Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
157 : DBMJCP : Tidak bisa di filter


__ADS_3

“Adu mulut itu sama saja dengan bertengkar.”


“Iya, aku tahu, tapi artinya sama juga, kita berdua saling bicara satu sama lain. Dan bicara soal mencari nostalgia milik kita berdua, pasti menyenangkan.”


‘Kenapa kamu terlihat senang hanya dengan mengulas masa lalu yang sudah berlalu itu? Atau karena aku tidak memiliki sesuatu yang bisa aku ceritakan, makannya dia jadi menawariku bercerita tentang masa lalu?’ pikirnya. ‘Karena aku suka di rumah ketimang di luar, aku pastinya di anggap sebagai orang yang membosankan. Makannya aku tidak memiliki cerita luar yang menyenangkan, dan Dhavin, untuk menyesuaikan aku, dia jadi seperti ini.


Kenapa aku jadi Istri yang seperti ini sih? Dhavin lebih banyak menyikapi semua yang aku lakukan, sedangkan aku sangat susah menyikapi dia. 


Hah~’ Revina jadi menghela nafas antara merasa bersalah juga frustasi, sebab ia sadar diri kalau Dhavin adalah pria yang lebih dominan untuk menyesuaikan dirinya terhadap apa yang di inginkan oleh Revina. 


“Kenapa kamu menghela nafas? Apa kamu bosan denga masa lalu yang aku pikir sebenarnya cukup menyenangkan.” Raut wajah murung Dhavin justru berakhir dengan senyuman tipis, seperti sudah menemukan satu ide jahil yang tidak bisa Revina tebak isi otaknya Dhavin baru saja menemukan pikiran apa lagi. 


“Memamgnya apa yang menyenangkan dari waktu pertemuan yang singkat itu?” Revina perlahan jadi terpancing dengan perkataannya Dhavin, dan itu tetap saja dengan mata terus melihat ke arah lain. 


“Yah, waktu itu saat kamu tidak sengaja menyenggol bahuku, kamu kelihatannya baru saja merenung dengan seulas air mata membasahi pipi ini.” Dan senyumannya jadi kian mengembang karena Dhavin benar-benar bercerita tentang Revina di awal pertemuan mereka berdua di tepi pantai. 


‘Kenapa malah bahas itu!’ Revina jadi malu sendiri jika dipaksa mengingat kembali bahwa waktu itu memang adalah pertemuannya mereka berdua di pantai, dan kala itu Revina sempat sedikit menangis karena perasaan sedihnya terhadap dirinya sendiri. 


“Sebenarnya dari awal sampai sekarang, aku masih penasaran dengan apa yang sedang kamu pikirkan waktu itu, apa alasan kamu sedih, dan tiba-tiba lari dariku.” Melihat Revina terlihat merungut tidak mau bercerita, Dhavin yang tidak sabaran itu langsung membopong tubhu mungil Revina dan membawanya ke atas tempat tidur. 


BRUKK…


Dan hal itu membuat Revina membalalakkan matanya saat Dhavin terus mengumbar senyuman lebar yang bagi Revina sendiri, itu bukanlah senyuman biasa, tapi senyuman jahil yang akan memulai sesuatu yang gila kepadanya.


“Tidak mau bercerita nih? Yah, apa boleh buat-” Sengaja menggantungkan kalimatnya Dhavin dengan sengaja mulai melepaskan satu kancing kemeja yang Dhavin pakai itu, membuat celah lebih banyak untuk memperlihatkan dadanya. 


Revina buru-buru memejamkan matanya, ia tidak mau terkontaminasi lebih banyak lagi dari pesona suaminya yang tidak tanggung-tanggung itu.

__ADS_1


“Shh…kenapa malah tutup mata, lihat ini, kamu tidak lapar?”


“Aku kan sudah makan,”


“Makan apa? Aku jadi penasaran apa yang sudah kamu makan, sampai tidak mau makan denganku.” Goda Dhavin lagi, sambil menyentuh perut Revina yang sudah rata. “Kalau aku tanya, kamu ingin minta di isi lagi, kamu mau?”


Revina menggeleng-gelengkan kuat.


“Pfftt…..” Dhavin jadi tertawa kecil melihat Revina secara terang-terangan langsung menolak tawarannya. “Padahal tinggal sedikit laggi, aku pasti menjebolmu lagi nih, yakin tidak mau?” Goda Dhavin lagi, yang mana pusakanya sebenarnya sudah berada di ambang pintu masuk. 


“Berisik, kenapa mulutmu tidak bisa di filter.” Protes Revina seraya menutup wajahnya sendiri daripada di pandang oleh Dhavin secara langsung. 


“Hahaha, untuk apa aku memfilter ucapanku di depan Istriku sendiri. Padahal sudah sering, kenapa masih malu-malu manja seperti ini sih?” Dhavin pun menepul perut Revina dengan pelan, lebih membungkukkan tubuhnya ke depan, Dhavin pun berbisik. “Sedang menggodaku ya?” bisiknya, di susul dengan jilatan kecil di area telinga sebelah kirinya Revina, sebelum Dhavin akhirnya mengigit ringan daun telinga yang rasanya memang ingin Dhavin gigit keras. 


"Tidak lah, kau lah yang menggodaku lebih dulu."


"Memangnya ada yang spesial?" Sela Revina detik itu juga.


Revina memalingkan wajahnya ke arah lain, sehingga Dhavin yang ingin melihat Revina menatapnya, jadi merasa aneh lagi, karena Revina kembali menghindari tatapan matanya.


"Revi-"


"Karena aku di rumah terus, aku tidak punya cerita, makannya kau membujukku untuk bercerita soal masa lalu. Maaf, aku tidak punya cerita menarik untuk di bagi kepadamu." Meskipun sudah di pendam dalam diam, Revina sejujurnya masih saja merasakan gelisah, karena berada di sisi Dhavin sebenarnya bukan sekedar berdiri dan menemani hari-harinya saja.


Tidak ada yang bisa Revina lakukan untuk membantu pekerjaannya, itulah yang selalu menghantui pikirannya dari awal sebelum menikah sampai sekarang.


"Kenapa kamu begitu memikirkan itu? Aku bahkan sama sekali tidak memikirkannya, tidak begitu memperdulikannya, tapi kenapa kamu selalu seperti ini? Sebenarnya mau berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu?" Ungkap Dhavin.

__ADS_1


Dhavin terus menatap wajah Revina dengan begitu lekat. Wajah dengan penuh kecemasan, itu yang sedang Revina perlihatkan kepadanya .


Cemas, khawatir, takut, tapi tidak tahu apa yang harus di lakukan? Revina dalam kebingungan?


Merasa lelah dalam posisinya itu, Dhavin pun beranjak dari atas tubuh Revina. Tapi bukan berarti Dhavin pergi, melainkan Dhavin justru berbaring di samping kanan Revina, lalu memposisikan untuk miring ke kiri, sehingga Dhavin pun jadi bisa melihat wajah Revina yang terlihat sedang sedih, dan terus mencoba menghindari tatapannya.


'Dia selalu saja seperti ini. Kalau lagi kambuh pasti akan seperti ini lagi, seolah aku juga yang salah. Hahh~' pikirnya.


Mendengar Dhavin menghela nafas di depannya, Revina jadi sedikit tersentak kaget, dan langsung menutup matanya ketika Dhavin tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya.


'A-apa yang mau dia lakukan?' Revina dalam diam merasa khawatir, khawatir dengan apa yang akan di lakukan oleh Dhavin, karena pria ini selalu saja melakukan hal yang tidak terduga.


'Hahaha, dia lucu sekali, kenapa dia merem seperti itu? Memangnya aku akan melakukan apa padanya? Apa dia pikir aku akan menerkamnya?' Dengan raut wajahnya yang bisa ia tahan dengan ekspresi datar, Dhavin pun semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Revina, setelah itu tangan kanannya meraih belakang kepala Revina dan ...


CUP...


".........!" Revina langsung membuka matanya ketika satu kecupan kembali mendarat di permukaan kulit di dahinya.


Hangat juga cukup lembut, sebuah kecupan penuh dengan perasaan.


Dhavin melakukannya dengan cukup lama, sampai Revina jadi tidak tahu lagi harus berkata apa, sebab semua perasaan yang di miliki Dhavin, seolah sedang di salurkan ke dalam ciuman kening itu.


'Kenapa aku selalu saja punya prasangka buruk kepadanya?' Setelah mendapatkan ciuman dengan perasaan milik Dhavin yang begitu penuh, Revina pun jadi merasa menyesal.


Ia menyesal mengatakan hal yang membuat hati dari pria ini terganggu.


Entah sakit hati atau tidak, Revina hanya berpikir kalau ucapannya pasti terus akan membuat Dhavin terus kepikiran.

__ADS_1


__ADS_2