
Liana yang mendengarkan adanya tembakan, hanya bersikap biasa, dia tidak menghiraukannya sebab Dhavin sama sekali tidak akan menembak anak buah nya.
‘I-itu..itu hampir saja,.’ Pikir anak buah Liana yang pertama. Dia masih berdiri mematung dengan perasaan sudah khawatir tak karuan, karena dia harus menghadapi Tuan Muda yang sedang di selimuti amarahnya.
‘A-aku masih hidup, untung saja aku benar-benar masih hidup. Kalau aku mati di sini, apa jadinya dengan kekasihku nanti?’ Meskipun ia berpikir demikian, sepasang kakinya sudah gemetar, gara-gara saking takutnya.
Walaupun tembakannya tidak menembak mereka berdua, tapi mereka berdua tetap mendapatkan luka di leher mereka berdua masing-masing, yang satu di sebelah kiri dan anak buah yang kedua di leher sebelah kanan. Dan karena ulah Dhavin yang sengaja menembak dengan akurasi yang cukup tepat untuk menyerempet kulit leher mereka berdua, maka darah akhirnya tetap keluar juga dan membasahi kerah baju putih mereka.
“Pergi dari sini, wajah kalian itu mengganggu.” Perintah Dhavin dengan raut wajah yang cukup datar, bahkan aura membunuhnya pun masih ada.
“Kami akan tetap di-”
DORR….
“Apa kamu ingin membuatku mengulangi kata-kataku?” Tanya Dhavin, dengan tatapan yang dingin dan suara yang cukup rendah, mereka berdua yang sudah mulai terintimidasi, dengan perasaan kacau, membungkuk hormat dan pergi keluar dari sana, membiarkan Dhavin sendirian.
BRAK.
Setelah kepergian dari anak buah milik Ibu nya, Dhavin terus memandangi tangan kanannya yang masih menggenggam pistol.
‘Revina-’ Dhavin hanya mengatupkan mulutnya, ia sama sekali tidak mampu untuk berbicara, karena semua kalimatnya tiba-tiba saja Dhavin telan kembali. ‘Aku ingin kamu bertahan, Revina.’ Pikir Dhavin. Dengan wajah geram, Dhavin pun membanting pistol nya ke lantai dan pergi keluar menuju teras belakang Villa.
Dia berjalan menuju meja makan yang sudah di tata rapi lengkap dengan lilin merah yang ada di dalam gelas. Suasana yang awalnya terkesan romantis, serasa berubah menjadi hampa.
Dhavin takut, kalau dia akan sendirian terus di sana.
‘Jangan sia-siakan apa yang sudah kamu dapat selama satu tahun ini, aku, dan kedua anak kita. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku.’ Dhavin pun duduk di sana dan melamun, menunggu Revina.
__ADS_1
_________________
“Nyonya, sebaiknya anda di dalam saja.” Pinta pilot ini agar Revina sang majikan, untuk tetap tinggal di dalam helikopter.
“Bukannya aku menyuruh kalian bertiga untuk turun dari helikopter?” Satu pertanyaan berisi perintah, menunjuk ke arah Revina, Freddy juga salah satu pilot mereka untuk turun dari helikopter.
‘Kenapa dia menginginkanku sih? Apakah aku sebegitu berharganya?’
“Kamu pasti bukan wanita yang penakut kan? Masa Nyonya Calvaro takut?” Ledek Visco. Karena Revina masih berada di dalam helikopter, Visco pun masih berada di dalam juga. Karena dia akan keluar jika Revina keluar.
Mendengar pancingan yang menguras harga dirinya, Revina dengan berani akhirnya keluar. Dan tentu saja Visco pun turut keluar juga dari tempat persembunyiannya.
Sampailah mereka semua berdiri saling berhadapan satu sama lain.
Tepat di bawah bulan purnama, langit malam bertabur bintang, kilauan dari pantulan cahaya bulan yang sempat menyentuh permukaan rambut berwarna putih perak itu pun berhasil menyita perhatian Revina kala itu.
‘A-apa? Kenapa yang keluar juga seorang pangeran juga?’ Terkejut Revina dengan penampilan Visco yang cukup rapi layaknya model, ah..bukan, itu lebih dari sekedar model saja. ‘Apakah dia aktris? Tidak-masa iya dia aktris. Dari penampilan dan cara dia berekspresi, dia terlihat bukan orang yang punya pekerjaan seperti itu.’
Revina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, dia tidak boleh terpengaruh dengan penampilan pria di depan sana yang terlihat seperti malaikat, padahal di dalam nya bisa saja adalah seorang Iblis.
Ya, penampilan yang cukup bertolak belakang dengan Dhavin.
Jika Visco terlihat seperti malaikat, maka Dhavin yang punya rambut hitam legam, justru nampak seperti jelmaan Iblis, yang sedang berubah wujud menjadi manusia tampan untuk menggoda para umat manusia.
Dan Revina adalah salah satu korban nya.
“Aku sudah keluar, jadi kamu mau apa?”
__ADS_1
“Mau bertanya satu juta kalipun, aku ingin kamu ikut denganku.”
“Untuk apa aku ikut denganmu? Aku sudah punya jadwalku sendiri.” Kata Revina mempertegas jawaban yang sebelumnya.
Meskipun di dalamnya merasa takut setengah mati, tapi dia sedang berusaha untuk melawan ketakutannya untuk menghadapi orang yang tidak dikenal itu.
‘Dhavin, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Apa ada sesuatu? Arlsei juga, selain-’ Freddy yang sedang mencoba meminta bantuan untuk menghubungi seseorang, rasanya jadi sebuah kesia-siaan, sebab dia menyadari satu hal kalau di sekitar mereka sudah diberikan alat penghalang sinyal.
Melihat ekspresi Freddy yang terlihat kecewa, Vieco tiba-tiba mengulas senyuman penuh kemenangan.
“Percuma, aku sudah memasang alat untuk menghalangi sinyal komunikasi kalian.” Papar Visco, lalu berjalan satu langkah ke depan.
Mata Revina langsung membulat sempurna, dia sungguh terkejut, kalau ternyata memang ada waktunya dia akan masuk dalam kondisi yang kian menegangkan.
Padahal kehidupannya sebelum menikah, dia benar-benar bebas dan tidak memiliki masalah apapun dengan orang lain, tapi sekarang?
‘Berarti tidak bisa menghubungi Dhavin?’ Revina yang sedikit tidak percaya dengan perkataan Visco, mencoba mengeluarkan handphone nya yang dia simpan di dalam saku dari gaun yang ia pakai.
Dan benar saja, ketika dia melihat jaringan teleponnya, hanya ada kalimat tidak ada layanan.
“Bagaimana, sudah puas kan kalau aku benar-benar ingin membawamu tanpa membuat kalian meminta bantuan dari orang lain?” Ucap Visco dengan satu langkah demi satu langkah terus Visco ambil.
Saat berada di tengah-tengah, Freddy langsung menghalangi laki-laki ini untuk berjalan lebih dari itu.
“Aku tidak akan membiarkanmu membawanya.” Tekan Freddy.
Revina yang masih mampu mendengarnya, semakin di buat panik, karena jika Freddy sudah bersikap seperti itu kepada Visco si pria berambut putih perak itu, maka sudah pasti kalau orang tersebut adalah orang yang berbahaya untuk Revina sendiri.
__ADS_1
“Ya, seperti dugaanku, kamu pasti akan melindungi majikanmu sendiri. Tapi memangnya kamu bisa?” Kalimat tanya yang terkesan menggantung itu membuat Visco sedikit lebih mendekatkan lagi wajahnya ke telinga Freddy, dan kemudian berbisik lirih : “Kamu pikir aku hanya sendirian di temani dua pilotku saja?”
Freddy semakin mengernyitkan matanya, menjeling tajam Visco yang terlihat senang, karena akan mendapatkan hal yang dia inginkan.