Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
101 : DBMJCP : Jatah


__ADS_3

"A-air mata cinta apa?"


"Phuff..." Dhavin menghela nafas kasar, lagi-lagi kembali kedalam perasaan. "Istri bodoh,"


Di sindir dengan kata bodoh, Revina terus memasang wajah bingung. Sekalipun sama sekali tidak menerima kata bodoh itu keluar dari mulut Dhavin, tapi ia berusaha untuk tidak memperdulikannya, karena yang ia harapkan adalah penjelasan alasan kenapa Dhavin terlihat menatapnya seperti orang yang sedang lega.


"Aku memang bodoh, kok. Kan aku tidak punya pendidikan tinggi,"


Dhavin jadi tersenyum kecut mendengar Revina terus aja rendah diri. Tapi apa pedulinya itu, wanita yang ada di depannya ini itu punya sifat yang keras kepala, mau di peringatkan berapa kalipun, Revina sama sekali seperti tidak begitu memperdulikannya. Seperti masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri, apa yang Dhavin katakan memang di dengar, tapi setelah selesai, ya sudah, Revina bisa kembali seperti biasanya.


"Tapi kenapa kamu tersenyum seperti itu?"


"UKh..." Baru juga di tanya kenapa tersenyum, akan tetapi Dhavin langsung berekspresi seperti orang yang menderita, karena ia sungguh sangat ingin memakan Revina yang menggoda ini. "Aku mengatakan kamu bodoh, karena aku sendiri juga bodoh."


"Kenapa begitu pula?" Sambil memiringkan kepalanya, sedangkan tangannya itu terus memijat adik kecil Dhavin yang sungguh membuat Revina sendiri dalam diam mencoba merutuki dirinya sendiri. 'Aku memang benar-benar punya suami yang cukup mesum. Sampai tidak tahannya ,dia pulang dalam kondisi tegang seperti ini? Apa yang di lihat oleh orang lain tentangnya sekarang? Dhavin sungguh sudah mempermalukan dirinya sendiri.'


"Karena tanpa sadar, soal percaya tidak percaya, kamu yang marah dan menangisi aku saat aku di jebak dengan wanita lain, itu karena kamu sungguh, benar-benar sangat mencintaiku, sampai kamu takut kalau aku benar-benar meninggalkanmu dan tidak mencintaimu lagi kan?"


Seperti seorang dosen dalam bidang cinta dan percintaan, Revina langsung termangu mendengar penjelasan Dhavin yang memang benar apa adanya itu.


"I-iya, hiks, aku memang menangis...aku nangis karena takut aku di tinggal olehmu, berpaling dariku, karena ada wanita lain di luar sana yang lebih sempurna dari diriku.


Apalagi karena aku sudah melahirkan anak, aku juga takut kalau saja aku akan di tinggal sendirian, karena aku bukan orang yang bisa menyempurnakanmu di bidang lain.


Aku tidak bisa menyamai derajatmu, statusmu yang sudah tinggi sejak lahir, dan-mphh..."


Wajahnya yang semakin di tarik itu membuat dua bibir saling menempel, dan menciptakan ciuman yang awalnya lembut sampai Revina sendiri perlahan menikmatinya, perlahan menjadi sedikit kasar.


"Aku, hanya mencintaimu saja. Tidak ada kata lain, paham?" Ucap Dhavin, tiada kata yang lebih indah dari pada mengutarakan perasannya lagi, lagi dan lagi kepada orang yang sangat ia cintai.


Merepotkan memang, memberikan cinta, tapi apa day, kalau hatinya sudah di rebut seperti itu, Dhavin pun sama sekali tidak bisa membendung perasaannya itu kepada Revina.


"I-ya," Sahut Revina. Jantung yang kian berdegup kencang memicu gairah lain yang sudah lama terpendam. Apalagi ketika dia harus mengingat bahwa ciuman yang kembali di lancarkan oleh Dhavin kepadanya itu membuat Revina merasakan adanya denyutan makin panas di adik kecil manis yang bisa meluluhkan semua mangsanya, bahkan termasuk Revina sendiri, diam-diam Revina jadi menginginkannya.


CUP...


Dhavin memejamkan mata, begitu juga dengan Revina.


Tubuh keduanya perlahan mengalami panas yang membawa mereka berdua ingin melepas apapun yang membalut di tubuh mereka.


"Oh, kamu benar-benar pintar melakukannya Revina," Puji Dhavin ketika ia merasakan adanya denyutan yang cukup di gunakan untuk mengeluarkan pasukan cintanya.

__ADS_1


Tapi dia masih berusaha menahannya, karena momen di antara mereka berdua masih belum sesuai dengan keinginannya Dhavin.


Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ganas. Seluruh area bibirnya sekarang mulai di penuhi dengan air liur mereka berdua.


"Hah..., hah...., hah..." Demi untuk mengambil udara yang kian menipis, Dhavin dan Revina pun melepaskan pautan milik mereka berdua.


Sungguh, Dhavin bisa melihat ekspresi Revina yang sipu malu itu terasa sangat eksotis. Sehingga, tangan yang awalnya Dhavin gunakan untuk meraih wajahnya Revina, perlahan turun menyusuri leher, dan turun lagi, hingga tangan kirinya itu meraih bahu yang nampak kecil itu.


Oh, siapa yang tidak melihatnya dengan tatapan penuh na*su jika bahu yang tadinya tertutup dengan baik, kini sudah bajunya sudah miring ke arah kanan dan memperlihatkan bahu putih polos Revina yang rupanya tidak memakai bra?


"Apa kamu tidak memakainya karena ingin menungguku?" Bisik Dhavin tepat di telinga samping kiri Revina dengan mesra.


"Mungkin saja." Karena kebetulan wajahnya sangat dekat, Revina pun mengecup basah pipi kiri Dhavin.


Dahvin pun mendekatkan bibirnya itu ke telinganya Revina untuk menggigit ringan telinga merah itu, sedangkan tangan kanannya yang masih bebas itu, meraih kancing baju daster bagian depan, hingga ketika kancing itu terlepas sepenuhnya dari lubang kancing, Dhavin pun menarik lengan baju itu ke bawah hingga akhirnya tubuh polos Revina dengan buah kembar yang terlihat menantang itu menjadi suguhan paling nikmat untuk mata Dhavin.


"Sangat cantik," Pujinya lagi dengan pandangan mata kian berkabut dengan nuansa ekstrim dari has*rat yang ingin Dhavin lampiaskan.


"..........." Revina, dengan wajah tersipu, sama seperti Dhavin yang membantunya melepaskan pakaiannya, Revina pun melepaskan ikat pinggang Dhavin. 'Aku malu, aku sangat malu di tatap seperti itu. Tapi demi membantumu, aku akan melakukannya untukmu.'


Dhavin masih menjepit daun telinga kiri Revina, kedua tangannya melepaskan kancing pakaiannya sendiri, membuangnya ke sembarang tempat, hingga dia sudah lebih dulu telanjang dada ketimbang Revina yang masih terlihat ragu untuk membuka dan membebaskan pusat intinya Dhavin.


Tangan kanan Dhavin pun benar-benar menuntun tangan ramping milik Revina agar segera membuka resletingnya.


Dengan hati terus berkomat kamit tidak ada hal mengejutkan lainnya, Revina pun menuruti tuntunan dari tangan Dhavin, hingga


Sampailah ketika celana panjang Dhavin berhasil di buka, celana boxer yang ketat dengan sangat membentuk postur dari pinggang, kaki dan pan*tat itu langsung menyuguhkan pemandangan yang kian mengerikan, karena Revina melihat adanya sesuatu seperti timun yang cukup besar sedang terjepit kuat di dalam sana.


"D-Dhavin, i-ini, ini kenapa aku melihatnya ja-" Revina yang sudah mulai kalap dengan ukuran jumbo itu membuat Dhavin tersenyum lembut.


Anggaplah itu menjadi hiburan semata, melihat Revina yang lucu karena takut kalau mahkotanya kembali di rebut untuk di sejajarkan dengan benda keramat milik Dhavin.


"Karenamu, tentunya." Dengan satu kali tendangan, Dhavin berhasil menyingkirkan celana panjang itu ke lantai.


BLUSH....


Revina sudah tidak tahu seperti apa ekpresi wajahnya saat ini, karena dia sangat malu melihat Dhavin yang gagah itu ternyata juga memiliki pusaka yang sama gagahnya.


Rasanya seperti sudah sangat lama ia tidak melihatnya. Apakah karena efek samping dari bucin nya?


Bisa jadi, bahkan sepuluh menit saja bisa di anggap satu jam.

__ADS_1


Tapi melihat Dhavin sudah dengan serta merta menanggalkan semua perlengkapan untuk menutupi senjata tempurnya yang berdiri tegak nan menantang itu.


Dan yang lebih memalukannya lagi, Dhavin buru-buru menangkap tangan kanan Revina, membawa tangan dari sang Istri ke pusat tubuhnya, memperkenalkan pada kekuatan, tekstur, dan ukurannya.


Ah, itu sungguh membuat kepala Revina langsung kosong, menahan napas, darahnya kian berdesir semakin panas. Dhavin sukses memenangkan keahliannya untuk membuat lawannya terangsang tanpa memberikannya obat.


Itu adalah sebuah pencapaian, membuat Dhavin jadi nominasi pia paling mesum sejagad, untuk Revina sendiri.


'Ah~ Tangannya lembut sekali. Apakah karena efek obat? Aku jadi semakin gila. Revina- kamu memang pintar untuk memancing serigala sepertiku,' Lenguhan Dhavin membuat Dhavin segera melingkarkan tangan kirinya ke pinggang langsung Revina, untuk membawa tubuh Revina baring di atas tempat tidur mereka.


BRUK.


Dhavin menunduk dan mendaratkan kecupan hangat di kening Revina. Revina sendiri memejamkan mata, meresapi kehangatan ciuman hangat Dhavin yang cukup menggetarkan hatinya.


Dhavin pun merasakan hal yang sama. Walaupun sudah sering menciumi seluruh sisi dari tubuh eksotis Revina, dia sama sekali tidak bisa menghilangkan rasa kekagumannya dengan membawa hati serta hasr*atnya.


'Ah! Aku sudah tidak tahan lagi.' Batin Dhavin berseru tidak percaya, kalau dia kembali di buat tergoda dengan ekspresi imutnya yang sungguh menawan itu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa selalu menatapku dengan wajah seperti itu?"


"Bukannya kamu sendiri suka menatapku?"


Hal itu pun membuat Revina tidak mampu untuk menyangkalnya, kalau ia memang suka sekali menatap wajah Dhavin yang tampan itu.


"Puaskan aku malam ini." Pinta Dhavin sebelum dia mendaratkan ciumannya ke bibir Revina, ******* dengan lembt kemudian ciumannya turun mengikuti garis rahang dan berakhir untuk menjamah leher jenjangnya.


Semuanya, Dhavin akan memastikan kalau tidak ada satupun celah yang akan Dhavin tinggalkan di tubuh Revina.


Semuanya, dia akan menjamahnya. Itu yang di harapkan dari serigala yang sedang menahan laparnya.


"Ah, D-Dhavin~" Revina melenguh saat Dhavin menghisap kulit lehernya dengan kuat hingga meninggalkan bercak kemerahan.


"Hadiah pertamaku darimu." Goda Dhavin dengan seringaian miringnya. "Maka dari itu Revina, aku ingin meminta hadiahku sekarang."


CUP...


Satu kecupan lagi mendarat di atas kulit tipisnya, dan lagi-lagi Dhavin menghisapnya, sampai meninggalkan bekas juga di sana, disana dan entah mau seberapa banyak lagi Dhavin melakukannya, dia benar-benar tidak ingin memberikan kelonggaran agar Revina bernafas dulu, karena setiap kecupan dengan akhir sebuah tanda, selalu membuat mulut Revina terbuka dan mengeluarkan de*sahan yang cukup menyita perhatian Dhavin secara terus menerus.


"Tapi aku belum, ah~, aku belum me...nyiapkan ha...diah untukmmu." Jawab Revina, ketahanannya tidak berlangsung lama untuk mempengaruhi tubuhnya untuk menggelinjang hebat, sehingga tangannya yang sedang memijat pusaka milik Dhavin, tertahan sebentar dan spontan jadi mer*masnya.


"Argghh...." Erang Dhavin. "Kamu tidak perlu menyiapkan apapun, karena yang aku inginkan, malam ini aku bisa di puaskan olehmu."

__ADS_1


__ADS_2