Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
59 : DBMJCP : Pilihan


__ADS_3

'Sialan, kenapa wanita ini bisa tahu? Padahal aku sama sekali belum mengeluarkan barangku. Tapi kenapa? Apakah dia punya hubungan dengan pria bernama Dhavin itu? Tapi bukannya dia datang bersama dengan Tuan Visco? Hanya saja kenapa tatapan matanya itu seperti seorang yang sedang menjaga miliknya?' Adel yang di berikan tatapan yang cukup dingin dari Safina, lantas membuat Adel jadi gugup sendiri.


PROKK...PROK...PROK.....


Tepuk tangan yang tiba-tiba datang dan memeriahkan acara malam yang akan menjadi malam yang panjang untuk mereka semua yang hadir di pesta, menyambut prestasi dari Visco yang berhasil memasukkan kedua bola sekaligus dalam sekali sentakan.


"Tuan Visco memang hebat. Hanya sekali tembakan seperti itu, Taun Visco berhasil memasukkan kedua bola sekaligus."


"Kamu benar. Aku jadi tidak sabar kira-kira siapa yang akan menang dan mendapatkan ciuman dari mereka berdua?"


Semua wanita yang hadir di sana pun saling menunggu, untuk melihat siapakah yang akan menjadi pemenang dari permainan Billiard itu.


Karena yang di pertaruhkan adalah bibir seksi dari dua orang yang punya puluhan juta pesona yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata biasa lagi.


"Sekarang giliranmu." Tunjuk Visco kepada Dhavin agar bergilir untuk bermain Billiard, dimana sekarang di atas meja tersebut tinggal enam buah bola lagi yang harus di masukkan.


"Wow...itu jaraknya lumayan susah." Tunjuk wanita ini melihat posisi bola berwarna putih benar-benar ada di samping persis tepi meja, sedangkan ke enam bola yang tersisa tersebar dengan posisi yang sedikit berjauhan.


"Ini sangat mendebarkan, kira-kira apakah Tuan Dhavin mampu menyapu bersih semua bola itu?" Harap wanita ini.


"Jangan berkhayal, Tuan Visco lah yang menang." Mencoba menolak pernyataan dari wanita tadi.


Entah siapa yang menang ataupun kalah, sebenarnya mereka semua sangat menikmati bisa melihat permaianan dari Billiard ini, sebab untuk bermain permaianan yang susah ini, butuh kemampuan selain hanya menyentak bola putih saja.


Seperti saat ini saja, Dhavin alias Freddy terlihat bingung dengan posisinya sendiri untuk membuat kemenangan?


"E-eh..? Tuan Dhavin, duduk di tepi meja?!"


"Wow..itu gaya paling keren!" Pujinya lagi.


Freddy dengan kemampuan yang di milikinya itu, dia pun duduk di samping persis dari bola yang saat ini letaknya kebetulan memang berada persis ada di tepi meja.


Dhavin duduk di tepi meja, setelah itu ketika tangan kananya saat ini sedang memegang tongkat dengan sudut tujuh puluh lima derajat, maka tangan kirinya itu, tepatnya jari telunjuknya itu dia gunakan sebagai menahan posisi ujung dari tongkatnya.


Setelah di rasa sudutnya aman, dengan santainya, Freddy langsung menyentak bola itu.


CTAK..

__ADS_1


Bola putih itu menggelinding ke arah samping kanan dan mendorong bola berwarna merah dengan kecepatan standar, dan..


"Wow..! Itu hebat!"


"Benar, itu sangat hebat. Aku sangat takjub dengan cara Tuan Dhavin bermain."


Satu ersatu pujian demi pujian mendarat di permukaan wajah Freddy yang berhasil membawa tiga bola masuk dalam lubang.


Dan sayangnya untuk bola yang ke empat, Freddy tidak bisa memasukkannya.


"Giliranku ya? Jika aku isa menyapu bersih tiga bola ini, artinya kamu kalah. Dan seperti yang di pertaruhkan tadi, yang kalah akan menjalani sebuah hukuman." Kata Visco memberitahu kembali taruhanamacam apa yang sudah disepakati oleh mereka berdua.


Visco berjalan menghampiri Freddy, karena disanalah posisi bola putih nya berada.


Tanpa banyak membuang waktu lagi, Visco menyentak bola itu, dan dalam kurun waktu kurang dari dua menit itu..


"Tuann Visci menang."


PRROK...PROK...PROK....


"Nah Dhavin, bagaimana? Aku menang dan kamu kalah." Visco sengaja duduk di tepi meja billiard, meletakkan togkatnya ke atas meja, lalu menanyai seseorang yang baru saja mendapatkan kekalahan. "Bukannya ini artinya kamu harus menunjukkan kami semua sebuah ciuman yang di agung-agungkan oleh semua wanita disini?" Ucap Visco seraya merentangkan kedua tangannya, untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa Dhavin, akan melakukan aksinya dalam sebuah ciuman.


TAK...


Suara dari cara Freddy meletakkan tongkat Billiard miliknya yang terbilang cukup keras itu berhasil membuat suasana di sana jadi hening.


"Apa? Apakah kamu marah karena kamu ternyata bisa kalah dariku?" Sindir Visco.


Freddy hanya diam untuk mendengar apalagi ocehan yang akan keluar dari mulutnya Visco ini.


"Aku hanya tinggal mencium salah satu diantara mereka semua kan?" Tanya Freddy sambil menunjukkan jari jempol nya ke belakang.


"Ya, kamu punya kebebasan untuk mencium salah satu wanita di sini." Jawab Visco, memberikan kelonggaran untuk Dhavin, agar bisa memilih wanitanya sendiri yang akan di jadikan bahan untuk mencoba bibir dari seorang wanita. 'Ayo, padahal kamu di rumah punya Istri, tapi kamu akan berciuman dengan wanita lain di sini. Kira-kira reaksi Istrimu nanti akan seperti apa ya?'


Sedangkan di lantai dua, Safina langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan turun.


'Eh. Dia langsung pergi begitu saja? Dia mau kemana?' Adel pun terus memperhatikan Safina yang tiba-tiba beranjak dari kursinya.

__ADS_1


'Apa-apaan Visco ini, kenapa dia memberikan Dhavin pilihannya sendiri?' Safina tentu saja tidak terima dengan permainannya Visco yang berakhir dengan Dhavin di haruskan mencium salah satu wanita di dalam ballroom ini, padahal di sini, Safina sendiri juga mengharapkannya.


Akan tetapi, mengingat kejadian yang terakhir kali, Safina pun sadar kalau dirinya hanya memiliki kesempatan yang cukup tipis untuk mendapatkan ciuman dari Dhavin yang sudah sangat lama sekali Safina inginkan.


Karena itu, demi mencegah Freddy yang Safina anggap itu adalah Dhavin mencium bibir wanita lain, maka dengan berani Safina pun akan mengangkat dirinya untuk menjadi pelaku merebut ciumannya.


"Hahh~" Freddy pun menghela nafas dengan kasar.


Dia harus memilih seorang wanita yang dia anggap cocok.


Oleh sebab itu, Freddy pun menoleh ke belakang, lalu di saat menemukan seorang wanita yang cukup manjur untuk dia gunakan sebagai tontonan, maka Freddy pun berjalan menghampiri wanita itu.


'A-apa?! Jangan-jangan benar, kalau Dhavin dan wanita itu memang ada hubungannya?' Adel langsung terkesiap melihat Freddy yang sedang menyamar menjadi Freddy itu kini sedang berjalan menuju Safina yang sama-sama sedang berjalan menuju ke arah Freddy.


Freddy terus berjalan ke depan, dan membuat jalan yang awalnya tertutup oleh sekumpulan wanita, tiba-tiba mundur dan memberikan Freddy akses untuk pergi ke tempat yang Freddy inginkan itu.


Hingga Safina dan Freddy pun akhirnya di pertemukan dalam satu arah berlawanan dari jalan yang sama.


'Dhavin? Dia ternyata berjalan ke arahku juga? Ada apa ini?' Sampai Safina sendiri terkejut dengan pria yang hendak dia hampiri itu ternyata juga sama-sama sedang menghampirinya.


"Ketemu juga kamu." Ucap Freddy dengan seringaian tipisnya.


'Apa?' Safina terkejut dengan ucapannya itu, karena seolah Freddy yang Safina anggap Dhavin itu memang sudah menunggunya dari tadi.


Karena itulah, Safina yang akhirnya punya harapan besar terhadap kedatangan Dhavin palsu kearahnya, tiba-tiba berjalan semakin cepat dengan senyuman cantiknya.


"Dhavin, ka-" Sayangnya, ketika Safina akan saling berpelukan dan membuat sebuah kenangan dengan sebuah ciuman itu, berakhir setelah Dhavin palsu itu beralih arah ke arah kanan dan ketika Safina menoleh ke belakang, rupanya Dahvin palsu itu justru berjalan ke arah seorang pelayan yang sedang memeluk sebuah botol wine di depan dadanya.


"Aku menemukan wanita yang tepat." Kata Freddy seelah dia berhasil mencengkram bahu seorang pelayan yang tidak lain adalah Vinella.


"Apa?" Vinella yang merasa familiar dengan suara itu tentu saja langsung di buat menoleh ke belakang, dan saat itu juga, kalimat yang hendak terucap itu langsung Vinella telan kembali saat sebuah ciuman langsung mendarat di bibirnya. "Mphh..?"


Vinella pun berekspresi terkejut dengan isi kepala yang langsung kosong, karena dia mendapatkan sebuah hadiah dari Bos nya?


Saking menikmatinya, Freddy pun perlahan menelusupkan lidahnya kedalam rongga mulut Vinella.


'Ciuman ini?!' Vinella langsung sadar siapa yang sedang mencium dirinya itu. 'Freddy?!'

__ADS_1


__ADS_2