
DRRTT...
DRRTT...
Tiba-tiba handphone milk Freddy yang kebetulan sedang di charge itu berdering.
Freddy segera mengambilnya dan mengangkatnya.
"Dari Bos ya?" Terka Vinella.
"Ya." Freddy segera mengangkat telepon yang berasal dari Dhavin itu.
-"Apa kamu sudah selesai bersenang-senang?"- Satu pertanyaan yang langsung menyinggung dua orang sekaligus, yaitu untuk Freddy sendiri dan satu lagi adalah untuk Vinella yang kebetulan tidak mendengar suara dari Bos nya itu.
"Ya. Tapi aku sudah menyelesaikannya dengan baik." Jawab Freddy.
-"Kalau begitu tugasmu sekarang adalah pergi ke rumahku. Tidak ada pertanyaan karena akan langsung terjawab jika kamu sudah ada di sini."- Perjelas Dhavin kepada Freddy.
Freddy melirik ke arah Vinella yang sedang membungkukkan tubuhnya ke arah Freddy sendiri untuk mengambilmnuan yang belum sempat Freddy berikan kepada Vinella, yang lantas pebuatan Vinella ini membuat belahan dadanya jadi terpampang dengan cukup jelas.
Karena itu, FReddy segera menggeser satu gelasnya ke arah Vinella yang terlihat tidak sadar dengan penampilannya yang memancing pria manapun untuk menyentuhnya.
"Nyam...nyam..nyam.." Vinella segera melahap makanan yang di masak pribadi oleh Freddy itu. "Bukannya ini daging sapi? Kenapa bumbunnya terasa cukup kuat di lidah ya? Tapi empuk juga." Ucap Vinella.
"Itu rendang. Makan saja semuanya, aku harus segera pergi," Freddy jadi menyodoran bagiannya kepada Vinella untuk Vinella makan semua.
"Ok, ini enak. Untuk makanan yang terasa asing di lidahku ini." Kata Vinella.
Dhavin yang mendengar hal itu, alhasil segera angkat bicara lagi. -"Buatkan itu juga untukku di rumah. Cepat."-
Dan panggilan telepon pun berakhir. Sampai meninggalkan banyak tanda tanya kepada Vinella iti.
"Janngan-jangan bos mau ini juga ya? Bawa saja ini, biar waktumu tidak terbuang lagi karena Bos hanya ingin makan rendang ini." Vinella yang cukup peka itu segera menyodorkan kembali piring bagiannya Freddy.
"Ya sudah. Akan aku bawa ini." Ucapnya.
Lantas karena Freddy belum makan, maka ketika Vinella hendak memasukkan lagi daging rendang itu ke dalam mulut, Freddy langsung mecegat tangan Vinella, lalu membuat Freddy membuka mulutnya untuk memakan daging itu degan serta merta.
__ADS_1
"Nyam." Satu mulut yang sedang mengunyah dalam jarak yang cukup dekat dengan wajah Vinella, sontak membuat Vinella jadi mematung, sebab satu suapan miliknya tadi ternyata berakhir dengan mendarat di mulut Freddy yang ternyata, Vinella jadi menyadarinya kembali, kalau bibir itu semalam sempat menciumnya.
Melihat tatapan mata milik Vinella yang terlihat tidak teralihkan dari dirinya, Freddy pun bertanya, "Apa tiba-tiba jadi ingat dengan ini?"
CUP.
Satu kecupan itu langsung mendarat di bibirnya yang dari tadi terdiam karena terbungkam saat melihat bibir Freddy yang ternyata cukup seksi itu, bisa melahap makanan denga cara yang cukup menggiurkan matanya juga.
"Aku pergi dulu." Ucap Freddy, dan meninggalkan Vinella yang nampak masih memiliki keterkejutan dengan semua tindakan dari freddy.
*
*
*
Setelah keluar dari gedung apertement yang di tinggali oleh Vinella, Freddy langsung pergi masuk ke dalam mobil miliknya.
Tapi dari situ pula, ia mendapatkan satu perintah lain dari Dhavin, kalau Freddy harus menggunakan jalan ke arah selatan, di mana di sana ada lorong panjang.
"Sebenarnya apa rencana Dhavin ini? Kenapa aku harus pergi sedikit memutar arah? Bukannya ini akan sangat menguras waktuku?" Gumam Freddy, lalu stir mobil yang dia kendalikan Freddy arahkan ke arah kanan.
".........." Dan disaat masuk kedalam terowongan, tepat di tengah terowongan, dia melihat ada satu orang yang melambaikan tangannya, memberikan kode khusus untuk Freddy agar menepikan mobilnya.
Dan ternyata saat di deati, itu adalah salah satu anak buah Dhavin, dimana tubuhnya memiliki perawakan seperti Dhavin juga diri Freddy.
"Bos menyuruh saya untuk menggantikan anda. Sedangkan anda akan pergi menggunakan mobil yang ada di belakang anda." Beritahu pria ini kepada Freddy atas rencana lain yang di gunakan oleh Dhavin agar bisa membuat pengalihan.
"Jaga baik-baik temanku ini, awas kalau lecet." Peringat Freddy pada anak buah Dhavin itu, karena mobil yang dai bawa itu adalah mobil yang baru dia beli dan menjadi pengganti dari mobil miliknya yang dulu pernah tertabrak dan hancur setelah mnedapatkan ledakan karena bom.
Mendapatkan tatapan sengit dari Freddy, pria ini menganggukkan kepalanya dengan cepat, lalu buru-buru masuk kedalam mobilnya Freddy dan membawanya pergi.
Sedangkan Freddy langsung asuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam yang baru saja datang, di mana orang yang mengendarai mobil adalah seorang wanita berkacamata .
Akan tetapi, saat Freddy hendak membuka pintu mobil depan, dia langsung mendapatkan sebuah peringatan. "Ah..sebaiknya Tuan bersembunti di bangku belakang atu kalau mau bersembunyi di dalam bagasi." Tunjuk wanita ini dengan menggunakan jempolnya yang di arahkan ke belakang, menunjuk pada tempat yang baru saja dia beritahu kepada Freddy ini.
"Hah...hanya karena di suruh pergi ke rumahnya saja, kenapa harus semerepotkan ini?" Keluh Freddy.
__ADS_1
Dia pun membuka pintu mobil blakang bagian penumpang, lalu Freddy pun masuk dan duduk di lantai mobil.
"Kalau begitu kita jalan." Kata wanita berkacamata ini, setelahnya mobil yang Freddy tumpangi itu pun pergi dan arah tujuannya tentu saja adalah ke rumah Dhavin.
Untu perjalanan, waktu yang di tempuh mereka kurang lebih tiga puluh menit dan di tengah perjalanan itu pula, keterdiaan di antara mereka berdua pun langsung hilang, setelah Freddy yang tiba-tiba saja bertanya.
"Apa Dhavin yang menginginkan itu semua?" Alasan Freddy bertanya itu karena dia melihat ada setelan jas lengkap dengan sepatu, jam tangan, serta ada satu koper kecil yang terjejer rapi di bangku belakang.
"Tidak. Itu semua untuk anda." Jawab wanita ini atas pertanyaan dari Freddy barusan.
"Ada apa ini? Aku tiba-tiba di kasih semua ini, pasti ada maksudnya kan?" Terka Freddy, sambil menocba membuka koper itu.
Dan ketika di buka ,dia langsung tersenyum miring, sebab isi yang ada di dalam koper yang membuatnya harus memasukkan nomor sandi milik Freddy sendiri adalah sebuah topeng khusus, serta alat untuk mengubah suara.
Hanya dengan melihatnya saja, Freddy pun langsung tahu arti dari semua ini, yaitu "Jadi tujuanku saat ini adalah menyamar jadi dirinya?" Gumam Freddy.
Wanita yang kini tengah mengendarai mobil sekilas melirik ke belakang dan berkata : "Benar. Anda saat ini di haruskan menjadi Tuan Dhavin, menyamar jadi beliau untuk menghadiri sebauh pesta ulang tahun yang di adakan oleh Tuan Visco. Dan secara kebetulan juga, anda harus datang bersama dengan Nyonya Liana. Anda lah yang harus menjemputnya dengan mobil yang sudah di siapkan oleh Tuan Dhavin sendiri." Jelasnya dengan panjang lebar.
Sehingga, kini Freddy pun sudah tahu misi yang harus dia jalani malam ini adalah untuk menjadi bayangannya Dhavin lagi.
Dia harus pergi ke pesta yang sebenarnya bagi Freddy sendiri cukuplah membosankan.
Tapi karena ini juga secara tidak langsung adalah perintah dari Nyonya Liana, maka mau tidak mau Freddy harus menerima pekerjaannya itu.
Tanpa ada kata penolakan.
Itulah, mengapa Freddy saat ini jadi tersenyum miring seraya menyentuh topeng yang sudha di buat khusus, dan ketika Freddy memakainya, maka dia akan menjadi sososk dari Dhavin yang cukup di kagumi dan di agungkan oleh banyak wanita.
"Sepertinya aku harus mencoba menahan diri." Gerutu Freddy, sebab dia akan menjadi orang yang paling menarik perhatian semua orang ketika di pesta nanti. 'Tapi kalau aku yang menggantikannya, lalu apa yang akan di perbuat oleh anak itu? Apa dia akan bermesraan dengan wanita itu terus?'
Tapi Freddy tetap bisa mempertahankan senyuman mencibirnya. Sebab ketika dirinya yang menjalani semua pekerjaan milik Dhavin, sudah pasti si Bos muda yang sudah menikah itu akan bermesraan dengan Revina yang kenyataannya sekarang malah jadi nyonya Calvaro.
'Hah~ padahal aku hanya iseng saja, menculiknya dan membawanya bersamaku ke sini. Tapi siapa yang akan menyangka, kalau apa yang aku lakukan ini justru membuatku seperti mak comblang.'
Dan Freddy yang kini menunduk dengan tangan menempel di dahi dan menumpukan sikunya di atas lututya, langsung membuat sebuah tawa.
"Hahaha...jalan dari takdir seseorang memang selalu mengejutkan. Dia yang senang, aku yang di buat susah." Gerutu Freddy.
__ADS_1
Sedangkan wanita yang kini sedang menyupir membawa sang bayangan Dhavin, hanya bisa diam seraya memperhatikan pria yang kini sedang tertawa sendiri di belakangnya persis.
Dan laju mobil yang membawa mereka berdua pun terus melaju menuju tujuan utamannya yaitu ke rumah dari Bos Dhavin.