
"Sudah, kamu boleh keluar." Melepaskan pelukannya dari Dhavin yang justru terlihat sedang duduk santai dengan tawa kecil yang hampir tidak terengar sama sekali.
"Habis sepah, lalu di buang ya?" Goda Dhavin, sembil meraih wajah Revina yang terlihat sudah sembab karena tadi sempat menangis. "Aku masih belum selesai mandi, kamu bisa keluar lebih dulu." ucap Dhavin, tangannya tidak henti-hentinya mengusap wajah Revina yang lembut itu.
Terlihat ingin sekali, Dhavin bisa memakannya. Tapi dia harus sadar diri, karena saat ini bukan waktunya, dan waktu juga masih panjang agar istrinya ini bisa sembuh total dari segala halangan yang membuat Dhavin harus berpuasa penuh lagi.
"Kamu belum menjawabku, atas pertanyaanku yang tadi." Ucap Dhavin, menuntut.
"Yang tadi apa?" Revina bertanya seolah lupa.
"Kalau kamu memancingku dengan pikiranmu yang seolah-olah lupa, tanggung jawab dengan ini." Tangan kirinya menunjuk apa yang ada di bawah sana.
"Iya...iya." Revina tersipu malu, mendengar jawabannya sendiri yang mengiyakan pertanyaan Dhavin beberapa saat lalu.
Soal apa? Awal mula yang membuat hubungan terasa lebih menyenangkan, daripada hasil akhir yang Revina dapatkan itu.
Dhavin tentu saja senyum penuh kemenangan, dia akhirnya bisa mendapatkan Izin dari sang Istri tercintanya untuk kembali bermain, jika kondisi tubuh Revina sudah benar-benar pulih total.
Jauh-jauh hari sudah mendapatkan Izin eksklusif?
Siapa yang tidak senang karena akhrinya Dhavin bisa mendapatkan kembali apa yang diinginkannya selama hampir satu tahun ini karena Dhavin harus berpuasa gara-gara Revina ini hamil.
Akan tetapi untuk yang kali ini, tentu saja Dhavin akan menyiapkan segala cara, "Untuk yang selanjutnya, aku akan menggunakan pengaman, jadi kita berdua bisa bersenang-senang tanpa khawatir kamu hamil lagi. Aku benar-benar tidak ingin membuatmu menderita. Ya?" Beritahu Dhavin dengan misi selanjutnya.
"Hmm." Dehem Revina, malu-malu untuk sekedar menjawab tawaran yang diberitahukan Dhavin kepadanya.
Dhavin dalam diam tentu saja tersenyum cerah.
Sekali lagi dia akhirnya mampu membujuk Revina yang tadi pagi marah, sekarang sudah kembali di buat luluh lagi.
"Atau mau mandi bersama lagi?" Tawar Dhavin sekali lagi.
Sebuah sorotan mata penuh makna yang di perlihatkan Dhavin kepada Revina pun menjadi daya tarik Revina sendiri yang hatinya kembali di buat lumer karena tingkah aneh sekaligus terlalu bucin?
"Hmm....tapi aku tidak mau berendam." Lirih Revina, meminta agar proses mandi bersamanya itu hanya sebatas mandi yang biasa saja.
"Baiklah."
Lagi-lagi dua orang yang tidak kenal waktu untuk melampiaskan keinginannya masing-masing menjasi sebuah pemandangan yang akan terus di perlihatkan hampir setiap waktu di dalam kamar yang di huni oleh sepasang suami istri ini.
__ADS_1
Sungguh pemandangan yang memperlihatkan kemesraan, sampai membuat siapapu iri karena masih jomblo.
Di dalam kamar mandi yang saat ini sudah di selimuti kabut putih itu, tampillah dua orang insan yang masih muda itu untuk melakuan ritual bersama.
Dhavin, pria tinggi besar dengan jutaan pesona yang dari luar terlihat seperti orang yang mampu menguasai seluru hal di dunia dalam genggamannya dengan segala cara yang di miliki entah itu cara baik atau salah, bukan dari hati tapi dari akal pikirannya, maka hal itu pun Dhavin lakukan juga untuk menaklukan wanita yang saat ini sudah menjadi Istrinya ini.
Perbedaannya tentu saja terdapat dari cara yang dia gunakan untuk wanita ini, yaitu harus dari pikiran tapi juga hati.
*
*
*
ZRASSH....
Dalam waktu yang singkat, Dhavin lebih memilih untuk langsung mengguyur tubuh Revina yang masih menggunakan pakaiannya.
Karena disinilah, letak di mana aura dari wanita muda yang lagi-lagi Dhavin rindukan, keluar juga.
"Aku kan masih belum melepaskannya, kenapa langsung mengguyurku?" Protes Revina.
"Tapi- ini sangat risih."
"Makannya aku sedang membantumu untuk melepaskan ini." Dhavin tentu saja saat ini sedang melepas satu per satu kancing yang ada pada baju yang Revina pakai itu, agar kedua sisi dari baju itu terlepas dan membukakan pintu menuju kebebasan.
"Padahal aku bisa melepaskannya sendiri." Tatap Revina melihat tingkah dari satu orang pria bertubuh beruang itu saat ini justru sedang berlutut di depannya agar bisa melepaskan semua kancing baju dan sekaligus semua yang Revina pakai?
"Ini kemauanku, duduk saja." Balas Dhavin, tidak lepas untuk terus menaruh perhatian apa yang bisa dia lihat saat ini.
Revina yang saat ini sedang duduk di depannya, terus memberikan tatapan hampa.
Karena apa?
'Dia ini, sangat posesif sekali kepadaku.' Pikirnya. Semua yang di lakukan oleh Dhavin pun selalu di atas namakan dari sebuah kemauannya Dhavin sendiri.
Apakah akan seperti ini terus?
Hubungannya ini?"
__ADS_1
Setelah terbuka, akhirnya Dhavin bisa melihat apa yang memang ingin dia lihat. Revina, duduk dengan tubuh polos penuh pesona, dan itu pun berhasil memikat jati diirnya sebagai seorang pria.
"Kamu cantik,"
Revina hanya diam sambil menatap wajah dengan mata sayu milik Dhavin yang baru saja mengatakan cantik kepadanya? 'Apa aku secantik itu, sampai dia selalu membuat ekspresi wajah seperti ini? Padahal-' Revina pun menyentuh wajahnya sendiri yang saat ini tengah di pegang oleh Dhavin juga. 'Padahal bagiku biasa saja.'
Dhavin memegang kedua tangan Revina agar tidak mengganggunya untuk diri Dhavin yang sedang menikmati wajah Istrinya itu, sampai dimana Dhavin akhirnya mendaratkan kepalanya di dada Revina dan mengecup buah dada Revina.
"Anghh~" Sampai Revina jadi melenguh karena geli. "Dhavin, apa kamu..gila. M-masa m-minum su-"
"Kan aku sudah bilang, aku dari awal memang penasaran, Levine dan Louisa bisa menikmatinya dengan mudah, masa aku yang suamimu ini, tidak bisa. Aku kan penasaran,"
"Tapi itu, aneh Dhavin. Lidahmu it- Ah~" Revina sejujurnya sudah berusaha untuk mendorong kepala Dhavin ini dari sana, tapi karena pinggangnya saat ini sudah di peluk dengan serat dengan menggunakan tangan kekar milik Dhavin ini, maka semua usahanya sia-sia selain merasakan geli di ujung sana, karena bibir dan lidah Dhavin yang begitu panas.
"Nyum...nyum..nyum..." Dhavin tidak menghiraukan lenguhan emas yang dilakukan oleh Revina itu, karena yang terpenting saat ini akhirnya dia bisa meraskaan apa itu namanya *****.
"Dhavin..masa kamu sampai seperti ini?" Karena sensasinya jelas berbeda ketika memberikannya kepada levine dan Louisa, Revina jadi tak kuasa untuk tidak menjambak rambut Dhavin. "Katamu..mandi bersama."
"Ini juga termasuk mandi bersama." Melepaskannya sebentar lalu kembali mengulum benda kecil dan lembut itu dengan penuh perasaa.
"Tapi..aku..aku tidak mau kelamaan di disini."
Beritahu Revina, masih menahan suasana aneh yang sedang di buat Dhavin ini karena berhasil menipunya.
"Kenapa? Aku kan seharian ini sudah berpisah denganmu, jadi aku ingin lebih dekat denganmu di sini." Llau berpidnah haluan dari kiri ke kanan. "Yum..nyum...nyum..."
"Kalau gitu, rasanya asin sekali atau tidak? Kamu bilang nasi goreng yang asin itu bisa membuat susuku asin."
"Tidak begitu," Jawabnya. Lalu kembali melanjutkan urusannya untuk sesuatu yang kenyal itu.
"Ah~ J-jangan di gigit." Semakin mencengkram rambut Dhavin dengan kuat.
*
*
*
'Kenapa aku bisa memiliki dua majikan seperti ini?' batin Lisa, dia masuk kedalam kamar diam-diam untuk mengambil semua kantong yang berisi susu ASI milik nyonya nya untuk dia gunakan sebagai pengisi botol dot yang akan dia berikan kepada Levine yang sungguh rakus karena dalam waktu singkat ingin lagi, padahal saat ini Revina justru sedang memberikan ASI itu kepada bayi raksasa.
__ADS_1