
"Kalian cepat cari Bos sampai ketemu!" Teriak salah satu orang yang di tunjuk untuk memimpin kelompoknya itu agar segera mencari Dhavin yang masuk kedalam danau gara-gara bom tadi.
"Baik!"
"Hei, ayo cepat-cepat! Singkirkan kayu-kayu itu dulu." Perintah laki-laki muda ini sambil mencoba menarik puing-puing dari kayu yang sudah patah dan bahkan ada yang terbakar untuk di singkirkan ke pinggir danau.
"Cepat cari Bos sampai ketemu, aku akan mencoba cari tambahan bantuan." Kata laki-laki ini lagi. Tapi saat dia hendak mencoba menghubungi seseorang, kendala yang harus dia hadapi adalah tidak adanya jaringan.
Tiga orang pertama langsung menyadari perubahan dari ketua nya, sebab raut wajahnya itu terlihat seperti orang yang sedang menahan kesal.
"Ketua, ada apa?"
"Coba kalian semua lihat handphone kalian dan hubungi seseorang." Pintanya.
Satu per satu dari mereka mencoba menelepon seseorang, tapi tidak ada sama sekali di antara mereka yang bisa melakukan panggilan lewat handphone.
"Tidak bisa ketua, di handphoneku tidak ada jaringan."
"Aku juga."
"Sama, aku juga."
Malam yang seharusnya menjadi momen indah itu sayangnya harus berakhir dengan tragedi.
Siapapun akan merasakan kesal sekaligus merasa bersalah, apalagi dirinya, selaku orang yang bertanggung jawab untuk masalah persiapan ulang tahun pernikahan untuk kedua majikannya.
Dia jadi merasa seperti orang yang tidak berguna karena dia sama sekali tidak bisa membuat suasana romantis itu terwujud, gara-gara siapa? Tentu saja gara-gara dirinya, sebab sampai membuat adanya penyusup yang berhasil melakukan serangan secara diam-diam seperti ini.
"Kalian tetap lanjutkan pencarian, sedangkan aku akan pergi untuk mencari penyusup nya." Kata laki-laki ini, lalu mengambil pistol yang tersimpan di bawah ketiaknya dengan tatapan mata paling dingin dan ekspresi wajah yang cukup datar.
"Baik, kami akan berusaha untuk menemukan Bos. Jadi Ketua juga harus membawa kepala penyusup itu." Satu dukungan mendarat untuk ketua nya.
Dan tanpa sepatah kata lagi, mereka melakukan pekerjaannya masing-masing.
_______________
DORR....
"Edwin, berikan aku magazine milikmu." Pintanya.
Edwin langsung memberikan magazine yang baru kepada senior nya.
KLAK...
Dengan gerakan yang cepat, magazine yang baru sudah terpasang.
__ADS_1
'Hebat sekali dia, padahal untuk mengganti magazine yang baru aku perlu beberapa puluh detik. Tapi dia cukup cepat.' Edwin terpana dengan gerakan senior nya yang cukup cekatan dalam mengambil alih posisi dari satu tempat ke tempat lain, padahal ada banyak yang harus mereka hadapi.
DORR..
DORR...
"Katakan kepada semua orang, penyusup nya ada dua orang, dan sekarang mereka ada di bagian selatan pagar!"
Teriakan itu pun langsung memancing orang-orang yang mendengarnya untuk berpencar.
'Keheningan macam apa ini?' Edwin langsung merasakan firasat buruk, karena tidak lama setelah pengumuman tadi, tiba-tiba saja suasana berubah menjadi hening.
"Shht..., undur dulu niatmu tadi. Jika masih ingin hidup, kita mundur." kata senior Edwin.
"Padahal tadi semangat menghasutku." Rungut Edwin karena keinginannya untuk mencari tahu soal kematian kedua orang tua nya harus di di tunda dulu.
"Aku tahu. Tapi aku baru saja dapat informasi kalau Dhavin yang kita incar itu bukan orang yang ada di sana." Beritahu pria ini kepada Edwin sambil menunjuk ke arah danau besar yang ada di bawah sana.
Sampai Edwin sendiri langsung membelalakkan matanya, ketika di beritahu soal Dhavin bukanlah pria yang barusan mendapatkan Bom itu?
'Bukan dia?! Tapi jelas-jelas dia sampai menyebut nama Istrinya dengan wajah yang jatuh cinta seperti itu!' Edwin tidak pernah berpikir kalau cara Dhavin untuk memanipulasi semua orang yang ada di sana begitu kejam, karena sampai harus membuat penggantinya untuk sekedar mengecoh mereka. 'Dia- dia lebih kejam dari apa yang aku kira. Dhavin, pria macam apa dia ini? Kenapa sampai menggunakan nyawa orang lain sebagai bagian dari rencanamu?' Pikir Edwin lagi.
"Lihat ini." Dengan layar dalam kecerahan yang rendah, tapi masih bisa di lihat oleh mereka berdua, Edwin di perlihatkan seorang pria berpakaian jas putih tengah berdiri di atas gedung pencakar langit, seakan sedang menunggu seseorang? "Percaya, kan?"
"Karena kamu sudah percaya, dari pada membuang waktu kita di sini, kita harus cepat pergi dari sini. Walaupun gelap, aku sudah memastikan mereka semua sedang datang ke arah kita secara diam-diam. Cepat, kita sudah tidak ada waktu lagi."
"Ya." Edwin mengangguk setuju.
Mereka berdua pun kembali menggunakan tudung kepala mereka, memakai masker hitam dan kacamata untuk melihat di dalam kegelapan. Setelah siap, mereka berdua langsung berlari dengan kedua tangan sudah memegang senjata mereka masing-masing.
DORR..
DORR..
DORR...
Suara tembakan terus menghujam kedua orang itu.
Dengan kelincahan mereka, mereka berdua satu demi satu melewati halang rintang yang ada di hutan itu dari batang pohon, batu, dan lubang jebakan.
DRAP....DRAP....DRAP....
"Hah...hah....hah..."
"Cepat, mereka berdua ada di sana!" Teriaknya lagi, dan memancing kebisingan yang semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
DORR...!
Tembakan itu kembali datang.
"Akh...!" Edwin sempat terserempet peluru. Tapi karena hanya terkena di lengan saja, Edwin masih mampu untuk mempertahankan kecepatannya.
"Sebentar lagi, kita harus menaiki pagar."
"Baik." Jawab Edwin.
DORR...!
Edwin sesekali membalas serangan mereka. Ada yang langsung terkena, tapi ada juga yang meleset.
"Jangan buang waktu untuk menembak, kita harus naik ke atas pagar." Perintahnya lagi. Dan pria ini kembali menyimpan salah kedua pistolnya di sarung pistol yang melekat di kedua pahanya, dan sebagai gantinya, dia mengeluarkan alat lain.
Dengan bentuk seperti pistol, dengan sekali tembak, ujung dari alat tersebut langsung tersangkut di atas pagar dan langsung membuat tubuhnya naik ke atas secara otomatis.
Melihat senior nya sudah lebih dulu naik ke pagar, Edwin langsung menyusulnya.
DORR..
DORR....
"Mereka keras kepala juga." Decih laki-laki ini, dan tanpa sungkan, setelah berada di atas pagar, dia langsung melempar granat ke bawah.
"Lari!" Peringatnya dengan sebuah teriakan.
Dan tidak butuh waktu yang lama, granat itu langsung meledak.
DHUAAR....
Edwin yang baru saja sampai di atas, hanya melihat pemandangan mengerikan yang ada di bawah sana. Danau yang tadinya terlihat terang, sudah gelap dan hanya di dukung dengan lampo sorot saja, dan dari pada itu, kepulan asap langsung membumbung tinggi setelah berhasil membuat kekacauan lebih dari sekedar adu peluru.
"Ayo turun." Perintahnya, dan dia pun turun lebih dulu.
"..." Edwin sesaat melirik apa yang ada di balakangnya itu. 'Dhavin, suatu saat kita pasti bertemu lagi, kan?' Benak hati Edwin sebelum akhirnya dia turun dari pagar untuk menyusul senior nya.
__________________
Sedangkan di salah satu gedung pencakar langit, pria dengan stelan jas putih ini berdiri tepat di depan kaca full glass.
Dengan memegang secangkir teh di tangan kirinya, pria ini memasang wajah kalem dengan senyuman lembut penuh dengan aura memikat tersungging di bibirnya.
"Hanya karena ini saja, aku perlu memeras otakku." Gumam pria ini, dengan mata terus menatap pemandangan kota yang terlihat tidak ada kata tidur.
__ADS_1