
“Hah…hah….hah…” Visco menyeringai, karena ia akhirnya mendapatkan kemenangan dari hasil usaha yang sudah ia kerahkan untuk memberikan wanita yang sedang kesepian ini sebuah kesenangan yang tidak akan pernah bisa terlupakan. ‘Padahal aku tidak melakukan banyak hal. Tapi dia benar-benar terangsang, betapa cabul nya tubuh Safina ini, benar-benar membuat semua pria yang melihatnya ikut terbawa naf*su juga.’
Tatap Visco terhadap seorang wanita yang sedang ia buat menjadi seorang wanita penggoda di atas tempat tidurnya yang berharga itu.
Walaupun sedikit kurang suka, karena tempat tidurnya jadi kotor sebab ulah Safina, tapi ia akan merelakan tempat tidurnya untuk malam ini saja.
“Hah…hah…hah,” Sama hal nya dengan Visco, Safina yang sudah mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya, akhirnya baru menyadari betapa susahnya ia untuk mendapatkan udara untuk mengisi paru-parunya setelah melepaskan semua tenaganya. Sehingga sekarang ini pun ia merasa tersengal-sengal.
“Hei ******* Safina, apa kamu menginginkan lagi?” Tanya Visco dengan nada yang menggoda.
Tapi meskipun Visco mengatakan hal itu kepada Safina, tapi tidak dengan pikirannya yang justru memikirkan hal lain yang lebih menarik perhatiannya. ‘Tapi-, dari pada Safina, aku sebenarnya yang membuatku penasaran itu adalah Revina.
Kira-kira seperti apa ekspresi wajah wanita itu jika sedang bermain di atas ranjang dengan seorang pria?’
Karena tiba-tiba saja Visco memikirkan Revina sebagai bahan pengalihan pikirannya tentang apa yang terjadi jika ia berhubungan badan dengan Revina, hal tersebut pun membuat Visco mendapatkan imajinasi bahwa wajah dari Safina bukan lagi Safina, tapi Revina.
Hanya dengan dasar imajinasi ca*ul yang dimiliki oleh Visco, Visco pun jadi buat tersenyum miring.
__ADS_1
___________
“D-Dhavin apa yang sedang kamu lakukan? Aku lelah dan ingin tidur, jangan ganggu aku dulu.” Pinta Revina terhadap pria yang kini ada di belakangnya persis.
Tepat setelah ia keluar dari kamar mandi, Revina justru langsung disambut oleh sosok pria yang ternyata bersembunyi di balik dinding, sehingga dalam begitu sigap Revina berhasil di tangkap dalam satu kali usaha saja, dan pelaku dari penangkapnya itu adalah Dhavin.
"Hehh~ Justru karena itulah, sebab kamu lelah aku akan membuatmu jadi tambah lelah dan jadi tidur lebih lelap dari pada biasanya." Goda Dhavin, merebut tangan Revina lebih dulu sebelum tangan Revina mencengkram tangannya Dhavin.
Dan kedua tangannya Revina yang hendak menutup miliknya, jadi sudah di tangkap oleh Dhavin dan Dhavin angkat ke atas.
"Tidak bisa, aku harus membuatmu jadi wanita yang hanya berpi-" Dhavin yang berhasil menyela ucapannya Revina, jadi separuh bicara, karena apa yang akan ia katakan sama sekali tidak bermanfaat untuknya, jika ia memberitahu Revina.
"Apa yang mau kamu katakan itu?" Tanya Revina, sangat penasaran dengan separuh kalimat yang sudah menghilang di telan kembali oleh Dhavin.
"Rahasia." Ledek Dhavin kepada Revina yang saat ini sedang mendongak ke atas.
Disebabkan perbedaan ketinggian dari mereka berdua, Davin yang bisa melihat wajah Revina dengan begitu mudahnya itu, langsung membuat Dhavin mendaratkan bibirnya di atas kening Revina.
__ADS_1
CUP.
Dan kecupan itu pun berlangsung cukup lama.
"Dhavin, mau seberapa lama aku seperti ini? Aku sudah lelah."
"Hanya sebatas ini." Dhavin melepaskan kecupan bibirnya di kening Revina, dan di saat itu juga Dhavin melepaskan cengkraman tangan kirinya dari tangan kanannya Revina, sehingga setelah hanya tersisa satu gandengan tangan yang masih berlangsung entah sampai kapan, Dhavin tiba-tiba menuntun tangan Revina kiri Revina yang masih Dhavin pegang itu dengan posisi berputar di atas kepalanya Revina.
Maka dari itu, Revina yang mengetahui maksud itu langsung membuat tubuhnya berputar layaknya menari, dan berakhir dengan sebuah pelukan.
BRUK.
"Istri pintar."
BLUSSHH...
Revina yang terdiam itu wajahnya jadi tersipu malu, gara-gara satu pujian yang datang mendatanginya.
__ADS_1