
Sore itu, setelah perbincangan Dhavin dengan Freddy yang lumayan menguras waktu sampai Revina makah jadi terbawa tidur sendiri di dalam pelukannya Dhavin, Revina sontak saja langsung bangun dari tidurnya.
Ya. Karena tanpa sadar tertidur, dan di pindahkan ke kamar, Revina segera bangun dan mencari-cari Dhavin sekarang ada di mana.
'Dhavin, dia ada dimana?' Revina menuruni tangga dengan cepat sambil celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari tahu keberadaan dari Dhavin Calvaro.
Di ruang makan tidak ada, ruang tamu, keluarga, ruang kerja, Revina mengunjungi sattu per satu setiap ruangan.
'Apa dia sudah pergi?' Satu pertanyaan yang begitu memberatkan hati Revina, akhirnya muncul juga.
Dia yang sedikit lelah berkeliling ke semua tempat di rumah itu, perlahan ekspresi wajahnya jadi lesu.
'Padahal jika ingin pergi, seharusnya kan dia pamit dulu. Aku mengizinkannya pergi karena terlihat kalau pertemuannya cukup penting. Tapi apa karena merasa enggan untuk membangunkanku, dia jadinya pergi tanpa pamit?' Revina sedikit menyesal, karena dalam seminggu ke depan, dirinya tidak akan bertemu dengannya.
Wajahnya dan tubuh, serta tingkah juga gombalannya. Meskipun sudah jelas kalau Dhavin orang yang sibuk, tapi tetap membuat godaan kepadanya, Revina sebenarnya cukup senang dengan cara Dhavin memperlakukannya.
Walupun cukup melelahkan meladeni tingkah Dhavin yang begitu manja namun tetap saja terus menggodanya tanpa lelah, Revina sejujurnya tidak begitu mempermasalahkannya.
Tapi...
Apa semua itu sudah berakhir?
Revina pun berdiri di depan tangga, sampai ada salah satu orang pelayan yang datang, Revina mencoba bertanya.
"Hal Nyonya," Memberikan salam hormat.
"Iya. Apa kau lihat Dhavin?" Tanya Revina, merasa gelisah juga penasaran.
"Tuan besar? Saya tidak tahu Nyonya, saya baru saja kembali dari luar." Jawab pelayan ini, dan di buktikan dengan dua tas khusus yang di buat seperti koper, dengan ada nya roda, maka semua bahan makanan pun tersimpan dengan baik.
__ADS_1
"Baiklah, kamu boleh pergi." Kata Revina, tersirat rasa kekecewaan karena belum menemukan seseorang yang ia cari-cari itu.
"Kalau begitu saya permisi." Pelayan ini membungkuk hormat dan kembali menyeret tas yang ia bawa ke dapur.
Tas yang membawa sayuran terbaik ke dalam kulkas utama, sedangkan bahan makanan yang lainnya, di simpan di dalam gudang penyimpanan, dimana semua bahan makanan di antar dengan truk.
Tentu saja, setiap seminggu sekali akan ada satu truk yang membawa semua keperluan untuk para anak buah Dhavin, jadi hari ini di luar jadi sedikit ramai.
Meskipun ramai, nyatanya tidak dengan hatinya. Hati yang sudah di curi dan di penjarakan oleh Dhavin, membuat Revina sungguh-sungguh tidak mampu melarikan diri, dan yang ada adalah dirinya tidak bisa hidup tanpanya.
Rasa sepi yang tiba-tiba saja melanda, Revina pun berjalan menuju area kolam renang yang ada di sebelah kanannya di depan sana.
Terlihat ada burung yang jatuh dan kesulitan untuk keluar dari sana.
"Kasihan, kalau tenggelam, bagaimana?" Merasa kasihan dengan burung kecil itu, Revina yang kebetulan sedang gerah, masih dengan pakaian lingerie, gara-gara ternyata saat bangun pakaiannya sudah di ganti oleh Dhavin, maka terus terang saja Revina sekalian saja bermain air di sana.
Sesampainya di tepi kolam, dengan hati-hati Revina masuk.
"Cip...cip....cip...!" Burung pipit berwarna coklat sedikit hitam itu terus mengepakkan sayapnya, berharap agar tidak tenggelam, tapi karena adanya luka yang di miliki burung ini tepat di bagian leher, maka dari itu burung tersebut kesusahan untuk terbang, padahal burung ini termasuk burung yang bisa terbang lagi sekalipun sayapnya basah.
"Ulululu, kau terluka ya?" Ucap Revina, entah kenapa merasa kasihan tapi juga gemas sendiri melihat perjuangan dari burung tersebut, sehingga saat terbawa suasana hati yang kian membaik, mulutnya jadi manyun sendiri. "Aku jadi ingin menggigit kepala kecilmu itu.
"Ciippp!"
Revina mengerjapkan matanya, melihat burung itu seolah mengerti ucapannya, sehingga memperlihatkan ketakutannya.
Namun, tidak ada banyak waktu lagi untuk menonton burung yang sedang berjuang hidup, Revina pun mengulurkan tangannya ke depan, dan dengan perlahan mengambil tubuh kecil dengan ukuran sebesar telapak tangannya, jika di ukur dengan bulunya.
"Cip! Cip! Cip!"
__ADS_1
Masih saja memberontak ingin lepas, Revina mencoba menenangkannya dengan mengelus punggung dari tubuh burung itu.
"Jika kamu bergerak terus, yang ada, lehermu patah loh." Ucap Revina, tapi si burung kecil, nampak tidak peduli, asal bisa keluar dari tangan nya Revina.
"Cip!"
"Pfftt..., sudah luka, masih saja memberontak terus." gumam Revina. Ia lebih dulu untuk keluar dari kolam untuk meletakkan burung itu di suatu tempat dan menyuruh seseorang untuk merawatnya.
Namun...
Tepat di dasar kolam, ada seseorang yang sedang mengintainya.
Mata yang begitu tajam itu, terus menatap sepasang kaki Revina yang memperlihatkan semuanya, gara-gara ujung dari lingerie itu mengambang di permukaan air.
Revina nampak biasa-biasa saja, karena dia mengira sedang sendirian saja di sana, akan tetapi rupanya tidak.
"........." Melihat Revina hendak pergi dari kolam, sosok ini pun berenang dalam keadaan cukup senyap. Dia sedang mengincar Revina, dan terus bergerak berenang mendekatinya.
Dari sepuluh meter, jadi enam meter, mengikis jarak diantara mereka berdua hingga menjelang saat Revina sudah ada di pinggir kolam dan tinggal naik, salah satu tangannya terulur ke depan, dan..
"Aku antarkan kam-" Kalimatnya seketika terpotong saat salah satu kakinya tiba-tiba saja di sergap oleh seseorang. 'Apa?'
GREPP...
Dengan kekuatan yang di milikinya, tangan tersebut langsung menyeret tubuh Revina, sampai Revina yang sudah naik satu tangga, langsung terpeleset, dan
BYUURRR.....
Burung yang ada di tangannya pun langsung terlempar ke atas, dan tubuh Revina langsung di tarik masuk kedalam kolam renang.
__ADS_1
"Mpphh...!" Revina cepat-cepat menutup mulutnya, dan menahan nafasnya. 'Siapa yang menarikku? Apa ada yang menyusup ingin menculikku lagi?'