Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
147 : DBMJCP : Sakit perut


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar, Dhavin meletakkan tubuh Revina secara perlahan. 


Niatnya, Dhavin mencoba agar tidak membangunkan Revina dari tidurnya, tapi sayangnya Revina sendiri sudah lebih dulu membuka matanya, tepat di saat Dhavin sudah meletakkan tubuh Revina di atas tempat tidur, dan posisi dari Dhavin sendiri, tepat persis di atasnya Revina. 


“Dhavin? Dimana kita?” satu pertanyaan yang terlontar begitu saja, karena Revina baru bangun, jadi masih dalam keadaan bingung?


“Kamu pasti berpura-pura tidur, kan?” Tebak Dhavin dengan bisikan kecil tepat di depan wajahnya Revina persis. 


“Tidak, aku tadi tidur betulan.” Matanya langsung jadi melek, gara-gara Dhavin sudah menebak dengan benar, kalau beberapa saat tadi, sebenarnya Revina memang tidak tidur, tapi sebenarnya Revina juga tidur, dan sudah terbangun, tepat saat mereka sampai. 


Dhavin yang melihat dahi Revina mengkerut, karena tidak terima di tuduh, padahal tuduhannya itu separuh benar dan separuh salah, membuat Dhavin segera mengecup wajah dari ekspresi manis itu. 


CUP.


“A-apa kamu tidak merasa jijik?” Revina mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. 


“Kenapa tiba-tiba mengatakan jijik, padahal setiap hari saja, kita sering ciuman?” Tanya Dhavin, dia memang tidak tahu apa yang membuat Istrinya itu tiba-tiba mengatakan hal jijik soal ciuman yang baru saja Dhavin lakukan kepada Revina tadi. 


“Aku, tidak suka jika ada lipstik di bibirku.” Tukas Revina sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain, sedangkan punggung dari tangan kanannya itu dia seka ke atas selimut putih, dan memperlihatkan bekas lipstik yang akhirnya berpindah tempat ke atas permukaan selimut tersebut. 


Dhavin mengerjapkan matanya, betapa jijiknya Revina dengan ekspresi enggan itu saat mengatakan lipstik itu keluar dari mulut yang memang bagi Dhavin sendiri selalu senantiasa manis itu.


“Bagiku, karena yang menggunakannya adalah bibirmu itu, aku pikir tidak masalah sih.” Sampai setelah Dhavin mengatakan itu, Dhavin dengan sengaja menjulurkan lidahnya dan menijilan bibirnya sendiri. 


Membuat kesan seksi tiada tara di mata Revina sendiri. ‘D-dia ini, mentang-mentang dia tampan, apa dia akan selalu menggodaku seperti ini?’ 


TIdak kuasa menahan pesona wajah Dhavin yang begitu memikat, sampai Revina sendiri akan terus menatapnya tanpa berkedip sedikitpun, Revina dengan bu-buru menempatkan kedua telapak tangannya di depan wajah Dhavin dan mendorongnya agar menjauh darinya. 


“Menja-ahh..” Sayangnya, usahanya untuk menjauhkan wajah Dhavin dari hadapannya, malah membuat Dhavin kembali mendekatkan wajahnya lagi, dengan ekspresi wajah khawatir. 

__ADS_1


“Dimana yang sakit? Apakah lenganmu?” Tanya Dhavin, khawatir. 


“P-perutku, rasanya pegal.” Rintih Revina, sambil memegangi perutnya. 


Melihat ekspresi wajah Revina yang terlihat kesakitan, Dhavin dalam sekejap sudah menghilang dari sisi Revina. 


‘D-dia benar-benar tanggap sekali. Ini memang sakit sih, tapi memangnya bisa di sembuhkan? Padahal ujung-ujungnya aku harus istirahat kan?’ Pikir Revina, sambil mengusap perutnya. 


Perutnya sebenarnya sakit, gara-gara sempat di pukul oleh wanita misterius tadi, makannya Revina pun jadi bingung, bagaimana caranya dia mengatasi perut yang sakit, ah…itu benar-benar sakit, lebih dari kena kram perut, sampai Revina berpikir bahwa besok perutnya akan membiru. 


“T-tidak, aku tidak mau sampai itu terjadi.” Gerutu Revina, dia pun jadi semakin khawatir, karena kebetulan juga itu adalah perut yang baru saja di gunakan untuk menampung anaknya. ‘B-bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi kepada perutku?! Akhh! Tidak mau! Tidak, tidak, aku tidak mau itu terjadi. 


T-tapi, a-aku kan belum lama ini memang baru melahirkan, perutku aja kendor begini, dan tadi aku baru saja mendapatkan pukulan di perutku, a-apa yang akan terjadi?’


Semakin masuk kedalam rasa khawatir yang cukup mendalam, Revina yang ketakutan itu langsung membungkus tubuhnya dengan selimut. 


Tidak lama kemudian, Dhavin sudah membawa Arlsei masuk kedalam kamar mereka. 


Revina seketika langsung membuka selimutnya, dan memperlihatkan wajah ketakutannya itu kepada mereka berdua.


“Nyonya, apa yang anda rasakan? Kata Tuan, perut an- Ah~” Arlsei tiba-tiba jadi bungkam, karena ia sendiri juga melihat apa yang sebenarnya terjadi kepada Nyonya majikannya itu, alasan dari penyebab perutnya jadi sakit. 


“Kenapa kamu diam?” Dhavin semakin curiga dengan ekspresi Arlsei, meskipun datar seperti lantai datar, tapi tetap saja bagi Dhavin ada sebuah perbedaan seakan Arlsei sudah mengetahu semuanya, bahkan sebelum Revina mengatakan alasan dari perutnya yang sakit. “Apa yang sudah terjadi kepadanya? RRev? Apa kamu mau mengatakannya?”


“I-itu, sebenarnya-” Revina ragu untuk mengatakannya. 


“Sebenarnya Nyonya mendapatkan pukulan tepat di bagian perutnya, maka dari itu Nyonya sekarang baru merasakan sakit.” Sela Arlsei, sampai Dhavin langsung berekspresi terkejut.


“Apa?” Nadanya berubah menjadi cukup dingin, tatapan matanya pun semakin datar, dengn kemarahan yang kian memuncak, gertakkan giginya membuat mereka berdua langsung meraskaan aura hitam keluar dari tubuh Dhavin yang sudah tersulut emosi. “Siapa yang melakukannya. aku jamin dia akan merasakan hal yang sam-”

__ADS_1


Hanya saja, Dhavin segera menutup mulutnya sebelum berbicara lebih panjang dan lebar, mengenai apa yang akan ia lakukan kepada orang yang sudah memukul perut Revina yang bagi Dhavin berharga, bahkan lebih berharga ketimbang batu kristal, sebab Revina saat ini tengah menatapnya dengan ekspresi wajah takut. 


Siapa yang tidak takut, jika Dhavin yang biasanya memperlihatkan ekspresi wajah lembut di depannya, tiba-tiba berubah seperti seorang diktator yang akan melenyapkan semua orang yang menghalangi segala keinginannya dengan kekerasan. 


Tapi memang itulah Dhavin, di balik kelembutan yang sering di perlihatkannya kepada Revina agar wanita itu terus masuk dalam pesonanya, sebenarnya di balik topeng itu tersimpan wajah asli Dhavin yang lainnya. 


“Lakukan saja, dia seorang wanita,” Kata Revina, memecah keheningan yang terjadi diantara mereka bertiga sesaat tadi. 


Tapi karena takut, Revina tidak berani menatap wajah Dhavin yang terlihat serius itu.


“Arlsei, apa itu akan mempengaruhi rahimnya?” Tanya Dhavin tanpa sungkan. 


“Karena saya bukan pakarnya, saya tidak berani menjawabnya. Karena kondisi Nyonya masih belum benar pulih dari pasca melahirkan, jadi ada baiknya anda konsultasi kepada spesialisnya. Saya pikir, Winda juga bisa, jika anda tidak mau berhadapan dengan dokter yang ada di rumah sakit itu.” Ucap Arlsei. 


Dhavin melirik sesaat Revina yang tiba-tiba saja tidak mau menatap matanya. ‘Kenapa aku ceroboh sih, lihatkan, dia jadi takut menatapku.’ Terjerat dalam sebuah kondisi menyakitkan karena Revina tidak mau menatap matanya, Dhavin pun pergi dengan pesan terakhir, “Aku akan memanggil Winda, jaga dulu Revina, sedangkan aku akan menemui wanita itu.” 


“Baik Tuan,”


“H-hati-hati di jalan.” Pesan Revina dengan terbata-bata. Ada rasa takut, tapi juga perasaan terima kasih, sebab Dhavin mau membalas perbuatan dari wanita itu. 


“Iya.” Dhavin tersenyum kecil, sebelum akirnya ia berbalik pergi meninggalkan Arlsei dan Revina di dalam kamar. 


KLEK.


Memastikan kalau Dhavin sudah keluar, perbincangan kecil pun datang di antara mereka berdua. 


“Apa perut anda masih sakit?”


“Ya, sakit itu seperti saat harus berolahraga sit up sebanyak seratus kali dalam waktu kurang dari dua menit selama setiap hari. Perutku biasanya keram, sakit seperti itu. Tapi aku khawatir, jika ini mempengaruhi rahimku. Belum lagi-” Revina menghentikan ucapannya, karena ia merasa malu jika mengatakannya kepada seorang pria. 

__ADS_1


“Jika anda khawatir soal bentuk perut anda, sudah ada alat dan obatnya, jadi apa yang anda khawatirkan tidak ada lagi.” Jawab Arlsei, tahu kalimat sambungan yang tidak bisa di ucapkan oleh Revina, sebab Arlsei sendiri sudah tahu, kalau kebanyakan wanita yang sudah melahirkan, pasti berkaitan dengan bentuk perutnya yang melebar dan terkesan kendor. 


‘Dia seperti ahli pembaca pikiran, bagaimana dia bisa tahu apa yang sebenarnya aku ingin tanyakan? Dia terlalu hebat, bahkan untuk sekedar sebagai anak buahnya Dhavin.’ Pikir Revina. 


__ADS_2