
"Arsei itu-" Pria yang membawa Revina ke dalam mobil itu pun perhatiannya saja berhasil di alihkan gara-gara cara Arlsei dalam menghadapi mereka berempat.
Revina yang merasa takut dengan apa yang akan di lakukan oleh pria ini kepadanya, buru-buru turun dari mobil.
"Hei, siapa yang menyuruhmu untuk pergi?" Tanyanya sambil mencengkram pergelangan tangan Revina dengan cukup erat.
Sebuah pergelangan tangan yang cukup ramping, hingga pria ini berpikir kalau dia lebih mengeratkan lagi cengkraman tangannya, tulang dari pergelangan tangan Revina akan langsung remuk saat itu juga.
"Lepaskan!" Mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan penjahat ini.
"Kamu harus ikut aku."
"Tidak mau! Aku mana mungkin ikut dengan seorang penjahat sepertimu." Masih berusaha meronta untuk melepaskan dirinya dari laki-laki ini.
"Aku tidak membutuhkan kalimat protesmu Yang aku butuhkan hanya membawamu pergi denganku." Ucapnya lagi. Dan pria ini pun terus menarik tubuh Revina untuk kembali masuk kedalam mobil.
"Tidak mau! Lepas! Lepas! Aku tidak mau di bawa oleh mu...., kal-" sampai tangisan yang akan di buat oleh Revina sempat tertahan sesaat setelah tubuhnya kembali di bopong dan di masukkan kedalam mobil lagi.
"Diam." Tegas pria ini.
"Arlsei! Tolong aku! Tolmph...!" Mulut Revina langsung di bungkam dengan saputangan yang entah itu bersih atau tidak, Revina ingin sekali memuntahkan nya, tapi semua itu sama sekali tidak bisa di lakukan nya, karena kedua tangannya tiba-tiba di borgol dan di sambungkan ke gagang pintu. "Mphh....!"
BRAK.
__ADS_1
"Nyonya!" Panggil Arlsei. Dia yang hendak menyusulnya, langsung di cegat oleh ke empat orang tersebut. Dua diantaranya langsung meraih kaki Arlsei dengan di peluk agar tidak kabur, dan dua orang lain lagi langsung mengarahkan pistolnya tepat ke kepala Arlsei.
BRRMMM.........
"Nyonya mu sudah di bawa pergi oleh Bos kami. Jadi menyerah saja, jangan buang energimu untuk melakukan hal yang sia-sia." Kata salah satu diantara mereka berempat setelah melihat kepergian dari Bos mereka, benar-benar membawa Arlsei semakin menjadi orang yang pendiam.
"Nyonya," Panggil Arlsei dengan lirih dan kepala pun sudah menunduk, karena ia tidak percaya kalau dirinya mengalami kegagalan dalam menjaga majikannya sendiri?
GREP.....
Arlsei semakin mencengkram gagang besi miliknya, sampai kedua orang yang ada di bawahnya mengira kalau Arlsei sedang terlihat putus asa karena tidak melakukan tugasnya dengan baik, langsung melayangkan jarum suntik untuk di tancap ke daging dari betis Arlsei.
SYUHHT...
BRAK.
"Akkhh....!"
DORR....
Dua suara tembakan itu berhasil menangkis satu peluru dengan cukup akurat, sehingga bunyi nyaring akhirnya kembali muncul.
Tapi sayangnya tidak dengan satu peluru lainnya, yang ternyata sempat menggores pipinya, sehingga hasil dari goresan tersebut pun membuat kulitnya mengeluarkan darah.
__ADS_1
Dan darah itu sempat Arlsei seka dengan ujung jempolnya dan menjilat nya, sampai tatapan paling dingin di dunia langsung Arlsei perlihatkan kepada mereka berempat.
"Kalian, harus aku singkirkan sekarang juga." Kata Arlsei dengan nada yang cukup rendah, apalagi di sertai tatapan yang cukup dingin juga ekspresi yang datar, selesai sudah, bahwa akhir dari kisah hidup yang di jalani oleh mereka berempat akan berakhir malam ini juga.
"Tembak!"
DORR...
Suara tembakan kembali mengisi ketegangan yang semakin memuncak. Adu fisik yang memungkinkan akan membuat tubuh mengalami cedera parah pun berlangsung.
Walaupun dia tidak membawa senjata seperti pistol dengannya, namun dengan sekedar tongkat besi yang ia miliki, Arlsei selalu mampu menghalau peluru yang datang ke arahnya dengan tangkisan dari tongkat besi yang cukup akurat.
CTANG.....
Tangkisan kembali terjadi, dan peluru bisa di halau dengan mudah, tapi karena di saat yang bersamaan Arlsei hampir mendapatkan jegalan kaki, Arlsei langsung melompat dan menendangnya.
KWAKK....
Suara dari burung gagak itu pun seolah menjadi pertanda yang cukup buruk, karena mereka sedang menunggu mangsanya mati
Dan semua itu berakhir dengan suara empat kali tembakan berturut-turut. Hingga ada beberapa burung gagak yang kaget dengan suara keras itu, langsung membuatnya terbang menjauh.
"Hah ...," Arlsei menghela nafas lega, karena akhirnya pertarungan yang terjadi antara satu lawan empat, bisa berakhir juga. Meskipun saat ini ada beberapa tempat di pakaiannya yang tidak di sengaja mendapatkan cipratan darah. 'Aku harus mencucinya segera. Tapi-'
__ADS_1