
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya seorang pria awal lima puluh tahunan ini pada salah satu anak buahnya.
"Maaf Tuan, saya belum menemukannya. Tapi untuk perkembangannya sendiri, Nona Adel malam tadi mengikuti pesta kolam renang yang di adakan di ruah Tuan muda Vian.
Kami masih menyelidikinya, Nona Adel memang datang ke sana, tapi tidak ada satu orang pun yang melihat Nona Adel pergi bermain bersama mereka semua.
Dengan kata lain, Nona mempunyai tujuan lain datang kesana."
Hanya mendengar kalau Adel pergi ke kediaman dari rumah Vian yang merupakan pewaris baru dari keluarga Balseron, laki-laki ini langsung mengepalkan tangannya dengan erat.
'Kenapa anak itu malah datang ke sana. Apa dia tidak tahu kalau Vian itu punya hubungan erat dengan Dhavin? Dasar anak bodoh, kalau seperti ini aku jadi kerepotan.'
Pikirannya jadi tidak karuan, mengingat kalau Vian memang punya hubungan yang sangat erat dengan Dhavin dari keluarga Calvaro itu. Dan tentu saja ia tahu, apa posisi dari Dhavin Calvaro, dia adalah seorang Bos mafia, demi mendapatkan banyak pemasukan, Dhavin adalah orang yang suka menyelundupkan segala jenis senjata dengan segala cara.
"Apakah anak itu juga datang kesana?"
"Anak yang mana ya Tuan?" Tanyanya dengan wajah polosnya.
Pria ini menghela nafas frustasi, lalu menjawab, "Dhavin, jika Vian ada ada di negara ini, berarti anak itu juga ada di sisinya."
"Itu benar, beliau juga datang. Apakah ini berarti, Nona Adel ada kemungkinan ada sangkut pautnya dengan Tuan Dhavin juga?" Terka anak buah Felinst ini.
Dan Felinst adalah Ayah kandung dari Adel.
"Pasti, ada kemungkinan besar seperti itu. Walaupun aku ingin mengatakannya tidak mungkin, tapi apapun yang berhubungan dengan anak itu, pasti akan jadi mungkin." jawabnya.
"Kalau sudah seperti itu, berarti kita harus menyelidiki ma-"
"Tidak perlu. Aku tidak ingin mengambil resiko seperti itu hanya karena anak bodoh itu." Kata Felinst.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Nona A-" Sampai kalimatnya terpotong, sebab ada suara dari luar.
"Sayang, apakah kamu masih lama? Sudah saatnya makan siang."
Felinst memberikan kode kepada anak buahnya itu untuk pergi lebih dulu, dengan dalih membukakan pintu untuk sang Nyonya rumah, Istrinya Felinst, Clara.
KLEK...
"Nyonya, kami sudah selesai, Tuan bisa di ajak makan siang bersama." Senyuman ramah itu diberikan untuk sang Nyonya rumah.
"Baiklah, terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama Nyonya."
Pelayan ini pun keluar dari ruang kerja milik Tuan besar, lalu di susul dengan Clara yang kemudian masuk untuk menjemput suaminya itu makan siang bersama.
Dengan wajah ramahnya, wanita ini berjalan masuk kedalam ruang kerja milik Felinst. "Sayang, kenapa wajahmu terlihat seperti gelisah seperti itu?"
"Oh, itu karena aku bingung, kira-kira hadiah apa yang akan kita berikan kepada putra kita? Sebentar lagi dia kan ulang tahun, tapi aku masih bingung." Padahal bukan itu yang sedang dia pikirkan, karena anak yang ada di dalam pikirannya itu justru adalah Adel, yang di culik dan kemungkinan ada di tangan Dhavin.
"Itu kan masih dua bulan lagi, kenapa sampai di bawa kepikiran seperti itu? Dia sudah mau menginjak dua puluh empat tahun jadi tidak perlu di buat beban seperti ini. Ingat kan, dia tidak suka di anggap anak kecil lagi, apa lagi memberikannya hadiah?" Jelas Clara. Setelah menjalin hubungan dengan Felinst selama hampir dua puluh delapan tahun, mereka berdua hanya memiliki satu anak laki-laki.
Tapi sayangnya, Clara sama sekali tidak tahu, bahwa di belakang Clara ada satu orang wanita selingkuhannya Felinst yang juga sudah punya anak, yaitu Adel, dan Felinst selama ini berhasil menimbun rahasianya itu dari Istri sah nya.
"Yah~ Mungkin ini efek Ayah masih tidak percaya kalau anak kita sudah sebesar itu, jadi sering lupa." Sebuah alasan kembali keluar dari mulutnya.
'Ada yang aneh, reaksi wajahnya mana mungkin bisa terlihat seperti orang yang sedang cemas jika hanya menyangkut hadiah.' Clara jadi sedikit curiga. Tapi karena ia tidak memiliki barang bukti jika hanya bermodalkan kecurigaan, membuat Clara mencoba untuk mengalihkan pikirannya tadi. "Kalau begitu kita makan sebelum makanannya dingin."
Clara menarik salah satu tangan Felinst, dan membawanya pergi ke ruang makan untuk makan bersama.
_____________________
"Bagaimana Nyonya? Apakah sudah pas?"
Dan sekarang, tubuhnya sedang di pijat. Rasa lelah yang sempat dia dapatkan perlahan menghilang, karena otot yang sempat tegang karena selalu mengacu pada semua perasaan juga, perlahan jadi rileks.
Setelah sekian lama, ia kembali menikmati hidup yang terasa menenangkan.
Setelah menjalaninya selama lebih dari setengah jam, dia akhirnya berendam dengan air susu?
Entah itu apa, tapi memang seperti susu?
Asli? Revina tidak mau mencicipinya.
Dan taburan kelopak bunga mawar sebagai keindahan. Entah apa efeknya, Revina sama sekali tidak tahu dan tidak peduli.
Begitulah proses untuk mandi. Dan setelah mandi, barulah dia di rias?
GLUK.
Revina menatap horor paket lengkap untuk merias wajahnya yang di perlihatkan oleh Arlsei?!
"A-Arlsei?"
__ADS_1
"Ya Nyonya?" Menata satu persatu bedak, lipstik, maskara, bahkan ada masker juga, entah apa lagi, sampai Revina sendiri sungguh, dia tidak tahu apa-apa soal make up karena dia sangat menghindari itu.
"K-kamu mau apa dengan semua itu?" Padahal kelihatan jelas, Arlsei sudah memakai sarung tangan khusus, karena Arlse lah yang akan meriasnya.
"Karena saya yang akan merias sekaligus menata rambut anda."
Bomm...
Tebakannya tepat sekali. "T-tapi i-itu...itu,"
Benar-benar, Revina ingin menjauhi arena perang itu, membuat wajahnya seperti di timpa dengan aspal.
"Apa boleh jangan menggunakan make up?" Tanya Revina memohon. Bahkan saat ia ingin kembali masuk kedalam kamar mandi, pelayan berambut pirang itu sudah ada di belakangnya persis, dan mendorong tubuh Revina ke arah depan.
"Tidak boleh Nyonya. Anda harus tampil lebih memikat agar Tuan semakin terpesona dengan anda." beritahu pelayan ini, bahwa make up adalah sebuah keseharusan, agar bisa menampilkan kecantikan untuk memikat pria?
'Tapi Dhavin itu sudah terpikat seperti lem! ' Teriakan hati yang tidak bisa di dengar oleh orang lain itu hanya bisa di dengar dirinya sendiri. 'AKu terpesona, dan dia lebih gila lagi terpesona denganku yang punya sikap aneh. Kenapa aku harus pakai riasan? Hahhh~ Aku sangat tidak suka.' Racau Revina.
Tapi akhirnya dia sudah duduk di depan meja rias.
Saat itulah, aroma menyengat dari berbagai barang pendukung dari make up, menyeruak masuk kedalam hidungnya.
"T-tunggu-" Revina menghentikan Arlsei yang ingin menyentuh wajahnya. "Aku ingin mundur lagi. Dan Kursinya pun dia mundurkan ke belakang, karena dia tidak mau dekat-dekat dengan senjata yang tidak bersahabat untuk diri Revina. "Sudah, silahkan mau melakukan apa saja." Akhirnya Revina jadi berkata dengan hati yang pasrah.
"Saya akan mulai. Anda mau tidur lagi juga boleh."
"Bisa saja kamu." Dengan patuh, Revina pun memejamkan matanya. Dia akan menunggu hasilnya setelah dia tidur.
"Ya, karena saya memang serba bisa." Balas Arlsei.
"............" Revina terdiam. Laki-laki ini memang kelewat serba bisa. Yang tidak bisa hanyalah senyum, bahkan jika memang senyum, justru seperti senyuman membunuh. Hanya dengan sekali tatap, langsung merinding.
Tapi karena sering bertemu setiap hari, Revina sama sekali tidak merasakan adanya ancaman apapun dari laki-laki ini, selain ancaman kalau wajahnya dengan wajah Arlsei cukuplah dekat, sampai Revina sudah mulai merasakan hembusan nafas yang cukup menggelitik di wajahnya.
Itu memang nafas yang cukup pelan, seolah di atur agar tidak terlalu mengusiknya, tapi bagi Revina, itu tetap saja terasa.
'Lagi-lagi Nyonya wajahnya tersipu.' Dan sayangnya, Arlsei diam-diam telinganya ikut jadi merah padam karena ia pertama kalinya wajahnya bisa sedekat itu dengan wajah milik sang Nyonya.
'Tuan Arlsei ternyata bisa tersipu juga. Tapi untung saja Tuan Dhavin tidak ada di sini. Kalau di sini pasti Tuan Arlsei akan mendapatkan masalahnya sendiri.' Pikir pelayan ini.
Karena saat ini prosesnya hanya untuk merias wajah sang Nyonya, ia pun pergi dari sana untuk memberikan ruang untuk kedua orang itu.
__ADS_1