
"Memangnya apa, hiks..hiks..huaa.." Revina yang tidak tahan dengan rasa sakit hati untuk pertama kalinya terlihat begitu di benci oleh pria yang sudah ia berikan hatinya itu kepadanya, tangisnya pun langsung pecah. "Apa yang hiks...sudah dia la hieuk...lakukan di sana?"
Deretan pertanyaan sebenarnya tertanam jelas di dalam kepalanya Revina.
Akan tetapi, Revina sendiri tidak mampu untuk mengutarakan semuanya, mengingat ia sedang meluahkan rasa sedih dan sakitnya itu dalam air mata yang tidak bisa Revina bendung lagi.
BRUK....
Revina yang sudah tidak kuat menahan tubuhnya untuk terus berdiri, akhirnya jatuh kedalam pelukannya Arlsei dan mencengkram erat jas milik Arlsei hingga air matanya yang terlalu banyak itu, berhasil membasahi pakaiannya Arlsei.
"Arsei. Hiks...jawab, aku mohon, setidaknya hiks...., kamu menjawab pertanyaanku, hiks." Pinta Revina.
Arlsei yang bersimpati kepada majikannya itu, langsung membalas pelukan sang Nyonya, menundukkan kepalanya di samping bahu Revina, Arlsei pun bercerita sedikit di sana dengan nada lirih, sampai Revina yang terkejut itu, langsung menangis sejadi-jadinya.
'Nyonya-' panggil Arlsei di dalam hatinya. Dia ingin sekali bisa menghiburnya, namun, satu-satunya kelemahan yang di miliki oleh Arlsei sendiri, dia tidak bisa menghibur orang lain, salah satunya seperti sekarang.
Ketika majikannya menangis sampai sesenggukan seperti itu, Arlsei tidak bisa melakukan apapun selain memeluknya dan mencoba menenangkannya dalam kehangatan dari rasa simpatinya saja.
Tidak lebih dan tidak kurang.
__ADS_1
'Dhavin! Dhavin, kenapa kau jadi seperti ini? Apa kedepannya kau akan bersikap kalau aku ini adalah orang asing?' pikir Revina.
Dan malam dari bulan baru yang menampilkan bulan sabit kematian itu, menjadi awal dimana hubungan dari Dhavin dan Revina akan berubah tidak seperti sebelumnya.
Walaupun sakit, tapi kenyataannya, dia harus menghadapi masalah serius ini dengan serius juga.
_______________
Sedangkan di dalam kamar. Dhavin berjalan perlahan memasuki kamarnya dan akhirnya duduk di tepi kasur miliknya, yang rupanya aroma milik dari Revina benar-benar sudah menyatu dengan aroma milik Dhavin sendiri.
TOK...TOK....TOK.....
Tanpa menunggu sebuah jawaban, pintu yang tadi terketuk oleh seseorang yang ada di depan, langsung terbuka dan memasukkan seorang pria bernama Freddy.
"Siapa wanita yang ada di bawah itu?" Tanya Dhavin tanpa basa-basi kepada Freddy.
Freddy yang semula terdiam itu, angkat suara. "Dia istrimu, Revina."
Sesaat Dhavin menatap flashdisk itu dengan seksama, sampai Dhavin memberikan kode sebuah tangan yang di lambai-lambai, agar Freddy segera pergi dari kamarnya jika sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.
__ADS_1
"Seharusnya kamu menahan diri agar tidak bertanya seperti itu kepadanya." Ucap Freddy sebelum akhirnya dia pergi keluar meninggalkan Dhavin sendirian di dalam kamar.
Kamar yang di temani banyak sekali bingkai foto bahkan potret dari diri Dhavin dan Revina saat menggunakan gaun pengantin.
'Istri. Jadi dia Istriku? Tapi kenapa aku bisa-bisanya melupakan hal sepenting itu juga? Dan tadi, karena aku terlalu lelah untuk banyak bicara, aku jadi menakutinya. Revina, Revina, Revina.' Sampai memanggil namanya berkali-kali, pada akhirnya Dhavin pun tidak mampu untuk mengingat ingatan miliknya. 'Awalnya aku memang ragu, tapi jika Freddy ini sampai bicara seperti itu juga, jadi bahkan semua barang yang ada di sini sampai foto itu, dia memang benar-benar Istriku?'
Begitu memikirkan hal itu lagi, menghadapi dirinya sudah punya Istri, Dhavin tiba-tiba berdecih dan menghela nafas dengan kasar lalu dia pun berbaring di atas tempat tidur yang mempunyai aroma khas miliknya, namun juga punya aroma tubuh lain milik seseorang, dan orang itu adalah Revina.
"Bagaimana caraku bisa dapat istri? Menggelikan, apa aku jangan-jangan melakukan hal bodoh sampai menjadikan wanita itu istriku?" Gumam Dhavin pada dirinya sendiri.
"Ya, kamu melakukan banyak hal bodoh sampai membuatku jadi Istrimu!" pekik Revina saat itu juga.
Kini, ekspresi wajah yang begitu menyedihkan, karena masih tidak bisa menghentikan air matanya yang terus keluar menangisi fakta kalau pria yang ada di atas tempat tidur mereka berdua, adalah orang yang sudah kehilangan ingatannya karena sebuah insiden yang terjadi saat Dhavin pergi ke luar negeri.
"Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi! Tapi dengan bodohnya, aku malah mengiyakanmu pergi begitu saja meninggalkanku!" ucap Revina lagi, dan kini tangisnya yang tadinya sudah mereda, ketika ia di hadapkan kembali dengan Dhavin, alhasil tangisnya pun jadi pecah lagi.
Dan Dhavin, begitu melihat wajah tangis Revina dibanjiri kekecewaan, rasa bersalah, takut, dan sedih yang bercampur menjadi satu, saat itu juga Dhavin merasakan hatinya jadi sakit.
Hal itu pun jadi membuktikan bahwa sekalipun kepala tidak ingat apapun, tapi tidak dengan hati mereka berdua.
__ADS_1
"Aku bersalah, aku seharusnya tidak mengizinkanmu pergi. Aku salah, aku salah Dhavin, maafkan aku! Huwaa..." Dan Revina akhirnya kembali menangis kencang di sana, membuat Dhavin yang dari tadi berekspresi dingin, perlahan berubah jadi wajah penuh dengan kebingungan.
Dia tidak tahu, bagaimana harus menghadapi seorang wanita yang menangis, di samping dirinya saja memang tidak ingat apapun setelah penyerangan yang terjadi pada dirinya di Dubai.