
Menjadi dua orang yang terlalu bucin untuk mencintai satu sama lain, tak terasa hari kian menjadi larut malam, dan bulan pun sudah mulai beranjak dari tempatnya, dengan bukti bulan purnama sudah berada di atas mereka persis.
‘Dia sudah tidur?’ Pikir Dhavin ketika ia melihat Revina sudah sepenuhnya diam, dan menandakan kalau Revina memang sudah tertidur cukup pulas.
Di samping Dhavin terus memperhatikan wajah polos Revina yang terlihat seperti anak kecil, ketika sedang tidur itu, terbesit rasa penyesalan.
Gaun putih bersih, yang seharus mewakili kesucian itu pada akhirnya berakhir dengan darah yang mewarisi darah kotor.
‘Padahal aku pikir tangannya ini tidak akan pernah membuatnya memegang senjata.’ Dhavin menggenggam tangan ramping milik Revina yang beberapa waktu lalu, justru digunakan untuk melakukan hal lain selain digunakan untuk hal sepele yang sangat Dhavin kenal, seperti menggendong anak nya.
Tapi semua angan-angan yang di miliki oleh Dhavin, ternyata hanya berakhir begitu saja, dengan kondisi Revina yang terlihat tidak begitu baik.
‘Seharusnya Ibu sudah puas dengan hasilnya.’ Sebenarnya Dhavin tidak rela, tidak rela menemukan kenyataan kalau sekarang Revina perlahan jadi berbeda dengan yang dulu.
Yang Dhavin harapkan adalah Revina bisa menjadi dirinya sendiri yang punya sifat apa adanya, hidup dengan sederhan, dan tidak terpicu dengan keadaan yang tidak seharusnya Revina hadapi, seperti pembunuhan.
‘Tapi, semuanya terlambat. Kamu sudah mengetahui posisi apa yang ada di belakangku. Posisi yang sebenarnya tidak layak untuk di banggakan, benar kan, Revina?’ Punggung jari telunjuk jari kanannya pun mengusap pipi Revina yang halus itu.
Hingga Dhavin menyadari kalau kulit dari jari telunjuknya itu merasakan ada sesuatu yang cukup kesat, yang tidak lain adalah air mata yang sudah mulai kering.
Melihat hal itu, hatinya jadi merasa sakit, sebab karena dirinya, Revina jadi kembali di buat menangis.
“Revina~” Panggilnya. Suara lirih yang langsung tersapu oleh angin lembut yang tiba-tiba datang itu perlahan membawa Dhavin untuk menundukkan kepalanya dan akhirnya ia pun mendaratkan bibirnya di atas bibir Revina yang tertutup rapat.
CUP.
__ADS_1
Setelah kecupan singkat itu berakhir, Revina yang kebetulan itu memang dalam posisi dipangku di atas pangkuan kedua pahanya Dhavin, membuat Dhavin langsung mendaratkan kepalanya di atas dada Revina, dan semakin mendekapnya dalam pelukan yang semakin Dhavin eratkan.
“Revina, aku tidak tahu sudah berapa kali aku mengatakan ini, tapi aku benar-benar minta maaf kepadamu, karenaku kamu selalu berjuang sendiri.” Ungkap Dhavin dengan bisikan kecil.
Sampai Dhavin tiba-tiba saja membelalakkan matanya saat ia sadar kalau kalimat permintaan maafnya itu terkesan tidak sesuai dengan apa yang sudah di lakukan oleh Revina selama ini, Dhavin jadi meralat ucapannya.
“Tidak, bukan itu. Bukan itu yang seharusnya aku katakan kepadamu. Demi aku, dan demi kedua anak kita, kau sudah berjuang untuk bertahan, jadi …aku mengucapkan terima kasih, terima kasih karena masih mau berada di sisiku, Revina.” Imbuhnya dengan suara yang terdengar parau.
Bagaimana tidak, Dhavin saja entah datangnya dari mana, rasa sesak di dada membuatnya sangat kesulitan untuk menata kalimat yang harus ia ungkapkan dengan benar. Meskipun terasa tidak berguna, sebab Revina sedang tertidur, tapi Dhavin tetap mengunkapkannya, karena ia tidak tahu apakah jika ia mengatakannya langsung di depan Revina yang sadar, ia akan mengatakannya dengan lebih benar?
“Bos, kami sudah membersihkan tempat ini. Apakah anda mau di kawal?” Datang salah satu anak buah Dhavin, memberitahukan bahwa semua pekerjaan mereka sudah dikerjakan dengan cukup baik.
Mendengar anak buahnya bertanya, Dhavin pun mengangkap kepalany dan merotasikan pandangannya ke segala arah.Terlihat kalau beberapa truk tronton, pemadam kebakaran, beberapa mobil, mereka sudah bersiap untuk pergi.
Dan sekarang mereka sedang mennunggu perintah baru apa yang harus di lakukan oleh mereka semua selaku menjadi anak buah dari pria yang tengah di landa kerinduan dan rasa bersalah itu.
“Tidak perlu. Kalian bawa saja mereka semua dari sini.” Perintah Dhavin.
“Baik, Bos.” anak buah Dhavin ini pun membungkukkan tubuhnya, dan langsung memberikan kode berupa gerakan kedua tangan di atas kepala, sehingga tanpa sepatah kata kepada semua rekannya itu, mereka semua langsung bergegas masuk kedalam kendaraan mereka dan segera pergi dari sana, meninggalkan Bos mereka berdua dengan Revina.
Setelah lima menit berlalu, Dhavin memutuskan untuk membungkus Revina di dalam selimut yang sudah di siapkan oleh anak buahnya itu, dan kemudian dia akhirnya membawanya masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
______________
KLEK.
__ADS_1
“Selamat datang Tuan,” Sapa Arlsei, ia lebih dulu pulang untuk menyambut kepulangan dari majikannya itu. “Apa anda perlu sesuatu yang harus saya siapkan?”
“Tidak perlu, kamu Istirahat saja, dan laporkan apa yang sudah terjadi hari ini besok siang, bersamaan dengan mereka berdua.” perintah Dhavin.
Karena hari ini mereka semua, termasuk dirinya juga Revina merasa lelah, sudah pasti tidur akan berlangsung melewati jam sarapan pagi, maka dari itu Dhavin menyuruh Arlsei lah yang memberitahu Freddy dan Vinella untuk melporkan semua yang perlu di beritahukan kepada Dhavin, besok siang.
“Baik, kalau begitu saya permisi.” Kata Arlsei. Namun belum juga mengambil satu langkah untuk pergi, Dhavin tiba-tiba berbicara lagi.
“Sebentar,” Dhavin pun sama-sama menghentikan langkahnya, dan kembali melihat Arlsei dari atas sampai bawah. “Kamu baik-baik saja kan?”’
“Apakah Tuan khawatir terhadap saya?”
“Kenapa kamu malah bertanya balik dengan sesuatu yang sudah jelas?” Tatap Dhavin terhadap Arlsei yang penampilannya masih sedikit berantakan, sebab sekalipun sudah berganti pakaian, bukan berarti Arlsei sudah benar-benar bersih, sebab rambutnya saja ada tersimpan beberapa daun kering juga rumput kecil.
Dengan tampang wajah seperti dinding, Arlsei yang menatap Nyonya nya itu sedang di gendong dalam keadaan tertidur, alias pura-pura tertidur, hanya menjawab : “Seperti biasa, saya tidak apa-apa.”
“Apa kamu butuh liburan?”
“Sepertinya tidak perlu juga, karena anda sendiri sama sekali tidak menikmati liburan anda setiap waktu sebab mencemaskan Nyonya, jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan saya.” Jelas Arlsei, membuat Dhavin sendiri kehilangan kata-katanya untuk membuat dalih lain agar pembicaraannya sedikit panjang.
‘Tch, kenapa aku jadi malu sendiri. Walaupun anak ini lebih muda dariku, jelas dia lebih dewasa dariku.’ Pikir Dhavin dengan senyuman tipis yang langsung menghilang begitu saja. “Selama ini kamu sudah bekerja keras, jadi jika kamu ingin ambil cuti, katakan saja kepadaku.”
Tanpa mendengar jawaban dari Arlsei, Dhavin melanjutkan perjalanannya menuju lantai dua, dimana tempat Dhavin bernaung dalam kasih rindu bersama Revina berada, ada di atas sana.
“Tuan, memang sudah berubah.” Gumam Arlsei, menatap kepergian dari Dhavin.
__ADS_1