
Karena suasananya terasa canggung, Revina pun mencoba untuk membuka suaranya, ketika ia saat ini sedang di lukis?
Wah...ia tidak percaya kalau wajahnya sedang di hias dengan tangan emas milik Arlsei.
"Arlsei,"
"Ya, Nyonya?" Sahut Arlsei, dia membuka tutup dari pensil alis dan mulai membuat garis tipis sedikit demi sedikit agar alis milik Nyonya jadi lebih terlihat serta lebih seimbang dengan make up nya nanti.
"Kamu sudah berapa lama, bekerja dengan Dhavin?"
"Entahlah, saya sendiri lupa."
"Bohong, kamu kan tidak pernah melupakan satu hal pun atau sekecil apapun itu."
"Memangnya ada apa jika saya memberitahu anda?"
"Kan biar aku tahu saja. Memangnya menanyakan pekerjaanmu itu juga butuh alasan?"
Arlsei yang sedang melukis bagian alis sebelah kanan milik Revina pun tiba-tiba saja berhenti.
'Kenapa dia tiba-tiba diam? Apakah bertanya menanyakan urusan soal pekerjaannya itu adalah hal tabu untukku?' Revina pun jadi semakin canggung karena Arlsei yang terdiam itu.
Hingga keterdiaman milik Revina sendiri membuatnya menelan salivanya sendiri.
"Kenapa kamu diam? Jangan diam seperti itu kenapa. Diam itu terkadang kejam loh." Protes Revina.
"Saya, hanya....melihat ada bulu mata milik anda yang jatuh."
'A-apa? Hanya karena bulu mata dia jadi diam seribu bahasa seperti ini? Kamu pikir aku tidak tahu kamu sedang menatapku lebih serius dari yang seharusnya!' Teriak Revina di dalam hati. "A-"
"Sebentar, saya akan mengambilnya. Jadi anda lebih baik diam saja." Kata Arlsei, akhirnya menjadi sebuah jembatan penyebrangan untuk Revina agar dia tidak bertanya dan diam saja.
Dengan perlahan, Arlsei mengambil dua bulu mata yang sempat jatuh tepat di bawah mata.
'Kenapa lama? Jantungku jadi berdebar, apakah dia mendengar detak jantungku?' Memikirkan dan merasakannya sendiri, Revina lagi-lagi tersipu.
__ADS_1
Akibatnya saat Arlsei sudah menangkap bulu mata yang menempel di bawah mata milik Revina itu, di saat yang sama Revina yang merasa terusik itu tanpa sengaja jadi menggerakkan wajahnya dan matanya, hingga ia akhirnya kena colok dengan ujung jari milik Arlesi.
"A-ahw..." Rintih Revina saat merasakan sakit di pelupuk matanya.
Sontak Revina langsung menjauhkan Arlsei agar tidak mendekatnya lebih dulu, karena ia sungguh sedang kelilipan.
"Kan saya sudah memberi anda peringatan agar diam dan jangan bergerak." Tatap Arlsei melihat sang Nyonya sudah kesusahan sendiri karena matanya sudah kelilipan oleh satu bulu mata lainnya yang ada di sebelah kiri Revina.
Sungguh mengesalkan, padahal hanya di rias, tapi berkat itu semua, saat Revina ingin mengucek matanya, ia jadi menyayangkan riasan yang sudah separuh jadi itu.
"Arlsei, ini aku kelilipan. Aku cuci muka dulu ya."
"Nyonya, apakah anda ingin terlambat datang? Saya tidak mempermasalahkan anda mau mencuci muka hanya karena kelilipan, tapi bagaimana dengan Tuan?" Tentu saja yang akan kena Imbasnya bukan Arlsei saja, melainkan pelayan tadi.
"Tapi ini mengerikan! Aku tidak bisa membuka mataku, ada yang mengganjal. Arsei, tolong tiup mataku." Pinta Revina.
Arlsei hanya memandang sang Nyonya yang terlihat tersiksa hanya untuk kelilipan saja itu dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Kalau begitu anda duduk,"
Karena di rasa lama, seperti orang buta yang sedang mencari tongkatnya, Arlsei meraih tangan sang Nyonya dan menuntunnya untuk duduk kembali di tempatnya.
Setelah berhasil di dudukkan, Arlsei pun berbisik. "Anda diam dulu, jangan bergerak."
Bisikan lirih yang terucap di depan wajahnya Revina langsung membuat Revina jadi semakin gugup.
Betapa memalukannya sekarang, ketika Dhavin sedang berada di luar, dirinya justru sedang berdua dengan pria lain, dan itu adalah Arlsei.
Lantas kira-kira seperti apakah posisi dan jarak diantara mereka berdua?
"Saya akan meniupnya, jadi jangan terlalu gugup." Kedua jari jempolnya pun di tempat di atas kelopak matanya dan yang satunya lagi di letakkan di bawah matanya persis. Ketika kedua sisi itu sedikit ditarik dan mata milik sang Nyonya terbuka, dengan gerakan cepat namun nyata, Arlsei akhirnya memberikan tiupan yang sedikit kencang.
PHUUHH....
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Lagi."
Satu kali lagi Arlsei meniupnya.
"Lagi."
Dan ketiga kalinya, Arlsei pun lebih menguatkan tiupannya.
"Bagaimana? Masih kesulitan untuk membuka mata?"
"Uh..tunggu." Revina yang sudah di bantu itu perlahan-lahan mengondisikan matanya, untuk buka dan di pejam. "Ini sudah...terima kasih, aku jadi tidak perlu merusak hasil karyamu."
"Sudah menjadi kewajiban saya membantu anda." Lagi-lagi seperti orang yang tidak berminat dengan apapun yang ada di depannya.
'Apa yang membuatnya tidak bisa tersenyum atau gugup sih? Mungkin saja dia memiliki masalah dengan salah satu bagian di dalam otak yang mengontrol bagian emosi. Makannya, dia menggunakan bagian untuk membuat logikanya.' Padahal Revina jelas sudah lama tinggal di rumahnya Dhavin. Tetapi yang tidak bisa Revina ketahui adalah apa yang kira-kira sedang di pikirkann oleh Arlsei saat ini?
Wajahnya datar, matanya juga sama-sama datar. Tidak terlihat adanya cahaya seperti orang pada umumnya yang pasti memiliki harapan besar pada sesuatu, sehingga ia nya akan terlihat lebih hidup. Tapi Arlsei adalah sebuah pengecualian.
Pria itu sungguh seperti dinding.
"Karena anda sudah baikan, saya akan melanjutkannya lagi." Kata Arlsei lagi, mengawali kegiatannya sebagai seorang penata Rias eksklusif milik Revina.
________________
TAP...TAP.....TAP......
Langkah kaki yang cepat dan terus pergi ke arah kanan dan ke kiri, membuat Vinella di lingkupi rasa penasarannya lagi terhadap Bos Dhavin ini.
"Ada apa Bos? Bukannya hari ini seharusnya anda sangat senang? Tapi kenapa wajah Bos justru di tekuk seperti itu?" Tanya Vinella melihat Bos nya itu sedang menjadi setrika, karena mondar mandir ke arah kanan dan kiri.
"Kau tidak akan tahu-" Dhavin sesaat membuyarkan lamunannya, untuk di gantikan untuk berbicara kepada anak buahnya itu.
"Ya? Tentu saja aku tidak akan tahu selama Bos tidak memberitahuku." Jawanya.
Cukup menjengkelkan, karena Vinella bisa membalas ucapannya dengan deretan kalimat yang cukup masuk akal itu.
__ADS_1