..aku takut." Revina langsung memeluk Dhavin.


"Kenapa lagi? Apa yang membuatmu jadi takut dan menangis seperti ini?" tanya Dhavin, perlahan sedang mengenterogasi Istrinya yang terlihat memang sedang takut.


Tapi memangnya takut pad aapa lagi?


"Aku masih terbayang dengan yang kemarin malam." Lirih Revina sambil memeluk Dhavin dan meletakkan kepalanya di atas bahu Dhavin yang kebetulan suaminya itu sedang berjongkok di depannya persis.

__ADS_1


Dhavin menepuk lembut punggung Revina agar bisa lebih tenang. "Pasti sangat menakutkan ya?"


"Hmm..aku sebenarnya terus kepikiran. Apakah aku masih bisa disebut orang baik?" Gumam Revina lagi.


"Maksudmu apa? Sekalipun orang lain menganggapmu jahat, dimataku kamu akan selalu aku anggap baik." Balas Dhavin, mencoba mencerna situasi apa yang sebenarnya dimiliki oleh Revina ini sampai berkata kalau dirinya sendiri sudah bukan orang baik.


"T-tapi...tapi Dhavin. Memangnya aku pantas, jadi orang baik?"


"Makannya ceritakan, kenapa kamu bisa bertanya soal pendapatku kepadamu. Jika tidak memberitahuku, aku mana bisa memberikan pendapatku sendiri padamu."


Revina melepaskan pelukannya, lalu dengan wajah yang sudah sembab itu, Revina menatap wajah Dhavin dengan cukup lekat sambil bertanya langsung pada seorang Dhavin Calvaro sang suaminya ini.


"A-apakah aku masih jadi orang baik, jika...aku saja..sudah membunuh seseorang?" Akhirnya Revina pun mengungkapkan kegelisahan dari hatinya yang dari tadi selalu menyatakan kalau dirinya bukan lagi orang yang baik.


Dan pertanyaan itu, lantas sukses membuat kedua mata Dhavin membulat cukup sempurna.


'Apa yang baru saja dia tanyakan? Membunuh?' Satu kata yang tiba-tiba saja terlintas di dalam pikirannya 'membunuh' menjadi bahan topik utama yang sedang di proses dalam otaknya Dhavin, sebab istrinya memang baru saja mengatakan itu kepadanya.


"Jawab, apakah aku termasuk jadi orang yang baik, jika..jika-" Revina langsung menatap kedua tangannya sendiri, dimana di matanya itu kedua tangannya terlihat seperti sudah berlumuran dengan darah dari orang yang Revina bunuh itu. "Tanganku sudah kotor..dengan darah..m-milik orang yang..aku bunuh?"


'Apa yang sebenarnya terjadi? Memangnya siapa yang Revina bunuh? Dia punya nyali untuk membunuh juga? Ah..kenapa aku merasa tidak percaya dengan ini?' Rutuk Dhavin.

__ADS_1


Melihat Istrinya itu terus memandangi kedua tangannya sendiri yang pastinya sudah terlihat seperti sudah kotor dan dinodai oleh darah milik orang yang Revina bunuh itu, membuat Dhavin langsung memeluknya dengan erat.


"Dhavin, bagaimana ini? Tanganku kotor. Pasti kotor kan? Mau seberapa keras aku mencucinya, aku tetap tidak bisa menghilangkan bayangan dari darah milik seseorang. Dhavin...aku takut. Aku takut sudah tidak jadi orang yang baik lagi seelah kedaian ini." Dan tangisannya, jadi kembali pecah karena insiden yang terjadi pada Revia iu.


__ADS_2