Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
103 : DBMJCP : Persiapan


__ADS_3

Setelah malam pergantian tahun baru? Bukan, tapi pergantian hari? Itu juga bukan. Tepatnya malam pergantian tanggal ulang tahun.


Sama hal nya dengan anak kecil yang ingin merayakan ulang tahun sebagai hadiah meraih kemenangan menjalani satu tahun dengan segala drama juga cerita kehidupan yang sudah susah payah di lalui, entah itu sepasang kekasih dalam status pacaran, pengantin baru, atau pengantin lama, Dhavin dan Revina akhirnya bisa menemui tanggal di hari pernikahan yang di selenggarakan satu tahun lalu.


Hari yang sudah lama di tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga.


Lantas bagaimana persiapan dari sepasang suami Istri yang cukup absurd itu?


"Tuan, Nyonya, apa anda sudah bangun?" Sayangnya suara milik Arlsei tidak mampu menjangkau kedua majikan yang ada di dalam kamar utama itu.


Tidak ada sahutan sama sekali. Itu yang Alrsei dapat, bahkan setelah dia mengetuk pintu berulang kali dan mencoba menelepon Tuan nya yang ada di dalam sana.


Padahal teleponnya terhubung, tapi teleponnya sama sekali tidak di angkat.


"Tuan, ini handphone milik Bos, tertinggal di dalam mobil." Memberikan handphone yang baru saja menyala, karena beberapa saat tadi handphone milik Tuan nya itu, sempat mendapatkan panggilan tidak terjawab dari Arlsei sendiri.


Arlsei meraih handphone itu dan memutuskan meninggalkan kamar milik kedua majikannya itu.


Walaupun hari ini memang hari spesial untuk sepasang kekasih yang setiap harinya di landa mabuk asmara, Arlsei hanya tahu kalau kedua sejoli itu masih lelah.


'Aku akan datang lagi satu jam, jika mereka Tuan dan Nyonya masih belum bangun, aku akan terpaksa masuk dan membangunkannya. Karena jika tidak seperti itu, akhirnya aku juga yang terkena Imbas, tidak bisa mejadi pelayan yang sempurna,' Dan Arlsei pun berjalan pergi dengan arah berlawanan dengan anak buahnya tadi.


Dia tidak akan membiarkan apapun yang sudah Arlsei persiapkan dengan cukup matang semenjak malam tadi, hancur karena kesalahan majikannya sendiri.


Arlsei tidak akan membiarkannya, tidak akan memberikan kesempatan rencana miliknya hancur dalam seketika, seperti keterlambatan kedua mempelai, atau bahkan jika ada halangan yang terjadi di tengah jalan, Arlsei adalah orang yang akan selalu menyingkirkan semua masalah, untuk memperoleh kesempurnaannya.


Kesempurnaan harus selalu pada dirinya. Itulah yang ada pads dalam diri Arlsei sendiri.


_____________


Hanya saja....


Pergumulan di dalam selimut, selalu menjadi hal yang cukup wajar jika mereka berdua sudah ada di batas rasa lelah mereka berdua setelah mengarungi malam yang cukup panjang.


Siapa lagi kalau bukan Revina bersama dengan Dhavin si beruang besar yang suka makan itu?


Karena malam tadi berlangsung cukup menyenangkan, maka hal tersebut membawa mereka berdua mencapai kenangan nostalgia yang cukup menyatu pada diri mereka seperti satu tahun yang lalu.


Dan dua orang itu, kini sedang menikmati tidur mereka berdua dengan tubuh tanpa busana. Sehingga kesan hangat itu pun terus menyelimuti mereka berdua, baik itu tubuh maupun jiwa mereka berdua.


"Vin~" Panggil Dhavin dengan suara yang serak. Kelopak matanya terbuka, dan menemukan wajah Revina yang tertidur cukup lelap di samping kirinya, sampai Dhavin menggunakan tangan lengan tangan kirinya itu sebagai bantal kepala Revina.


"Huft~...Huft~...Huft~" Revina sungguh terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Melihat wanita di sampingnya itu begitu terlelap tidur sampai Dhavin sendiri tak kuasa untuk membangunkannya, ia pun hanya membiarkannya saja.


'Dia pasti kelelahan.' Dari pagi hingga malam, lagi-lagi semuanya di buntuti segala drama dan tragedi, siapa yang tidak lelah jika hampir setiap hari wanita di sampingnya itu terlihat sama sekali tidak bisa tidur?


Terbesit, ya..sebuah rasa bersalah. Tapi kembali lagi, memangnya apa yang harus di salahkan? Takdir? Kehendak Tuhan?


Setiap ujian pasti datang, dan pernikahan mereka yang baru saja terjalin setahun, perlahan memang akan menemui batu sandungan yang membuat mereka berdua bertengkar.


Tapi jika mengikuti hati untuk saling percaya, maka ujian itu pun akan bisa di lewati juga.


"Ak-"


"Tuan~ Saya memerlukan anda uuntuk bicara sekarang,"


Suara Arlsei dari luar itu langsung menarik segala perhatian milik Dhavin yang awalnya di peruntukan untuk Revina, jadi teralihkan pada permintaan Arlsei yang terdengar mendesak, hingga Dhavin terpaksa harus melepaskan pelukan hangatnya.


Karena Dhavin tidak mau membangunkan Revina, dia mencoba menggeser tangannya dari bawah kepala sedikit demi sedikit.


Tapi baru juga terlepas dari bawah kepala Revina dan Dhavin hendak beranjak pergi dari tempat tidur, tiba-tiba saja tangannya di raih oleh Revina.


"Jangan~" Kata Revina di dalam tidurnya.


Dhavin sungguh melihat tangan kirinya atau dua jarinya itu di pegang dengan tangan mungil Revina. Hanya dengan melihat perbandingan yang begitu terlihat itu, Dhavin tersenyum kecil.


Sebelum Dhavin pelan-pelan melepaskan cengkraman tangannya itu dari kedua jarinya.


________________


Arlsei kini ada di depan pintu kamar Tuan nya.


KLEK.


Hanya dengan bermodalkan handuk kimono yang membalut tubuhnya, Dhavin pun keluar dari kamar untuk menemui Arlsei yang baru saja mandi itu.


Terlihat rapi untuk ukuran pelayan sekaligus asisten pribadinya Dhavin. Padahal biasanya anak ini sama sekali tidak memakai parfum, tapi kali ini seperti ada sesuatu yang mendatangi pikiran Arlsei untuk berpenampilan lebih menarik?


"Apa akhirnya kamu mau pergi kencan?" Memindai penampilan Arlsei dari atas sampai bawah, cukup tampan sebagai anak buahnya, sampai Istrinya juga sering terpesona dengan penampilan laki-laki ini.


Memang usianya sama, tapi tetap saja Dhavin tidak akan menerima Revina untuk menyukai laki-laki lain selain dirinya.


"Apa anda benar-benar lupa?" Seperti biasanya, Arlsei tidak menunjukkan reaksi wajahnya, sekalipun Dhavin berteriak keras kepadanya, itu sama sekali tidak mempengaruhi Arlsei untuk takut atau apapun, karena semua perasaannya itu sudah terbuang bertahun-tahun yang lalu.


Dhavin menatap datar Arlsei, karena ia ingin mendengar kelanjutan kalimat yang terdengar mengambang tadi.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya kamu ingin katakan? Aku sampai meninggalkan Revina sendirian di dalam loh, padahal lagi-lagi hangatnya." Papar Dhavin tanpa tahu malu.


"Hangat untuk berbagi feromon ya?" Tanya balik Arlsei tanpa menatap lawan bicaranya lagi, karena ia sedang fokus untuk mencari sesuatu yang ia cari di tab yang ia bawa itu.


"Tentu saja, feromonku kan kuat, kalau aku tidak ada di sampingnya, dia akan segera bangun, dan pasti dia pindah tidur ke sofa lagi." Ungkap Dhavin.


Saat mendengar Tuan nya itu berbicara kalau Nyonya Revina tidurnya pindah tempat dari tempat tidur ke sofa, Arlsei tiba-tiba menghentikan pergerakan tangannya.


Ia berpikir sejenak sebelum dia akhirnya kembali beraktivitas pada tab miliknya, namun dia pun juga kembali di buat berbicara.


"Nyonya bisa seperti itu, karena efek samping dari Tuan yang selalu pergi di malam hari dan pulang di pagi hari.


Tentu saja Nyonya melakukan itu karena beliau merasa kesepian di atas tempat tidur yang besar tapi hanya di tinggali sendirian, maka dari itu, Nyonya memilih tempat kecil yang bisa di tiduri oleh Nyonya sendiri. Sebab dengan begitu, Nyonya akan merasa lebih nyaman seolah kembali pada saat sebelum Nyonya menikah dengan anda." Papar Arlsei.


"Aku tahu itu." Dhavin mengatakan itu dengan senyuman kecut. Dia tahu alasan di balik Revina selalu pindah setiap malam.


Tapi karena pekerjaannya itu memang lebih enak dominan di saat malam hari, maka dari itu Dhavin masih belum bisa meninggalkan kebiasaannya itu.


"Itu memang urusan untuk Tuan sendiri. Tapi anda juga punya urusan lain yang harus anda selesaikan. Yaitu tentang masalah ini," Arlsei memperlihatkan apa yang ada di dalam tab yang ia pegang itu ke depan wajah Tuan nya. "Sebaiknya anda selesaikan dulu itu, batas waktunya sampai siang hari,"


"Apa kamu baru saja memberiku perintah?"


"Bukan perintah, tapi memberitahu. Saya mengatakan ini juga bukankah di sore hari anda ada acara itu? Peringatan yang sudah anda tunggu-tunggu itu~" Ucap Arlsei.


Dhavin melihat gambar dari gedung miliknya yang kini sedang dalam kondisi perbaikan.


Karena kemarin Dhavin sadar kalau ia seharian bersenang-senang dengan mengajak kencan Revina pergi, maka sekarang jadwalnya untuk kembali ke rutinitasnya.


Terutama, mencari tahu siapa gerangan orang yang berhasil mengusik wilayahnya.


"Jadi itu alasanmu memakai pakaian rapi? Kamu mau melayani Revina sendirian?" Selidik Dhavin.


"Kan saya punya tangan emas." Memperlihatkan kedua tangannya sendiri, bahwa kedua tangannya itu mampu melakukan segala hal.


"............" Dhavin terdiam, karena ia sama sekali tidak mampu menyangkalnya, sebab tangan milik Arlsei adalah yang terbaik, maka dari itu Dhavin menempatkannya sebagai tangan kanannya, sebab anak yang lebih muda lima tahun itu adalah pemilik dari orang yang mampu mengerjakan segala hal.


Dhavin sendiri saja sebenarnya iri, karena kelemahan milik Dhavin, ia masih belum bisa memasak dan mendandani atau menata rambut Istirnya untuk jadi lebih cantik.


Tapi Arlsei mampu melakukan layaknya seorang stylist.


"Huhh~ Aku percayakan dia padamu." Pesan Dhavin kepada anak muda ini.


"Saya mengerti Tuan," Membungkuk hormat kepada Dhavin, sebelum Dhavin masuk kembali ke dalam kamar untuk mandi, dan berganti pakaian.

__ADS_1


__ADS_2