Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
48 : DBMJCP : Pusat perhatian


__ADS_3

"Nona, kita sudah sampai." Kata sang supir pada Adel, seorang wanita yang tidak lain adalah majikannya sendiri itu.


"Untungnya tepat waktu juga." Gumam Adel. Dia dengan santainya turun dari mobil yang di naikinya itu dengan cara yang cukup anggun. Sembari embawa tas kecil yang dia pegang dengan menggunakan tangannya, dia pun membawa sebuah undangan sebagai bukti kalau dirinya memang salah satu tamu undangan yang pantas masuk dan di sambut dengan segala tatapan mata dari banyak pria yang terlihat sangat menyukai diri Adel yang cantik itu.


Cantik?


Sebenarnya itu adalah ungkapan sebagai bentuk penghargaan untuk seseorang karena memiliki penampilan yang berhasil menarik perhatian banyak mata.


Tapi sekalipun begitu, kata cantik itu sendiri juga memiliki standar berbea dari tidap pria, dan sebaliknya juga.


"Siapa dia?"


"Iya, siapa ya dia? Aku baru pertama kali melihat wanita itu."


"Mungkinkah dia bukan orang asli negara kita?"


"Tapi, dia cantik." Satu pujian lagi mendarat untuk Adel.

__ADS_1


"Cantik apanya. Jangan hanya di lihat dari luarnya saja. Dari luar memang cantik, tapi kira-kira seperti apakah jati diri dari dalam diri seseorang? Tidak ada yang tahu kan apakah hatinya juga cantik?" Sela perempuan ini. Tidak suka, sekaligus memberikan peringatan pada mereka yang mendengarnya, kalau seseorang yang dari luarnya terlihat cantik, seperti Adel itu, maka belum tentu dengan di dalamnya.


"Benar juga ya." Seseorng juga mendukung ucapan tadi.


'Hmph...mereka itu tahunya hanya bisa mengoceh tidak berguna. Bilang saja kalau kalian Iri. Ya..mereka kan hanya iri padaku, karena mereka sebentar lagi akan jadi nenek peyot.' Ejek Adel dari dalam hatinya.


Tanpa memperdulikan apa yang barusan Adel dengar, Adel pergi mencari tempat untuk dia duduk, karena itu lebih baik ketimbang harus melayani ucapan dari segala komentar yang bagi Adel sendiri kurang bermanfaat intuknya.


"Halo Nona yang cantik, apa kita bisa berkenalan?" Baru juga datang dan duduk untuk bermeditasi karena dia awalnya ingin memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarnya lebih dulu, tetapi takdir selalu berkata lain, karena pada dasarnya dirinya memang sudah berhasil menarik banyak perhatian orang, maka wajar kalau akan ada juga yang langsung tancap gas untuk memperkenalkan diri. "Saya ja-"


"Kyaa...siapa itu?"


'Siapa?' Adel yang awalnya akan membalas perkenalan dari pria yang baru saja datang menemuinya itu, langsung dia tarik lagi tangan itu dan berpindah haluan untuk menoleh ke samping kanan.


"Mereka berdua serasi sekali. Rasanya wajah mereka berdua juga rada-rada mirip."


"Tapi yang pria itu, kenapa tampan sekali. Aku jadi ingin pergi menyapanya deh." Ujar wanita yang lainnya lagi.

__ADS_1


Dan saat Adel melihat ke arah yang menjadi tujuan dari semua kaum hawa menarik pandangannya ke arah sana terus, maka saat itu juga Adel bertemu dengan pria yan sesuai dengan seleranya.


Dhavin dan Liana, mereka berdua datang dengan membawa banyak pesona untuk seluruh tamu undangan yang ada di sana. Termasuk dengan Adel, tidak ada yang tidak di kecualikan unuk kaum perempuan untuk terus menatap pria jangkung dengan postur tubuh yang menurut mereka semua cukuplah mantap.


'Siapa dia? Tapi terlepas dari siapa dia itu, wajah dan tubuhnya jelas sangat sesuai dengan seleraku. Bagaimana ini? Belum juga bertemu dengan tokoh utama dari acara ini, tapi aku sudah menemukan pia yang sangat enak di pandang. Tapi siapa lagi yanga ada di samping pria itu? Mereka berdua cukup mirip, apakah kakak adik? Atau sepupu?' pikir Adel.


Bahkan untuk ukuran Adel sendiri, Liana yang punya paras cantik tapi awet muda, membuat Adel juga tertipu dengan sendirinya, apalagi dengan mereka semua oranng yang ada di sana? Sudah jelas sekali kalau mereka semua tidak ada yang punya pikiran sama sekali, kalau Liana ada Ibunya Dhavin, pria yang kebetulan berdiri mendampingi Liana.


"Sepertinya penampilanmu selalu saja membawa dosa." Sindir Liana kepada anaknya itu.


"Bukankah sendirinya juga begitu, kenapa repot-repot menagtaakn hal yang sudah jelas seperti itu kepadaku?" Sahut Dhavin saat itu juga.


"Hmph...jadi bagaimana dengannya? Apa kamu sudah bahagia, karena dia akhirnya bisa pulang dan menemani kesendirianmu lagi?" tanya Liana, dan yang sedang di bicarakannya itu adalah Revina sendiri, selaku wanita yang sudah berhasil menjalin kisah kasih dengan Dhavin, anaknya Liana.


Mendengar ucapannya Liana, Dhavin pun menoleh ke arah Liana, lalu melepaskan tangan Liana dari tangannya.


"Pikirkan saja sendiri." Ketus Dhavin, lalu Dhavin dengan sengaja memisahkan diri dari Liana.

__ADS_1


__ADS_2