
"K-kamu Revina?" Saking terkejutnya, tanpa sadar Adel jadi bertanya.
Revina palsu, yang merupakan anak buah Dhavin yang sedang menyamar menjadi Revina, langsung bertanya balik. "Iya, aku Revina, kenapa tanya?"
Lalu di tengah-tengah akan adanya permbicaraan antara mereka berdua, tiba-tiba saja wanita yang berperan menjadi Revina ini dihubungi oleh Bos nya.
Revina palsu ynag dari awal memakai headset bluetooth itu pun langsung menerima panggilan dari Bos nya itu.
-"Ubah penampilanmu dengan pakaian yang lebih tertutup. Aku sudah menyuruh pelayang yang tadi kamu panggil itu untuk tidak sengaja menumpahkan minumannya ke arahmu. Setelah itu manager akan memberikanmu pakaian baru, pakai itu, dan jangan banyak komentar apapun."-
Tanpa banyak kata lagi, Dhavin memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
'Bos ini. Padahal aku sebentar lagi akan berperan jadi nyonya dengan kesan jal*a*ng sok berkuasa, kalau seperti ini kan aku harus merubah strategiku.' Pikir wanita yang berperan menajdi Revina palsu ini.
"Penampilanmu ternyata berubah total. Berarti kamu punya pekerjaan yang cukup penting ya?" Tanya Adel seraya memperhatikan penampilan Revina palsu itu. 'Apalagi semua yang di gunakan oleh dekil ini, ternyata barang branded semua. Kira-kira dia bekerja apa sampai punya penampilan seratus delapan puluh derajat dari yang dulu?'
"Semua orang pasti bisa berubah. Apa kamu berharap aku tidak berubah?" Tanya Revina palsu ini atas ucapan Adel barusan.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa asing saja dengan perubahanmu yang cukup mengejutkan." Balasny. 'Padahal di sekolah saja dia adalah murid bodoh, selalu mendapatkan peringka tdua puluh besar dari belakang ketimbang aku yang selalu dapat peringkat sepuluh besar. Aku harus mencari tahunya nh. Dia tidak boleh dibiarkan jadi pusat perhatian para pria. Lihat saja itu-'
Adel pun kembali melirik kearah pria yang saat ini ternyata masih saja memandangi Revina dengan ekspresi wajah yang seperti baru saja terkena hipnotis, karena terpesona dengan penampilan baru dari Revina yang terlihat seperti seorang artis, model, atau bahkan..
'Dia jadi terlihat seperti orang yang punya jabatan yang tinggi. Aku tidak suka ini, dia merebut apa yang aku punya, ya...dia merebut perhatian mereka terhadapku.' Pikir Adel.
"Asing? Hmm..padahal aku tidak melakukan banyak hal, aku hanya bekerja sebagai asisten biasa." Jawabnya.
"Asisten? Sudah berapa lama bekerja jadi asisten? Kelihatannya kehidupanmu seteha pindah ke negara ini jadi terlihat lebih baik, apalagi dengan semua yang kamu pakai saat ini. Itu cukup membuktikan kalau kamu bukan sekedar asisten biasa."
__ADS_1
"Aku sudah paling, baru tiga tahun. Dan aku cuman asisten biasa kok, aku hanya suka mengheat uangku, makannya aku bisa beli apa yang ingin aku beli." Jelasnya.
"Tiga tahun? Itu lama loh." Sela temannya Adel, yang duduk di sampingnya persis.
"Eh, begitu ya?" Ucap Revina palsu ini, seakan jadi orang bodoh karena tidak sadar kalaupekerjaannya sebagai anak buah Bos Dhavin Calvaro ternyata di mata orang lain sudah begitu lama.
'Bagaimana sih dia ini? Bekerja jadi asisten selama tiga tahun itu termasuk lama, dengan kata lain dia sudah memiliki kepercayaan penuh dari Bos nya. Aku jadi penasaran siapa Bos nya ini.' Batin Adel lagi, tidak henti-hentinya mencoba mengorek informasi dari teman SMP nya itu.
Ya..
Adel memang mengira kalau wanita yang ada di depannya adalah Revina yang dia kenal, padahal sebenarnya bukan.
'Apalagi melihat dia pakai semua barang berkualitas itu, artinya gajinya cukup besar. Karena untuk membeli jam tangan itu saja, harga yang harus di bayar adalah tiga puluh jutaan, belum lagi anting, pakaiannya, mantel, tas, handphone nya juga! AH...Jangan-jangan dia bekerja selama tiga tahun ini, juga membuat dia sudah punya tempat tinggal sendiri di negara ini? Apa ini? Dia benar-benar berbeda dengan ekspetasiku. Dia jadi lebih bersinar ketimbang dulu.' Cemas Adel, kalau Revina yang ada di depannya itu, makin lama bisa melampaui apa yang Adel punya.
"Jika kamu beerja jadi asisten, berarti kamu punya Bos yang cukup mempercayaimu ya?" Tanya wanita di sampingnya Revina palsu, mewakili Adel yang sedang dilanda kegelisahan.
BYUR..
"Ah...!" Revina ini langsung berdiri setelah pakaiannya basah akibat tersiram jus yang di pesannya itu.
"M-maaf Nona, saya akan ambilkan handuk."
"Maf saja juga tidak cukup juga kali. Aku harus bagaimana? Masa pakai pakaian basah seperti ini?" Protesnya.
Padahal drama untuk mengganti pakaiannya baru saja berlangsung, tepat ketika pelayan itu berhasil membuat baju yang dipakai Revina jadi basah.
"Aku punya pakaian ganti di dalam mobilkum aku bisa meminjamkannya kepadamu." Kata Adel secara tiba-tiba, menawarkan pakaiannya sendiri kepada Revina?
__ADS_1
'Aku tahu niatmu itu, dasar licik.' Detik hati Revina palsu ini. "Ak-"
Belum juga menjawab ucapannya Adel, Revina ini langsung di datangi oleh seorang wanita lain, yang sama-sama memiliki penampilan yang cukup menarik perhatian kalangan pria, tentunya. Karena sekalipun umur dari wanita di depannya itu sebenarnya sudah menginjak tiga puluh tahunan, tapi wajah dan kulit yang dimilikinya itu cukuplah awet muda, seakan masih wanita yang baru saja menginjak umur dua puluh tahunan.
"Maaf menyela, saya sebagai manager dari tempat ini akan bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakuan oleh salah satu karyawan saya. Jika berkenan, saya akan mengganti pakaian anda yang basah itu." Jelasnya.
Mendengar hal itu, Revina ini melirik ke arah Adel. "Adel, terima kasih tawarannya, tapi kelihatannya pakaianmu itu tidak akan muat padaku." Sindirnya, lalu Revina yang ini pun pergi mengikuti manager tersebut, meninggalkan Adel yang terlihat sedang menahan amarahnya.
"Pfft...benar juga, niatnya memang baik, tapi juga harus lihat kondisinya sendiri, pakaiannya itu pas atau tidak dengan tubuh temannya itu." Satu sindiran lagi akhirnya muncul.
"Hahaha...tapi aku rasa jika wanita itu memakai pakaiannya dia, pasti bisa lebih seksi, ya kan?"
"Ada benarnya juga sih, tapi siapa juga yang mau pakai pakaian yang sesak. Melihatnya saja jadi ikut berasa sesak juga."
Satu persatu kalimat pujian itu akhirnya berdamping dengan sebuah sindiran.
Jika pujian itu tertuju untuk Revina, tentu saja sindiran itu untuk Adel yang salah dalam mengambil tindakan.
Memang, tindakannya itu benar dan terkesan seperti teman yang perhatian karena mau meminjamkan pakaiannya untuk Revina, namun yang salah itu adalah Adel salah memberikan kebaikan hatinya kepada Revina.
Sebab penampilan dari tubuh wanita yang menyamar menjadi Revina adalah wanita pemilik tubuh yang cukup berisi, maka hal itu pun di jadikan bahan acuan kalau pakaian dari Adel yang terlihat biasa saja itu, tidak akan muat kepadanya.
'Sialan, aku seharusnya tidak mengatakan itu, kalau seperti ini, aku benar-benar kehilangan muka?' Adel tentu saja geram, tangannya sduah mengepal erat karena akhirnya dia menjadi bahan perbincangan hangat untuk semua orang yang ada di sana.
Adel sampai mendelik tajam kearah orang yang barsan mencibirnya.
Dia benar-benar tidak puas hati dengan apa yang dikatakan oleh mereka. 'Aku sudah mengingat wajah kalian, awas saja. Kalian akan kena akibatnya setelah menertawaiku.' Benak hati Adel paling dalam.
__ADS_1