
“Dhavin, Dhavin, Dhavin,” Panggil Revina berulang kali.
Tiap kali nama pria di pelukannya itu ia panggil, perasaan hangat dan terlindungi pun ia dapatkan. Padahal hanya berpisah beberapa jam, tapi untuk Revina, ia sadar kalau perpisahan singkat itu jadi terasa lebih lama.
Kenapa?
Karena hatinya memang benar-benar sudah diberikan kepada pria ini, maka dari itu, ia jadi tidak sanggup lagi jika harus berpisah.
Meskipun ada rasa kecewa yang tertanam juga, sebab Dhavin ternyata masih saja belum memberitahu identitas nya kepadanya secara langsung.
Tapi sekarang yang hanya ia tahu, kalau dirinya benar-benar menjadi orang yang cukup bodoh karena ia sungguh memberikan hatinya kepada pria ini.
Tapi siapa yang akan memperdulikan itu?
Karena mau bagaimanapun, tepat setelah ia memutuskan untuk mencintai pria ini, maka dengan kata lain, ia sudah ada di dalam genggamannya.
“Hm…, ada apa?” Tanya Dhavin, bingung.
“Maaf, jas mu akan aku kotori.” Jawab Revina dengan cepat, dan dia masih ada di dalam pelukan Dhavin.
“Tidak masalah, bahkan jika kamu mau merobeknya, aku juga sama sekali tidak begitu mempermasalahkannya.” Dengan senyuman lembut, Dhavin pun menerima cengkraman tangan kiri Revina yang sebenarnya sudah dipenuhi darah.
Tapi karena itu pula, Dhavin bisa mendapatkan pelukan yang lebih erat, seakan hal itu menjadi jawaban untuk Dhavin bahwa Revina memang tidak ingin meninggalkannya.
Sekaligus tahu, kalau Revina ternyata menerima kondisinya, yang sebenarnya bukan orang biasa sebagaimana mestinya berbuat baik kesana dan kesini, sebab ia memiliki pekerjaan yang bisa dikatakan berbanding terbalik dengan tugas manusia untuk melakukan kebaikan.
Ya, Dhavin bukan sepenuhnya orang baik, dan Revina, perlahan jadi ikut melewati jalan yang sama dengan jalan yang Dhavin gunakan.
“Kamu pasti kaget ya?” Sebuah pertanyaan paling bodoh keluar dari mulut manisnya.
“Siapa yang tidak kaget Dhavin, mereka semua ingin menculik ku, bahkan selain Visco. Aku takut, aku sangat takut jika aku berhasil di culik, aku akan berpisah denganmu.” Revina jadi semakin mencengkram jas bagian belakang Dhavin. Dia sama sekali tidak ingin melepaskan pria ini untuk pergi kemanapun.
‘Selain Visco, apa itu berarti ada orang lain lagi yang menginginkan Revina? Tunggu, Ibu, apakah Ibu menyuruh orang lain selain Visco untuk memberikan ujian kepada Revina?’ Pikirnya.
__ADS_1
Dari awal, Dhavin sudah tahu Visco itu adalah orang yang seperti apa. Dia adalah orang yang akan berpihak pada siapapun asal itu menguntungkan, maka dari itu Dhavin tidak begitu menyukai Visco.
Bahkan setelah kejadian satu tahun yang lalu, Dhavin jadi lebih membenci Visco itu karena ada satu alasan, yaitu Visco sudah ketahuan kalau ia bekerja sama dengan Liana, Ibu nya Dhavin untuk melakukan uji kepada Dhavin sendiri dan juga Revina.
Itulah alasan singkat baik Freddy, Dhavin, Arlsei, tidak menyukai orang itu, karena orang itu bukanlah orang yang akan setia.
Selama ada keuntungan yang bisa Visco dapatkan dari hasil kerja sama, maka Visco akan berpihak kepada orang tersebut, dan sekarang Liana, Visco mendapatkan sebuah keuntungan dari Ibu Dhavin, keuntungan apa, Dhavin masih belum jelas soal informasi itu.
Karena yang terpenting sekarang, Revina sudah berada di tangannya lagi.
“Revina, apa kamu masih ingin bersamaku?”
“Kenapa tanya itu? Tentu saja aku masih ingin bersamamu.” Jawab Revina dengan cukup cepat.
“Kalau aku bilang aku bukan pekerja kantoran, tapi seorang mafia di negara ini, gimana?”
“Terserah, terserah kamu mau apa, mau pekerjaanmu apa, aku tidak peduli, karena aku akan tetap menerimamu, asal uang yang kamu berikan kepadaku itu bukan hasil dari kerja kotor itu.” Terus terang Revina. “Kenapa kamu merahasiakannya kepadaku?”
“Karena aku khawatir, jika aku memberitahumu kamu-”
“Terima kasih. Dan masalah uang, aku punya bisnis sendiri, jadi jangan khawatir soal itu.” Jelas Dhavin.
Karena Revina tidak tahu, bahwa mall yang kemarin mereka kunjungi adalah salah satu bisnis yang Dhavin miliki.
“Tapi-”
“Tapi apa?”
“Walaupun kamu sudah mengatakan itu, kenapa aku masih merasa gelisah ya?” Tanya balik Revina, bingung. Ia merasa ada yang janggal dengan keheningan yang sedang terjadi itu.
“............” Dhavin terdiam sejenak dengan pertanyaan dari Revina, namun saat ia akan angkat bicara lagi, Revina tiba-tiba saja mendorong tubuh Dhavin. “Vin-”
“Semuanya! Tiarap!” Teriak Revina dengan keras.
__ADS_1
“..........!” Mereka semua yang masih sempat mendengarkan teriakan dari Revina, langsung tiarap.
Hanya saja ketika mereka semua sudah tiarap, Revina masih berdiri dan mengacungkan senjatanya ke arah depan, sedangkan Dhavin yang terheran pun bertanya.
“Ada ap-” Tapi kata-kata Dhavin seketika menghilang di telan kembali saat ia melihat Revina yang berwajah serius itu langsung menarik pemicu dari pistol yang dia gunakan untuk menembak itu.
____________
Di saat yang bersamaan, di tempat Arlsei berada.
“Peluruku tinggal satu, kamu yang ada di pinggir sungai, angkat senjatamu bidik drone yang ada di atas, sebelum bom yang di bawanya dijatuhkan.” Ucap Arlsei kepada satu orang anak buah Visco yang bersembunyi di balik semak-semak yang memang posisinya dekat dengan sungai.
Arlsei mengatakan itu, sebab ia meminta bantuan kepada orang yang kebetulan sekali punya profesi yang sama, dan berada di posisi yang pas. Sehingga saat Arlsei sudah menyadari adanya drone yang sedang terbang lima ratus meter dari permukaan tanah dan dalam kondisi sedang membawa sebuah bola berwarna putih yang tidak lain adalah bom, maka Arlsei pun meminta bantuan dari anak buah Visco.
-”Bagaimana kamu bisa mengubungiku?”-
“Itu sesuatu yang harus aku rahasiakan.” Jawab Arlsei, dia tidak mau memberitahu bagaimana ia bisa menghubungi orang yang bahkan sebenarnya Arlsei belum kenal sama sekali. “Jika kamu ingin Bos mu selamat, turuti perintahku.” Imbuhnya lagi.
Arlsei pun memakai kacamata khusus, oleh karena itu, ia bisa melihat kordinat dari drone tersebut. Sampai saat ia berhasil mengunci pergerakan dari drone itu, Arlsei pun kembali berbicara kepada anak buah Visco.
“Aku sudah menguncinya, bagaimana statusmu?” Tanya Arlsei dengan raut wajah yang terus saja tidak berubah, sekalipun ia sadar kalau nyonya majikannya saat ini masih berdiri dan sudah berteriak memerintahkan semua orang untuk tiarap.
-”Sudah”-
"Aku hitung sampai tiga, tembak itu."
-"Bukannya berbahaya menem-"- Sayang sekali anak buah Vasco langsung kehilangan kata-katanya setelah Arlsei tiba-tiba menyebut kata tiga.
"Tiga!"
-"Apa?!"-
Tanpa durasi lagi, Arlsei dan anak buah Visco pun langsung menembak jatuh drone yang membawa bom di atas.
__ADS_1
Dan di saat yang sama pula suara tembakan pun terjadi di tengah pada savana secara bersamaan dengan ledakan yang ada di atas mereka.
DHUARR.....