
Menghiraukan apa yang dikatakan oleh Dhavin, Revina kembali menanyakan hal yang sama.
"Sebenarnya sejak kapan kamu pulang? Aku pikir belum sepuluh menit, tapi-"
"Pulang dari mana? Aku sama sekali tidak pergi, apalagi meninggalkanmu malam-malam seperti ini? Itu tidak mungkin terjadi, Revina." Jawab DHavin.
"Tapi bukannya kamu seharusnya pergi ke pesta?" Tanyanya lagi.
DEG!
Dhavin segera mnejeling ke arah Arlse, Dhavin mneebak kalau Arlsei yang memberitahu soal undangan pesta kepada Revina.
Tapi apa jawaban Arlsei? Arlsei hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu.
Ya..dia sendiri sama sekali tidak memberitahu apappun soal pesta yang harus di hadiri oleh Dhavin itu, sekaligus Arlsei sendiri pun sebenarnya juga tidak tahu dari mana Revina bisa tahu kemana tujuan dari Dhavin pergi.
"Tidak jadi." Dhavin tentu saja langsung memberikan sebuah alasan yag cukup romantis detik itu juga. "Aku tidak jadi pergi, karena aku merasa dari pada pergi ke pesta yang membosankan itu, rasanya akan lebih seru jika berduaan denganmu."
"Begitu ya? Padahal setiap malam saja kamu selalu meninggalkanku, kenapa jadi tiba-tiba?" Tanyanya lagi, membuat Dhavin sontak langsung merasa terpojok dengan pertanyaan dari Istrinya ini.
"Kan jadwal kerjaku adalah malam hari." Jawaban yang memang bisa di terima, tapi...
"Kalau begitu apa pekerjaanmu? Selama ini aku tidak tahu pekerjaanmu, jaid aku ingin kamu sekarang memberitahuku pekerjaanmu itu."
Revina pun akhirnya mau mengungkapkan apa yang disimpannya selama ini.
__ADS_1
"Ayo, katakan apa pekerjaanmu itu kepadaku jika kamu memang mencitaiku, bukannya seharusnya kamu tidak menyembunyikannya begitu lama dariku? Atau karena pekerjaanmu cukup berbahaya, makannya tidak mau memberitahuku?"
DEG!
'Kenapa instingnya selalu saja tepat? Dia juga telrihat seperti udah lama menunggu-nunggu apa sebenarnya pekerjaanku.' Pikir DHavin. 'Tapi jika aku tidak mengatakannya yang sejujurnya, aku takutnya dia tidak akan pernah mempercayaiku lagi. LLau bagaimana jika aku menjawabnya degan jujur, apakah dia masih mau menerimaku?' Akhirnya Dhavin pun di landa dilema karena perbuatannya sendiri yang dari awal belum pernah sekali pun mengatakan pekerjaannya itu apa. "Pekerjaanku itu sebagai ma-"
Hanya saja seluruh kata yang akan Dhavin ucapkan dengan keadaan hati yang ragu itu pun jadi menghilang bersamaan dengan tanagn Revina yang perlahan melepaskan sentuhannya dari wajahnya dan...
BRUK..
Tangan kanan itu langsung jatuh ke atas perut Revina, dan mata Revina yang awalnya terbuka dengan tatapan sayu, sudah sepenuhnya menutup.
"Sepertinya reaksi dari obat biusnya sudah bekerja."
"Tidak. Saya memberikannya bius total. Tapi kelihatannya, alasan Nyonya bisa sadar selama itu, pasti karena beliau masih syok."
'Dia menahan pengaruh obat biusnya? Apa-apaan istriku ini, kenapa dia mau-mau saja mempertahankan kesadarannya?' Pikirnya.
Dhavin pun sempat menyipitkan matanya, karna ingatannya tentang Revina yang kala itu tidak sadar karena koma kembali datang, dan ingatan itu terasa hampir sama dengan apa yang terjadi pada Revina saja.
'Tapi syukurlah, karena ini bukan kejadian yang akan membuat nyawanya di renggut seperti saat itu.' Dan Dhavin pun mencoba menyadarkan kembali pikirannya saat ini, bahwa saat ini Revina tidak sadar adalah karena pengaruh obat bius, itu saja.
"Tuan, siapkan jarum dan benang. Saya yang akan membersihkan darah Nyonya." Pinta Arlsei, sudah mempersiapkan baskom, kapas, air hangat, handuk, perban, dan masih banyak lagi.
Meskipun merasa tidak tega melihat kulit Revina akan memiliki jahitan karena luka yang di dapatinya, tapi mau tidak mau Dhavin harus merelakannya juga.
__ADS_1
Hal itu demi kesembuhan dari Revina sendiri. Sekalipun Dhavin tidak akan tahu apa reaksi dari Revina saat mengetahui lengannya akan mendapatkan sebuah jahitan yang cukup menyakitkan.
"Hahhh~" Dhavin pun menghela nafas kasar. Dia seharian ini benar-benar cukup lelah, tapi demi istrinya, dia akan melakukan apapun demi melindunginya.
Karena Dhavin tidak akan perg kemanapun, Dhavin pun melepaskan mantel coat hitam miliknya, lalau jas hitam dan berakhir dengan kemeja putih yang akhirnya Dhavin gulung hingga sebatas siku, sampai dia pun benar-benar memperlihatkan sepasang tangannya yang cukup berotot.
Melihat Tuan nya mulai melakukan apa yang diminta oleh Arlsei tadi, Arlsei pun akhirnya angkat suara lagi.
"Kalau boleh tahu, sejak kapan anda membuat Freddy untuk menggantikan anda untuk pergi ke pesta?" Arlsei akhirnya sengaja membahasnya, mengingat Arlsei sendiri sebenarnya juga tidak tahu kalau orang yang Arlsei pikir adalah Tuan nya rupanya adalah Freddy yang menyamar persis menjadi Tuan Dhavin itu sendiri.
Dhavin meliriknya, dan beranya. "Kamu juga berhasil kena tipu ya?" Tanyanya.
Dia tidak tertarik untuk menatap alwan bicaranya itu lama-lama, karena dia sedang sibuk untuk mempersiapkan benang dan jarum yang sedang di lumuri dengna alkohol.
Lalu Arlsei pun menyahutnya. "Ya, saya tertidpu dengan Freddy yang rupnya bisa menyamar sebagai anda sebaik itu."
"Jika orang sepertimu saja berhasil di tipu oleh Freddy, kira-kira bagaimana dengan yang lain ya?" Dhavin jadi bertanya pada dirinya sendiri, masih mengabaikan pertanyaan yang di tanyakan oleh Arlsei kepadanya.
Setelah berhasil melumuri jarum dan benangnya dengan alkohol, Dhavin pun berbalik. Tapi saat itu pula senyuman di bibirnya itu menjadi arti kalau Dhavin sendiri juga penasaran apa yang sebenarnya dilakukan oleh Freddy sialan itu.
Karena punya postur tubuh, fisik, tinggi yang sama dengan Dhavin, karena itu pula sang Ibu atau Liana, mau-mau saja membuat Freddy jadi pasangan untuk pesta yang Liana hadiri juga.
Dimata Liana juga Dhavin, Freddy adalah aset penting untuk menjadi seorang bayangannya Dhavin, karena dengan adanya Freddy, maka semua masalah bisa di atasi dengan lebih baik.
Dan salah satunya adalah saat ini, di mana Freddy jadi bisa menjadi pengganti Dhavin di segala acara, sedangkan Dhavin akan berleha-leha dengan istrinya.
__ADS_1