Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
39 : DBMJCP : Gaji


__ADS_3

'Kenapa mereka tidak bisa aku hubungi? Kalau seperti ini aku tidak akann tahu mereka sudah berhasil menculik Revina atau tidak.' Gerutu Adel di dalam hatinya.


Dia terus mencoba untuk menghubungi anak buahnya yang dia tugaskan untuk menculik Revina, tetapi setelah mencobanya beberapa kali, tidak ada satu pun yang berhasil.


'Atau...mereka gagal?' Adel pun jadi punya pikiran seperti itu, kalau pekerjaan dari anak buahnya gagal.


Dan kata gagal yang keluar dari mulutnya itu hasil dari pemikirannya, karena Adel merasa kalau Revina pasti bisa saja punya orang yang menjaganya, mengingat Revina punya seorang Bos.


'Tch...kalau iya memang penculikannya gagal, berarti semua harapanku kepada mereka banyak yang mereka sia-siakan begitu saja, termasuk uangku. Walaupun aku tidak peduli dengan uangku yang hilang dengan mudah, tapi jika Revina memang lolos dari rencanaku, aku jadi ingin tahu apa langkah dia selanjutnya?' pikir Adel.


TOK...TOK...TOK....


"Masuk." Sahut Adel atas ketukan pintu yang dilakukan oleh pelayannya.


KLEK.


"Nona, ini ada undangan untuk anda." Beritahu pelayan ini, seraya menyerahkan sepucuk undangan berarna hitam dengan desain mewah bierhiaskan tinta yang terbuat dari emas?


"Pergilah." Perintah Adel.


"Saya permisi." Melangkah mundur, dan akhirnya keluar dari kamar milik sang majikan.


Setelah di tinggal pergi oleh pelayan itu, Adel pun bergumam lirih. "Sungguh, orang kaya memang selalu beda. Sampai Tuan Visco membuat isi dari surat undangan dengan menggunakan tinta emas.


Tapi aku tidak peduli dengan itu semua, karena yang aku pedulikan, aku akhirnya bisa masuk kedunia sosial mereka.


Aku ingin lihat, siapa sajakah kira-kira orang yang Tuan Visco undang. Kali saja akan jadi malam yang menyenangkan, bisa dapat pria tampan." Ucap Adel pada dirinya sendiri.


Dan Adel pun memulai persiapannya untuk menghadiri pesta ulang tahun dari Visco yang ke Tiga puluh tahun.


Meskipun umurnya sudah menginjak kepala tiga, tapi bagi banyak kaum hawa, tampang dari Visco cukup awet muda, sampai banyak yang mengira kalau dia masih di kisaran umur dua puluh tiga tahunan.


"Semoga saja kali ini aku akan dapat hasil pancingan yang cukup besar." Lirih Adel.

__ADS_1


____________


"Bos, sekarang mereka bertiga sudah mati, lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Ha~ Apa kamu sedang menanyaiku?" Tanya balik Dhavin, dimana saat ini dia sedang duduk diam sambil memejamkan matanya. Memejamkan mata bukan berarti dia ingin tidur, tapi Dhavin sedang sibuk berpikir tentang masalahnya sendiri dengan Revina, karena persoalan yang terjadi pagi tadi.


"Ya, kan Bos yang ada disini, dan anda yang menentukan segala keputusannya." Sahut anak buah Dhavin ini, karena bingung mau di apakah tubuh dari ketiga orang yang sudah di cabik-cabik oleh Adema, karena kasusnya saat ini ketiga orang itu adalah orang yang akan melakukan penculikan kepada Revina, jika saja yang hadir kemarin malam Revina yang asli.


"Hmm...benar sih, apa alamat dari wanita itu sudah ditemukan?" Tanya Dhavin, mencari konfirmasi atas pertanyaan yang kemungkinan jawabannya seharusnya sudah ada.


Karena pria ini bukan di bidang mencari informasi, maka pria ini tidak bisa menjawabnya, kecuali...


TOK...TOK....TOK.....


"Bos." Satu suara panggilan yang berasa dari seorang wanita, mampu menyelamatkan satu oran anak buah Dhavin yang masih saja berdiri di depan meja kerja Dhavin itu karena sedang dilanda dilema, sebab tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh Bos nya itu.


"Masuk." Kata Dhavin, seraya mengibas tangan kanannya untuk memberikan kode pada anak buahnya itu untuk pergi keluar.


Dan wanita yang baru saja masuk itu adalah Vinella.


"Bos, saya menghadap." Kalimat sapaan pertama yang diucapkan Vinella kepada Bos Dhavin.


"Hmm...bagaimana? Aku dapat informasi kalau kamu setelah berhasil melumpuhkan tiga orang, kamu kehilangan satu orang lainnya?" Dhavin pun memulai menanyai semua rincian yang terjadi malam tadi, karena Vinella lah yang menajdi saksi sekaligus korban atas persitiwa malam tadi.


"Maafkan aku Bos. Soalnya-" Karena acara salam formalnya sudah selesai, maka Vinella pun bersikap biasa saja, dan saat ini ketika Dhavin belum memerintahkan untuk duduk, Vinella justru duduk di sofa begitu saja sambil mengambil biskuit yang ada di dalam toples. "Malam tadi ada hal tidak terduga. Ternyata ada penembak jitunya juga."


Vinella memakan biskuit rasa coklat itu.


Dhavin yang kebetulan juga lelah duduk di kursi kebesarannya, dia pun berpindah tempat dan duduk di depan Vinella dengan meja kecil itu sebagai pemisah diantara mereka berdua.


"Aku sudah membereskan soal penembak jitunya. Sayangnya karena kamu menembaknya mati, aku jadi tidak bisa mendapatkan apapun." Ucap Dhavin. "Jadi tidak perlu minta maaf, karena itu memang situasi yang tidak ter prediksi."


"Hmm..tapi, kira-kira aku dapat apa? Aku kan sudah menyelesaikan semua misinya, walaupun ada satu yang kabur. Bahkan sampai-" Vinella tiba-tiba jadi merasa enggan untuk mengatakan apa yang terjadi selanjutnya setelah itu.

__ADS_1


"Sampai apa? Apakah maksudmu sampai kamu mendapatkan obat perangsang dari salah satu diantara mereka?" Terka Dhavin, seraya mengambil biskuit yang sempat di ambil oleh Vinella barusan.


"Bos, kenapa Bos bisa tahu? Jang- Oh!" Vinella tidak melanjutkan ucapannya, karena dia disadarkan lagi kalau Bos nya ini serba tahu, sekalipun pria di depannya itu hanya duduk sambil menggoyangkan kakinya di atas meja.


"Ya, bahkan aku tahu kalau Freddy membantumu untuk menyelesaikan masalahmu itu sampai semalaman, jadi apakah kamu merasa puas bisa di puaskan oleh anak buahku yang serba berbakat itu.?" Cetus Dhavin lagi, lalu tangannya cepat-cepat mengambil toples itu sebelum.


GREPP..


Vinella yang suka dengan biskuit itu, sama-sama menangkap toples yang hendak di rebut oleh Dhavin.


"Bos ternyata tidak sopan ya." Sindir Vinella, saat tahu kalau Bos nya itu bahkan tahu kalau Vinella semalam dibuat bermain dengan cukup puas oleh Freddy.


"Karena tidak ada yang mengaturku untuk bertindak sopan, jadi kamu tidak ada hak untuk menyalahkanku, kalau aku juga tahu apa yang kamu lakukan dengan Freddy semalam." menarik toples kaca itu dari tangan Vinella itu.


"Kira-kira bagaimana jadinya jika Nyonya tahu kalau anda bahkan tahu apa yang dilakukan anak buahnya sendiri yang sedang bercumbu."Balas Vinella saat itu juga, dan tangannya mencoba untuk membebaskan toples itu dari tangan Dhavin, sebab dia benar-benar suka dengan biskuit mahal itu.


"Jangan bawa-bawa Revina di depanku." Langsung merebut toples kesayangannya dari tangan Vinella, karena biskuit yang ada di dalam toples itu adalah hadiah dari Revina saat ulang tahunnya Dhavin beberapa bulan lalu, dan kebetulan Dhavin baru membukanya. "Dan jangan makan biskuit ini lagi, kamu beli saja sendiri."


"Ah bos, itu sangat enak, tapi aku tidak mampu membelinya. Harganya kan mahal." Rungut Vinella, karena tidak diperkanankan makan lagi, padahal baru satu, dan di dalam toples itu masih banyak, tapi Bos nya itu sudah seperti anak kecil, karena hanya karena biskuit yang bisa di beli kapanpun dan mau sebanyak apapun, tapi seperti harta karun yang tidak boleh di bagi-bagi.


"Ok, bayaranmu itu saja." ketus Dhavin.


"Eh apa Bos?!" Tanya Vinella sedikit terkejut.


"Kamu bilang ini sangat enak, maka aku akan membayar kerja kerasmu malam tadi dengan satu truk biskuit." Ungkap Dhavin sambil menelepon pihak pabrik, untuk mengirimkan satu truk berisi biskuit untuk anak buahnya tercinta itu.


"Tidak..jangan, itu tidak akan bisa aku habiskan Bos." Tolak Vinella, dia mencoba merebut Handphone Dhavin. "Dari pada satu truk biskuit, lebih baik berikan aku mobil saja bos."


Dhavin menjauhkan handphone nya dari Vinella, dan merekam pembiacaraan mereka berdua untuk di kirimkan ke Arlsei untuk mengurus pemindahan tugas dari Vinella. "Kamu memeras seorang Bos, aku akan pindahtugaskan kamu sebagai pelayan rendahan. Arlsei, kamu dengar kan?"


-"Ya, saya dengar Bos, Vinella, malam ini temui saya jam enam sore."- Peirntah Arlsei kepada Vinella saat itu juga.


"TIDAKK!"

__ADS_1


__ADS_2