
'T-tatapan matanya yang penuh maut itu!' Revina yang awalnya mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu dengan aksi yang ia buat kepada Dhavin, Revina urungkan niat itu, karena hatinya lagi-lagi keburu dibuat untuk diseret dalam pesona Dhavin yang begitu licik. 'Aku- tidak tahan.'
Tatapan mata sendunya pun menjadi awal titik balik rasa tidak suka tadi menjadi rasa suka yang tidak bisa di bandingkan dengan hal yang lain.
Akhirnya, Revina yang memiliki iman tipis untuk menghadapi suaminya sendiri jadi terperdaya oleh keberadaan laki-laki ini.
"Dhavin~" Entah datang dari mana nyalinya yang tadinya ciut berubah jadi besar, tangan kanan Revina yang masih bermain di bawah sana untuk memperbaiki menara yang sudah berdiri kokoh, tangan kirinya pun tiba-tiba saja menyambut wajah Dhavin. Meraihnya, dan menariknya secara perlahan ke arahnya, sehingga jarak diantara mereka berdua pun semakin terkikis, sampai hanya menyisakan beberapa centimeter saja.
"Revina? Apa kamu akhirnya tidak mampu bertahan?" Sayup-sayup suara Dhavin yang begitu lembut, berhasil menggelitik hati Revina yang sudah berhasil membuat jarak diantara mereka berdua begitu dekat dan menyisakan beberapa centimeter saja, hingga membuat nafas mereka pada akhirnya menyatu.
"Hmm, aku lemah..., terhadap pesonamu." Jawab Revina dengan lirih, mataya tidak menatap mata Dhavin, melainkan bibir yang baru saja berbicara itu.
"Aku sudah menduganya. Jadi- apa kamu mau?" Mata mereka berdua semakin menyipit, ketika Dhavin sedikit miring ke arah kiri, Revina memiringkan kearah kiri juga, sehingga saat kedua bibir mereka sedikit terbuka, Revina pun memberikan kata terakhirnya.
"Iya," Jawabnya.
Dan akhirnya, setelah mendengarkan jawaban dari sang Istri, Dhavin pun melontarkan sedikit hembusan nafasnya sebelum akhirnya ia menarik nafas dengan cukup dalam dan sukses mendaratkan bibirnya di permukaan bibir Revina.
Sebuah ci*man pun mereka berdua lakukan, di samping kedua has*at milik mereka jadi kina tak terbendung.
'Dia selalu memperlakukanku dengan lembut.' Pikir Revina, untuk beberapa saat ia membuka matanya dan melihat wajah Dhavin yang begitu dekat. 'Bahkan ci*man ini juga begitu lembut. Aku jadi merasa hatiku sudah mulai mencair. Bagaimana ini? Aku benar-benar sudah terjerat dalam genggamannya, dan selamanya tidak bisa lepas darinya. Ahh~ Aku, tidak mengelak bahwa kenyataannya aku memang lemah dengan wajah dan penampilannya. Hal ini, tentu saja akan jadi kelemahan yang bisa mereka manfaatkan.'
Mulut yang saling melu*at, terus di susul dengan lidah mereka yang saling menari mengikuti alur permainan mereka berdua.
Sungguh, suatu kenikmatan yang mampu mengosongkan pikirannya, dan Revina benar-benar tidak mampu menahan gejolak dari hati yang berisi cinta yang kian tumbuh menjulang makin tinggi.
__ADS_1
Walaupun tahu tentang resiko jika terlalu mencintai sama saja seperti berdiri di ujung tebing yang bisa membuatnya seketika jatuh ke dalam jurang, Revina yang terlanjur untuk merasakan cintanya, tidak bisa Revina tahan lagi untuk terus menikmatinya.
Sehingga, dia pun semakin terlarut dalam dunia yang Dhavin buat untuknya.
"Mhh~" sentuhan yang begitu menyeret adrenalin sebagai seorang wanita yang sedang menikmatinya.
"Phuah..., masih kurang." Lirih Dhavin, mengganti posisi ciu*an nya dengan memiringkan kepalanya ke arah kanan, dan sama hal nya dengan Dhavin, Revina pun melakukan hal yang sama.
Sampai telapak tangan yang terlihat sebesar piring, mendarat juga di perutnya, dan masuk kedalam pakaian yang dikenakan oleh Revina, sampai akhirnya Dhavin pun mengangkat ujung pakaiannya Revina ke atas.
Secara otomatis, lampu rumah yang tadinya sempat menyala, tiba-tiba saja langsung mati, dan kaca jendela yang memisahkan antara ruangan yang di pakai oleh mereka dengan area luar dari kolam renang, kaca yang tadinya bening, berubah menjadi gelap dan hanya menyisakan sedikit cahaya.
Lalu suasana pun jadi semakin panas ketika tempat mereka saling mengadu kesenangan sudah jadi remang-remang.
"Mphh~"Revina yang sudah tidak tahan dengan nafas yang terasa begitu sesak, akhirnya mencoba menjauhkan wajah Dhavin dengan kedua tangannya. Dan hal itu pun berhasil, dengan bukti selepas Dhavin melepaskan tautan bibir mereka tadi, mereka berdua sama-sama bernafas sampai sedikit tersengal-sengal.
Revina menggeleng-gelengkan kepala, "Itu masih butuh waktu, dan-"
Ketika Revina melirik ke bawah, tepatnya melihat kearah perutnya, Revina jadi terhenyak dan langsung menarik kembali ujung bajunya, agar tubuhnya yang sempat terekspose, kembali di tutup.
'Perutku banyak Stretch mark,' Melihat hal tersebut, seketika rasa gair*ahnya pun menurun. Revina jadi malu dan tidak berani untuk menatap Dhavin yang terlihat kebingungan itu.
Dhavin yang tidak suka hasil usahanya untuk melihat tubuh istrinya harus di kembalikan seperti itu, tanpa sepatah kata langsung menaikkan kembali ujung pakaian Revina.
SRET.
__ADS_1
"Dhavin." Revina menutupnya kembali, tapi seperti yang di harapkan, Dhavin pun kembali mengangkatnya ke atas lagi, sehingga tubuhnya kembali terekspose.
"Kenapa kamu menutupnya?" Davin mengernyitkan matanya, karena bagian yang ingin Dhavin lihat jadi kembali di tutup.
"Aku malu."
"Malu kenapa? Biasanya juga memalukan, ups- maksudku kenapa kamu tiba-tiba malu?" Tanya Dhavin terheran sendiri, dan sebaliknya, karena tangan Revina berhenti memijat menaranya, salah satu tangan Dhavin pun memijatnya dengan gerakan yang lumayan.
"Aku- perutku-"
"Perutmu kenapa? Arlsei dan Winda juga bilang, kalau perutmu baik-baik saja, bahkan bisa aku isi lagi dengan pasukanku." Seringai Dhavin.
BLUSHH...
"...........!"
Dhavin pun sukses kembali menggoda Istri tercintanya yang serba mudah di goda, sampai sebenarnya hal itu cukup berbahaya juga, sebab ia tidak mau kalau ada pria lain yang menggoda nya.
'Mulutnya selalu mengatakan hal yang tidak baik untuk jantungku.' benak hati Revina. "Itu, Stretch mark."
"..........?"
Dhavin memiringkan kepalanya, lalu membungkukkan tubuhnya kembali ke depan dan berakhir dengan tangannya yang menaikkan kembali ujung pakaian Revina, lalu menepuk pelan permukaan perut Revina dengan tangan bekas untuk memijat menara miliknya sendiri yang sudah terlumas dengan baik, sehingga ca*ran miliknya pun terpoles juga di permukaan kulit perut Revina yang memang ada banyak stretch mark nya.
"Apa aku terlihat begitu peduli dengan garis ini?" Tanya Dhavin, mengusap lembut perut Revina yang memang sudah tidak sekencang saat awal Revina masih perawan.
__ADS_1
Usapan yang begitu licin, karena di selimuti ca*ran milik pribadi Dhavin sendiri.