
Sedangkan di tempat Vinella.
"Kalau saja kau tidak menyelinap masuk kedalam kamarku, ku pasti akan menarikmu dalam kesenangan yang bisa aku buat untukmu." Ucap Vinella pada seorang pria bermasker hitam dan berkacamata hitam juga.
Karena ia tadi sempat terburu-buru untuk mendapatkan tempat yang tepat untuk membantu Bos Dhavin dalam pengamanan dari jarak jauh, jadi penampilan Vinella pun masih berantakan karena langsung melepaskan seragam pramugarinya yang kurang nyaman, karena hasil dari curian, tentunya.
Sayangnya laki-laki yang menerobos masuk kamar hotel sederhana itu, hanya diam saja, sebab Vinella tidak berbicara dengan memakai bahasa arab ataupun bahasa inggris, jadi sudah jelas kalau musuhnya ini memang antara tidak ingin bicara ataupun tidak mengerti apa yang ia katakan itu.
Awalnya Vinella berpikiran seperti itu, tetapi di detik saat Vinella hendak angkat bicara, pria ini tiba-tiba membuka maskernya dan memperlihatkan sebuah senyuman.
Selepas melepaskan masker hitamnya, ia pun melepaskan kacamatanya dan memperlihatkan pria yang pernah Vinella temui, yaitu di saat malam dimana ulang tahun pernikahan Bos dan Nyonya nya itu berantakan karena adanya penyerangan dari pihak lain selian Visco.
'Jadi dia, kakak angkat Adel yang masih di penjara di dalam ruang bawah tanah markas nya Bos. Apa dia melakukan ini untuk membalas perbuatan Bos yang menyekap adiknya itu? Tapi- bagaimana bisa dia menjadi kakak angkatnya Adel, sedangkan aku ini saja kakak kandung laki-laki ini.' Tapi semua pikiran yang berisi pertanyaan itu pun seolah sama sekali tidak berguna lagi, sebab saat ini bukan waktunya untuk berpikir, melainkan melawannya.
"Dari senyumanmu, kelihatannya kau akhirnya sudah tahu siapa aku." Ucap pria ini, kemudian iris mata berwarna kuning itu memperhatikan penampilan Vinella dari atas sampai bawah. "Dan, kau memenuhi syarat juga ya? Pantas saja dia terus menggunakanmu seperti sebuah boneka. Apa kau tidak ingin lepas dari jeratanmu dari dia?"
"Jika yang kau maksud adalah Bosku, tentu saja aku tidak mau."
Pria ini tersenyum simpul begitu dia mendengar jawaban Vinella yang begitu jelas itu. "Padahal aku ingin menawarimu jadi bagianku, walaupun tidak jadi Istri, tapi- apa kau tidak merasa ada sesuatu diantara kita berdua?" Tanya pria ini sambil terus memperhatikan Vinella dengan kepala sedikit miring ke kanan, dia ingin tahu apa yang kira-kira sedang di pikirkan oleh Vinella saat ini, apakah wanita di depannya itu sadar kalau ada sesuatu diantara mereka berdua?
Vinella yang tadinya diam sambil memperhatikan pria di depannya itu, tiba-tiba Vinella malah tersenyum remeh.
__ADS_1
Tentu saja dia tahu siapa laki-laki ini. Jadi, meskipun ia tahu, Vinella pun tidak akan pernah menganggap laki-laki ini sebagai siapa-siapanya Vinella.
"Yah, aku sudah sadar kok. Tapi apa hubungannya antaramu denganku itu sama sekali tidak berguna, meskipun kau dan aku punya darah yang sama, Arka."
Dan pria yang di panggil Arka oleh Vinella, seketika berekspresi datar. "Jadi keputusannya memang sudah jelas ya, kakak?"
"Tentu saja, aku mana sudi ikut denganmu dan meninggalkan pekerjaanku yang menyenangkan ini." Balas Vinella dengan raut wajah yang sama.
Vinella dan Arka, karena tidak ada kesepakatan yang terjadi diantara mereka berdua, Vinella dan Arka pun bertarung.
Vinella yang sudah mempersiapkan senjata di sarung senjata yang terpasang di paha kanan dan kirinya, langsung ia keluarkan dan segera melawan adiknya sendiri.
Dan Arka yang dari tadi diam itu, sesaat membungkukkan tubuhnya sedikit ke depan, dan dalam sekejap mata Arka langsung berlari ke arah Vinella.
Ya, dalang di balik penyerangan yang sudah terencana ini ada di tangan Arka, setidaknya ia ingin mencegah Dhavin bertemu dengan Kafael, sebab jika mereka berdua bertemu dan bersatu, sudah jelas apa yang akan terjadi pada mereka berdua, persekutuan diantara mereka berdua akan semakin kuat.
'Jadi kau mau melawan kakakmu sendiri ya? Dan membuat rencana untuk pertemuan antara Bos dan Kafael kacau? Aku akan mendidikmu lebih dari ini, Arka.' pikir Vinella.
Dia pun berlari ke depan dan menerjang Arka dengan kekuatannya itu.
BUGH...
__ADS_1
Arka berhasil menahan serangan dari pikulan yang di berikan oleh Vinella. Tapi Vinella yang tidak bisa berhenti di situ saja, menarik tangannya dan melayangkan tendangan dari kaki kanannya.
Arka yang langsung mundur ke belakang itu tidak bisa vinella berikan kesempatan sedikitpun. Selagi layangan kakinya tidak berhasil untuk menendang tubuh Arka, maka tangan kirinya justru menodongkan pistolnya ke arah bawah tepat ke kaki Arka, dan hasilnya dalam sekejap itu suara dua suara tembakan itu pun terjadi.
DORR...
DORR....
Lantainya seketika berlubang setelah peluru yang sedikit lagi bersarang di salah satu kakinya Arka, justru di lawan dengan peluru dari senjatanya Arka yang di tembak ke arah bawah.
Alhasil, peluru itu milik Vinella pun langsung terdorong ke arah lantai, dan hasilnya lantai keramik itu jadi berlubang.
"Adikku semakin hebat ya? Jadi apa alasanmu ingin menangkapku?" tanya Vinella kepada Arka.
"Karena Ayah."
Sepersekian detik itu juga, senyuman di bibir merah ranum milik Vinella langsung pudar ketika ia mendengar kata Ayah. "Hanya ayah angkat, untuk apa aku harus dibawa ke sana lagi?" gumam Vinella, ia sama sekali tidak punya niatan untuk pulang ketempat yang membuatnya seperti merasa berada di sebuah neraka.
Sebab, semua kemewahan yang ia dapatkan dari Ayah angkatnya itu dimasa lalu harus membuat Vinella bagaikan putri yang terjebak di dalam rumah kaca.
Dan tujuan utama dari Arka ingin membawa Vinella kembali adalah untuk membuat aliansi pernikahan.
__ADS_1
'Tapi, kenapa pula rencana Arka ini juga harus melibatkan Bos ku sendiri?' Tidak suka dengan apapun rencana yang ada di dalam kepala adiknya itu, Vinella pun kembali melawan Arka ini. "Mau bagaimanapun caramu ingin membawaku, aku sama sekali tidak akan sudi ikut denganmu, sekalipun kau memaksa." Tegas Vinella.
"Lagi pula aku tidak butuh pendapat dari kakak." Dan selepas bicara seperti itu, Arka dan Vinella pun sama-sama maju bersama dan melakukan pertarungan jarak dekat, sekalipun mereka berdua harus melibatkan teknik bertarung mereka dan juga teknik menembak milik mereka, sampai di kamar yang awalnya memperlihatkan kerapian, sekarang jadi seperti kapal pecah.