
Dengan kemunculan Dhavin yang berhasil menyita perhatian juga, setelah Adel juga Liana, maka tidak lama setelah itu tokoh utama dari acara yang di adakan untuk pertama kalinya bagi pria ini, sukses untuk meraih kembali kesadaran mereka untuk bertepuk tangan pada Visco yang kini sedang turun sambil di temani Safina, seagai wanita pendampingnya malam ini.
PROK...PROK....PROK.....
"Ternyata itu Tuan Visco. Aku baru tahu ternyata dia juga terlihat muda dari umurnya yang baru saja menginjak umur tiga puluh tahunan itu." Kata wanita ini.
"Iya ya . Aku juga sangat tidak menyangka kalau yang mengadakan acara ulang tahun ini benar-benar Tuan Visco." sambungnya.
"Tapi kira-kira siapa wanita yang ada di sampingnya Tuan Visco?"
"Mungkin saja kekasihnya. Biasa, jika orang kaya, pasti akan punya kekasih yang setara dengan derajatya juga."
".........." Dhavin yang mendengar hal itu, hanya meliriknya sekilas. 'Setara? Kenapa yang kaya harus punya kekasih setara juga? Memangnya yang seperti itu harus di dasari dari tuntuan?' Pikirnya. 'Padahal orang yang punya pikiran seperti itu, hubungannya pasti tidak kan berujunng harmonis juga.' Tatap Dhavin kepada semua seluruh tamu undangan.
Tidak seperti dirinya yang mencari cinta berdasarkan hati, maka semua orang yang ada di sini kebanyakan adalah orang yang menganggap cinta itu adahal satu urusan yang berbeda, dan mementingkan ke materialistik lebih dulu ketimbang hati.
Itulah kenapa banyak beranggapan kalau yang kaya raya harus berpasangan yang kaya raya juga, sebab semua itu di dasar oleh unsur derajat.
Namun saat ini, terlepas dari itu semua, Dhavin tiba-tiba saja memicingkan matanya ke aah satu oranng wanita yang kini tengah merangkul Visco tepat di hadapan banyak orang, yaitu Safina.
Seorang wanita yang awalnya adalah kekasih Dhavin, sekarang sudah berstatus sebagai mantan Dhavin.
'Dia kembali lagi? Apa lagi yang akan kali ini dia lakukan?' Tatapnya.
'Dhavin? Dia ternyata tidak berubah. Akhirnya kita bisa bertemu lagi.' Benak hati Safina, melihat Dhavin juga menatap ke arahnya. Meskipun terlihat menatapnya seperti seorang tatapan yang baru saja mengenali musuhnya, Safina tidka begitu mempermasalahkannya.
Dan sekalipun saat ini pasangannya adalah Visco, tapi pandangannya Safina benar-benar tetap tidak teralihkan dari sosok Dhavin yang cukup menarik perhatian banyak orang, melihat sekalipun saat ini pria itu ada di tengah-tengah kerumunan banyak wanita, karena Dhavin punya tubuh yang tinggi, maka pria itu pun masih tetap terlihat cukup mencolok.
"Tuan Visco, siapa wanita cantik yang ada di samping anda ini?" Tanya rekan bisnis Visco, sebab dia memang untuk pertama kalinya melihat Visco bisa bersama dengan seorang wanita.
"Apakah dia kekasih anda?" Tanya orang yang lainnya.
Visco melirik ke arah Safina yang hanya diam, karena terus terpaku pada pria lain. "Bukan, dia adalah teman pendamping untuk malam ini saja."
"Tapi kalau di jadikan kekasih, cocok juga."
"Cantik, tinggi, pasangan anda ini juga terlihat seorang yang pintar. Kenapa hanya di jadikan teman saja? Seharusnya yang aseperti ini cukup cocok untuk selera anda, ya kan?"
__ADS_1
Safina yang akhirnya mendengar bumbu pujian yang cukup familiar, lantas membuat Safina mau mengalihkan pandangannya dari Dhavin, ke arah pria ini.
"Anda bisa saj, Tuan LIam?" Jawab Safina, sebab pria yang baru saja memberikan pujian itu adalah temann kampusnya, dulu.
"Kamu bisa mengoborl dengan mereka." Kata Visco, melepaskan rangkulan tangan Safina dan memberikan Safina waktu untuk mengobrol dengan orang lain, apalagi setelah melihat adanya teman yang bisa di ajak mengobrol, maka Visco tentu saja memberikan waktu untuk Safina ini.
"Oh, terima kasih."
"Hm..."
CUP.
Dengan cukup mesra, sebelum di tinggal, tentu saja Visco memberikan kecupan ringan di pipi Safina, yang lantas membuat banyak orang antara iri juga terpegun, karena Tuan Visco yang mereka kenal itu bisa memperlihatkan kemesraan di depan mereka dengan caranya sendiri.
'Kenapa dia tiba-tiba menciumku?' Pikir Safina, tidak pernah terlintas di dalam kepalanya akan menciumnya di depat banyak orang seperti ini.
Dan seelah di tinggal pergi oleh Visco, tentu saja Safina segera di kerumuni oleh para laki-laki.
Akan tetapi, Liam yang merupakan kenalan Safina sendrii, maka Liam pun dengan cepat kilat segera membawanya pergi dari sana sebelum di bawa pergi oleh orang lain.
"...." Dhavin hanya melihat kepergian Safina yang sedang di bawa oleh seoran pria.
Sama hal nya dengan orang-orang yang akan langsung tertarik dengan orang yang berhasil menarik perhatiannya, maka Adel pun saa.
Dia sangat ingin berkenalan langsung dengan pria di depan sana. Namun karena saat ini pria tersebut sedang di keliligi banyak wanita, tentu saja Adel malas untuk berhimpitan dengan mereka semua.
'Sebenarnya siapa pria itu? Saat di belakang rasanya punggung itu cukup familiar.'
Kerena kebetulan Adel melihat ada seorang pelayan yang hendak mengambil gelas dan beberapa piring kosong yang sudah tidak di pakai lagi karena kotor, Adel pun langsung mencegarnya dengan tangan langsung mencengrkam tangan dari pelayan itu.
"Apa kamu tahu siapa pria yang ada di depan sana itu?" Tangan kirinya menunjuk ke arah depan sana, tentunya dia menunjuk ke arah Dhavin.
Lalu pelayan wanita berkacamata ini pun menoleh ke arah samping kanan, dan akhirnya melihat ke arah seorang yang sedang di tunjuk oleh Adel ini. "Beliau adalha Tuan Dhavin, dari keluarga Calvaro."
"Calvaro?" Adel seketika berminat untuk menatap lawan bicaranya yang sebenarnya adalah Vinella.
Vinella yang sadar kalau Adel sedang menatapnya dengan tuntutan agar bisa berbicara lebih dari sekdar nama untuk Bos nya sendiri itu, terpaksa membuat alasan lain.
__ADS_1
"Maaf, jika anda bermaksud bertanya lebih kepada saya, saya tidak mampu untuk menjawabnya, karena saya hanya di beritahu semua nama tamu undangan yang harus kami layani dengan baik, jadi tidak begitu tahu tentang latar belakang semua orang di sini." Jelas Vinella kepada Adel yang rupanya berhasil di tipu lagi dengan penyamaran yang Vinella lakukan.
Banyak orang akan tertipu, karena Vinella bukanlah seorang yang hanya kan menyamar dengan cara biasa, dia akan menggunakan topeng silikon untuk memberikan kesan dari wajah yang cukup berbeda, tentunya.
Itulah, salah satu keuntungan terbesarnya.
"Begitu ya? Pekerjaan pelayan memang seharusnya seperti itu. Tapi setidaknya aku sudah tahu namanya." Kata Adel. Tiba-tiba Adel membuka dimpetnya dan berkata lagi : "Ini tip dariku karena kamu memberikanku jawaban yang cukup lumayan." Ujar Adel seraya memasukkan dua lembaruang kertas dengan nominal besar yang langsung di masukkan keadlam saku dari pakaian pelayan yang Vinella gunakan.
"Terima kasih Nona." Terpaksa memberikan rasa terimas kasih penuh hormat pada musuhnya sendiri.
"Hmm, jadi cepat bereskan meja yang kotor ini." Perintah Adel ketika itu juga.
Vinella pun buru-buru mengambil semua gelas dan piring kotor itu rai meja, lalu segera pergi dari sana.
Setelah sekiranya cukup jauh, Vinella pun berbalik dan menatap seorang pria yang merupakan Bos besarnya.
'Bos. Anda itu seharusnya menyimpan feromon anda lebih dulu, jika mau lekuar. Lihat, anda saat ini jadi di kerumuni lalat yang menjijikan. Bagaimana jadinya jka Nyonya tahu tentang anda yang di kerumuni banyak wanita?
Bisa-bisa antara Nyonya sedih atau ngamuk, pasti di antara dua itu.
Hanya saja, kenapa aku benar-benar jadi pelayan rendahan seperti ini?! Lalu aku juga di beri uang oleh wanita yang kemarin malam aku permalukan.
Pekerjaan macam apa ini? Kenapa aku dari anak buah eksklusif milik Bos, justru anjlok jadi seorang pelayan?!' Pikir Vinella, merasa menyesal karena ingin minta di belikan mobil oleh Bos nya, hanya karena berhasil mempermainkan Adel hanya untuk satu malam saja.
Sampai keberadaannya itu langsung di tegur oleh pelayan yang lainnya. "Hei, kenapa kamu berhenti di tengah jalan? Jangan halangi orang di sini. Cepat pergi lanjutkan pekerjaanmu"
"M-maaf!" Venille pun buru-buru melanjutkan tujuannya unutk mengantarkan semua piring dan gelas kotor yang dia dapatkan itu ke dapur.
"Dasar, pelayan baru. Pasti pekerjaannya selalu saja tidak becus seperti itu." Gerutu pelayan ini, merasa kesal dengan pekerjaan hari ini yang terasa menumpuk.
"Tuan Dhavin, apakah anda sudah punya kekasih?"
"Iya Tuan, apakah anda sudah punya calon pendamping?"
"Hm..Tuan kan tampan, pasti banyak yang mengantri untuk anda ya?"
Melihat satu demi satu wanita menanyakan hal pribadi kepada Dhavin, pelayan ini hanya menggerutu. 'Orang kaya seperti dia memang cukup enak. Berdiri saja bisa menarik perhatian semua wanita.' Batinnya, merasa iri dengan sosok Dhavin yang mampu menyita perhatian banyak orang dalam sekali tatap.
__ADS_1