Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
180 : Mencoba Menerima


__ADS_3

"H-hei, kenapa menangis sih?" Dhavin malah bertanya hal yang sudah jelas penyebabnya apa.


"Huwaahh...!" Vina pun semakin menagis kejer. Dan karena dia malu menangis di depan orang yang tidak mengenali dirinya lagi, Vina pun langsung pergi dari sana dengan lari terbirit-birit.


BRAK....


"Vi-" Dhavin yang belum mencoba untuk membujuk perempuan itu, lantas hanya bisa menangkap angin kosong saja. Dia mengepalkan tangannya dengan erat, lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. "Kenapa dia menangis sampai sebegitunya? Jika aku ini suaminya, bukannya dia seharusnya setidaknya senang, aku masih kembali dengan selamat?


Tunggu, suami?" memikirkan kalimat yang begitu kelu di lidahnya, Dhavin pun sejenak diam dan berpikir. 'Aku sudah jadi suami? Dia? Dan dia-'


"Owee~ Owee~ Owee~"


Dan suara berisik yang lainnya pun datang juga, dan tidak lain adalah suara dari tangisan bayi.


Sayangnya, bukan satu bayi saja, melainkan dua bayi?

__ADS_1


'Yang benar saja! Di rumahku sudah ada bayi?' Dhavin yang kehilangan ingatannya, dan punya anggapan kalau dirinya masih bujang itu, langsung berekspresi terkejut.


Pasalnya dia tidak begitu suka bayi, tapi dia nyatanya harus menghadapi bayi yang ada di rumahnya?


___________


"Nyonya, maaf Nyonya, tapi Tuan dan Nona benar-benar tidak mau minum susu, sepertinya beliau ingin di gendong oleh anda." sah satu babysitter, datang menghampiri sang Nyonya rumah yang sedang berjongkok di tepi kolam.


"Ah, s-sebentar." Vina yang tidak mau melihat pelayannya itu melihat kalau bahwa dirinya menangis, langsung mengambil air kolam untuk cuci muka, dan dengan pedenya, dia malah mengeringkan wajahnya itu dengan pakaiannya sendiri.


"Sini, aku gendong." jawab Vina kepada salah satu pengasuh bayinya.


"Owee~ Owee~ Owee~" dua anaknya pun menangis lagi, entah apa yang terjadi, apakah sama-sama merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Vina tadi?


Vina hanya tersenyum kecut, dan mengabaikan semua pikiran yang menyangkut dirinya dengan Dhavin yang ada di dalam kamarnya itu.

__ADS_1


Sungguh, walaupun agak mengejutkan, karena Dhavin kehilangan ingatannya, tapi karena bisa pulang dengan selamat, dia pun akan berusaha untuk tidak begitu mempermasalahkannya.


"Tapi apa? Alasan dia bisa pulang dengan kondisi seperti itu?" gumam Vina, seraya memberikannya ASI kepada anak laki-lakinya lebih dulu, dan kemudian Vina menggendong satu anaknya lagi yang perempuan.


Lusi dan Lisa yang tidak ingin mengganggu Nonya mereka yang ingin sendirian, lantas pergi dari sana, walaupun terbesit rasa simpati, karena melihat sang Nyonya yang tampak begitu tegar dalam menghadapi masalahnya yang kali ini.


Sebuah masalah yang terus berulang kali datang dan ingin menghancurkan hubungan antara Nyonya dan Tuan besar mereka.


"Owee~ Owe~ Owe~"


"Shhhtt~" walaupun agak berat, karena kian hari berat tubuh kedua anaknya bertambah, dia pun berusaha untuk bertahan.


Sedangkan Dhavin yang ada di dalam kamarnya tadi, dia sebenarnya sempat ingin keluar dan menegur orang yang memiliki bayi yang barusan menangis. Tapi di karenakan tangisannya saja sudah selesai, Dhavin pun tidak jadi pergi dari kamar.


'Untung saja sudah diam, kalau belum diam, awalnya aku ingin mengusir pelayan yang bawa bayi itu keluar dari rumahku. Tapi karena ini sudah larut, lebih baik tidur sajalah.' dengan begitu nyamannya, Dahvin pun melepaskan semua pakaiannya, kecuali celana boxer nya, dan langsung berbaring di atas tempat tidur, tanpa memperdulikan sebenarnya siapa pemilik dari kedua bayi yang menangis tadi. 'Karena bukan sekarang, berarti besok saja, aku harus berikan peringatan kepada mereka yang mengurus bayi di rumahku, untuk aku keluarkan saja.'

__ADS_1


Dan begitulah, nyamannya hidup di bawah memorinya yang terkubur, membuat Dhavin berpikiran dia bukanlah siapa-siapa yang perlu menanggung jawab kewajiban sebenarnya, seolah dia masih lajang.


__ADS_2