
"Hoamhh...." Setelah nyaman dengan tidur nyenyaknya, Revina membuka matanya sambil menguap lebar, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, lalu dengan kondisi setengah sadar, Revina beranjak dari tempat tidurnya untuk pergi ke kamar mandi.
KLEK...
Revina terus berjalan masuk dan duduk di atas closet. "Hoammhh..."
Masih merasakan kantuk yang luar biasa, tapi karena perut sudah merasa tidak nyaman, maka dengan mata terpejam itu, Revina menaikkan rok miliknya, dan menurunkan celananya sampai ke bawah.
"..........." Dan Dhavin yang beberapa saat tadi sedang memejamkan matanya, di tengah-tengah tubuhnya sedang berendam di dalam air hangat, dia jadi tidak sengaja di buat terbangun setelah mendengar seseorang yang sedang menguap.
Maka dari itu, setelah membuka kelopak matanya, Dhavin pun menoleh ke arah sumber dari suara tadi, yang rupanya sosoknya itu sedang duduk di atas kloset dengan mata terpejam.
"Hmm..."
'Inilah yang membuatku sengaja tidak mengunci pintunya.' Seringai Dhavin, bisa melihat penampilan buruk dari Istrinya yang duduk bersandar dengan wajah lelah dan mata kantuk terlihat sudah memejamkan matanya.
Di tengah kebosanannya itu, Dhavin pun jadi dapat tontonan yang cukup menarik itu.
Dhavin yang masih saja berendam itu, mengintip di balik tirai, dan menonton Istrinya itu.
'Tapi pose dia duduk ini-' Dhavin mengerutkan keningnya, sebab tiba-tiba saja teringat dengan kenangannya bersama Revina.
_____________
Flashback On.
"Dha-"
CUP...
Di dalam kamar mandi yang masih diselimuti kabut putih, dua orang yang dari sepasang penantin baru ini mulai mengawali awal panas mereka di dalam kamar mandi.
ZRASSHH.....
Air shower yang terus menyala, itu menjadi penyamar aan suara yang akan mereka berdua buat.
__ADS_1
"Apa sekarang waktunya mencoba disini?" Goda Dhavin seraya tangan kananya mengusap lembut punggung polos dari wanita yang baru dinikahinya itu.
Mendengar perkataan Dhavin yang sedang menggodanya, membuat Revina langsung memperlihatkan telinganya yang sudah merah padam layaknya kepiting rebus.
Melihat hal tersebut, justru memancing Dhavin jadi menginginkan lebih dari sebuah kecupan saja.
Dengan penampilan mereka berdua yang sudah tidak memakai busana, maka dengan niat besar yang sudah dimiliki oleh Dhavin untuk kembali menyenangkan istrinya lagi dan lagi, dia pun memulai penampilan pertamanya dengan membopong Revina ke atas meja marmer.
Disanalah Dhavin jadi mudah melihat entah itu bagian depan maupun bagian belakang milik Revina, karena saat ini Dhavin bisa melihat seluruh sisi dari tubuh Revina tanpa terkecuali dengan apa yang ada di bawah sana. Sesuatu yang membuat Dhavin selalu dilanda rasa penasaran, karena dengan posisinya itu, maka dia bisa mencoba menghilangkan segala keinginannya menjadi kenyataan.
"Iya, kelihatannya akan menyenangkan juga, bisa melakukannya disini." Jawab Revina, dengan wajah malu-malunya.
Dhavin pun mengulas senyuman tipisnya, lalu meraih belakang kepala Revina untuk dia dekatkan dengan wajahnya, sehingga membuat mereka berdua kembali berc*i*uman.
"Ehmh..."
Dan di tengah-tengah Dhavin mulai menautkan bibir mereka berdua di saat itu pula Dhavin juga menyempatkan dirinya untuk membelai apa yang ada di pangkal paha milik Revia ini dengan timunnya.
Siapa yang akan makan dan dimakan, maka disinilan penentuan dari adu kekuatan milik mereka berdua, dalam balutan yang cukup menggairahkan dengan sejuta surga yang bisa mereka dapatkan berkali-kali.
"Jangan tanya itu." Ketus Revina. "Jika memang sempit, masukan saja." Imbuhnya.
Dhavin jadi tersenyum senang, "mulutmulah yang semakin berani ini, yang membuatku suka. Buka kakimu lebih lebar." ucap Dhavin, semakin membuat mereka berdua tidak tahan untuk mendapatkan perhargaan yang bisa diraih oleh mereka berdua.
Maka Revina pun sedikit mundur ke belakang, dan menaikkan kedua kakinya, hingga kedua kaki itu sendiri juga ada di atas meja berbahan batu marmer yang cukup mengkilap.
"Nah seperti itu. Kalau seperti itu, maka aku bisa memasukkannya dengan mud-ah." Ucap Dhavin, setelah jari timun miliknya perlahan masuk kedalam dunia surga milik Istrinya itu.
Dan lenguhan dari mereka berdua jadi terdengar cukup jelas, setelah masing-masing mendapatkan sensasi yang mereka berdua nantikan dengan suara..
"Ah~ D-dhavin, itu...kenapa milikmu terasa semakin besar...saja?" Tanya Revina, seraya memeluk Dhavin dengan cukup erat, hingga kedua kakinya juga dia lingkarkan di pinggang Dhavin, agar mereka berdua semakin menyatu.
"Mungkin karena keinginan nakalmu yang memintaku secara terang-terangan lah, makannya jadi semakin besar." Jawab Dhavin seraya mengecup ujung dari bakpau putih mungil namun cukup imut itu.
"Anghh~" De*sahan itu kembali muncul, sampai...
__ADS_1
______
Flashback Off.
"Hahh~ Kenapa aku tiba-tiba jadi ingat dengan yang waktu itu?" Lirih Dhavin. Hanya saja ketika melihat Revina saat ini benar-benar duduk dalam kondisi tiduran seperti itu, dan apatah lagi melihat roti tawar yang ternyata selalu Revina pakai selalu saja mengeluarkan darah merah, jujur terbesit rasa bersalah lagi.
Dhavin pun jadi menyadari kalau Pria memang suka dengan enaknya saja, sedangkan wanita akan mendapatkan imbas yang tidak akan terhitung jumlahnya jika sudah berhubungan badan, hamil, lalu melahirkan.
Tidak masalah jika sudah menikah, tapi bagaimana jika hubungan itu tidak berakhir dengan sebuah pernikahan?
Apa jadinya?
Dhavin pun jadi punya satu pikiran, bagaimana jika waktu pertama kali Dhavin merebut kesuciannya Revina, Revina justru menolaknya?
'Tidak-tidak...jangan berpikiran seperti itu. Itu sudah berlalu, dan sekarang dia sudah jadi milikku sampai aku mendapatkan dua orang anak, itu juga sudah merupakan pencapaian terbesarku sebagai pria yang bertanggung jawab.' Pikir Dhavin dengan cukup keras.
"Oh, sudah pulang?" Suara itu berhasil membuyarkan semua pikiran Dhavin saat itu juga.
"Hmm..."Dhavin meletakkan tangan kanannya di tepi Bathtup, dan meletakkan kepalanya di atas tumpukan tangan itu sambil menatap Revina yang masih saja santai padahal sedang di tatap oleh Dhavin. "Maafkan aku."
"......" Revina hanya diam.
'Kelihatannya dia masih marah kepadaku.' Pikir Dhavin saat itu,
"Maaf untuk apa?" Akhirnya Revina bertanya juga setelah keterdiamannya. Tapi tidak seperti seharusnya, jika berbicara maka harus menatap lawan bicaranya, maka tida kdengan ini. Revina masih bersadar ke belakang dan memejamkan matanya.
Mau Dhavin sedang menatap antara dirinya atau sedang menatap hal lain miliknya, Revina tidak peduli lagi dengan itu, karena dia memang harus terbiasa dengan semua itu, semua tentang Dhavin yang kenyataannya memang orang mesum, dan memiliki segudang has*at yang ingin terus di lampiaskan kepadanya.
Itulah kesan Revina ketika menyimak segala perbuatan dari pria yang sedang berendam itu.
"Tidak jadi." Dhavin pun menarik kembali kepalanya dan kembali menutup tirainya.
Jawaban tidak jadi itu, juga membuat Revina jadi terpancing juga untuk membuka matanya dan memperhatikan Dhavin yang ada di balik tirai itu.
'Aku kira dia akan membahas yang tadi pagi. Jaid dia memang masih marah, sampai minta maaf saja tidak ikhlas begitu.
__ADS_1
Jika merasa bersalah, maka minta maaf yang benar, bukannya menambah rasa kesalku.' Gerutu Revina di dalam hatinya.