
Setelah beberapa waktu berendam bersama Revina yang saat itu terus diam berada di pelukannya, akhirnya membuat Dhavin Mencoba menilik wajah Revina yang ada di atas dada bidangnya, dan ternyata Revina sudah tertidur.
‘Vina, kamu suka sekali ya, jika di depanku selalu tidur tanpa pertahanan diri seperti ini.’ Dhavin memberikan setengah senyuman.
Seperti bayi besar, Dhavin pun mengelus pipi mulus Revina dengan menggunakan punggung jari telunjuknya, dan hasilnya di dalam tidurnya itu, Revina mengernyitkan dahinya.
“Uhmm…” Revina melenguh sambil memperbaiki posisi tidurnya.
‘Suka sekali dengan posisi seperti ini. Tapi jika lebih lama lagi, yang ada kamu akan sakit. Kita lanjutkan di lain hari.’ Tidak ingin membiarkan Revina berendam lebih lama, Dhavin pun mengangkat tubuh polos Revina, membalutkannya dengan handuk, Dhavin pun membawanya keluar dari kamar mandi, setelah itu dia meletakkannya di atas kasur.
Dikarenakan dirinya belum mandi dengan benar, Dhavin pun kembali masuk kedalam kamar mandi. Apalagi mengingat tangannya sempat mendapatkan pup dari Levine, maka dia benar-benar harus membersihkan tubuhnya sampai bersih.
ZRASSHH…
Air dari shower akhirnya mengguyur tubuh Dhavin yang sudah telanjang total.
“Hahh~” Dhavin menyisir rambut hitam kusutnya itu ke belakang dengan menggunakan kedua tangannya, lalu wajahnya pun menghadap ke atas, dan membiarkan wajahnya itu langsung di guyur oleh air shower.
Lelah?
__ADS_1
Semua orang pasti lelah, aplagi mengingat kesibukan yang dimiliki oleh seorang Dhavin Calvaro, maka dia adalah orang yang seharusnya bertindak layaknya kelelawar, yaitu mencari mangsa setelah malam hari tiba.
Akan tetapi disebabkan Dhavin saat ini sudah memiliki seseorang yang ada di sisinya, mau tidak mau dia harus membagi waktunya antara urusan pribadi dengan pekerjaannya.
Hingga segala pikiran Dhavin itu segera dia tarik kembali selepas mendengar dering dari handphone?
“Aku lupa, handphone Revina tadi sempat jatuh.” LIrik Dhavin terhadap handphone milik Revina yang sempat tergeletak di bawah samping kloset.
Dhavin mengambilnya dan terlihat ada satu panggilan tidak terjawab baru saja terjadi. Dan tentu saja Dhavin di buat mengernyitkan matanya, karena ada nomor yang tidak di kenal baru saja menelepon istrinya? Dan nomor yang tidak dikenal itu adalah seseorang yang baru saja menghubungi Revina tadi tapi tidak terjawab.
“Siapa-” Seketika sorotan mata Dhavin seperti masuk kedalam kegelapan. Dia tidak ingin yang menelepon Istrinya itu adalah laki-laki lain.
Karena itu, ketika nomor itu kembali menghubungi nomor miliknya Revina, Dhavin pun langsung mengangkatnya.
-“Revina, ini aku, Adel. Masih ingat kan?”- Kata wanita di ujung telepon ini, yang mengatakan dirinya sendiri bernama Adel?
‘Adel? Memangnya dia punya teman bernama Adel?’ pikir Dhavin.
-“Ayo…masa kamu diam saja, jahat loh kalau diam saja.”- Imbuh Adel.
__ADS_1
‘Jahat? Bukankah yang jahat itu adalah kamu sendiri? Kenapa mengatakan istriku jahat? Tidak bisa dibiarkan ini.’ Merasa terpancing dengan cara bicara Adel yang cukup blak-blakan begitu tanpa mengatakan halo atau apapun, Dhavin pun mengatur suaranya, lalu menjawab. “Aku ingat, memangnya ada apa?” Sahut Dhavin. ‘Jangan sampai Revina tahu, kalau aku bisa menirukan suaranya.’ Batin Dhavin.
-”Aku dengar dari teman kita, kalau kamu sudah tidak tinggal desa lagi? Dan sekarang kamu katanya tinggal di luar negeri?”-
‘Apakah Revina memberitahu teman-temannya? Itu memang tidak masalah sih, selama ada aku, aku pasti bisa melindunginya. Hanya saja wanita ini, dari cara bicaranya, dia pasti memiliki maksud lain.’ Dhavin pun di buat berpikir keras. “Memangnya ada apa?” Tanya Dhavin dengan nada ketus.
-”Kebetulan saat ini aku sedang berada di negara yang kamu tinggali, bagaimana jika kita bertemu? Selagi aku ada disini, aku sangat ingin lihat kabarmu itu. Bisa kan?-
Edel benar-benar berharap bisa bertemu dengan Revina?
Dhavin pun mendelik tajam kearah pintu kamar mandi, dimana di balik pintu itu saat ini Revina sedang tertidur, dan ‘Dan kamu ingin menemuinya? Ok aku akan kabulkan itu, sekaligus aku ingin tahu apa niatmu yang sebenarnya.’
Sudah diputuskan, bisa mendapatkan permainan kecil yang lagi-lagi menyangkut Revina, Dhavin pun mengiyakan permintaannya.
“Kapan dan dimana?”
-”Aku maunya sekarang, kebetulan aku sedang ada di cafe xxx, datang saja kesini. Tahu kan tempatnya?”- Ucap Adel.
‘Hahh…aku pikir mau dimana, dia ingin membuat Revina pergi ke tempat itu? Disana bukan sekedar cafe, disana ada sebuah bar juga. Kalau sudah seperti ini, berarti sudah jelas, kalau wanita ini punya maksud tertentu. Siang tadi Freddy, dan ternyata Ibuku juga turut andil, lalu sekarang Adel? Aku akan layani kalian satu persatu.’ Dengan senyuman miringnya, dia akhirnya bisa mendapatkan malam yang bagus. “Baiklah, tunggu disana, aku akan kesana sekarang.” Jawab Dhavin, dengan suara khas milik Istrinya yang bisa dia tiru dengan mudah.
__ADS_1
ZRASSHH…
Dhavin pun kembali melanjutkan ritual mandinya, sekaligus akan bersiap untuk melakukan pesta kecil bersama dengan seseorang.