
"Bos, ini setelan jas milik anda. "
Terdengar suara dari luar ada salah satu orang anak buah yang datang mengantarkan setelan jas untuk Dhavin?
Memang itulah yang di lakukan oleh laki-laki ini.
"Bos? Ap-" Sebelum tangannya memegang gagang pintu, pintu besar itu tiba-tiba saja terbuka.
KLEK.
"Sini, biar aku saja yang membawanya," Kata Vinella, menyambut setelan jas yang masih terbungkus di dalam sarung pembungkus jas.
"Oh, baiklah." Setelah memberikannya begitu saja, Vinella langsung menutup pintu tutup tersebut dengan serta merta. 'Padahal dulu dia ada di pangkat terendah. Bagaimana bisa jadi begitu dekat dengan Bos?' pikirnya, masih belum tahu alasan di balik pengangkatan Vinella yang menjadi sosok bayangannya Revina.
Kembali ke tempat dimana Dhavin berada.
Ia demi membuat penampilannya lebih bagus, walaupun wajahnya saja sudah terlampau bagus, Dhavin pertama-tama mandi lebih dulu. Tentu saja karena ia pria, maka tidak ada hal khusus yang membuatnya lama di dalam kamar mandi.
KLEK.
__ADS_1
"Apa jas ku sudah datang?" Kabut dari uap air yang berasal dari kamar mandi itu pun langsung keluar, menciptakan suasana eksotis dari pria yang baru saja mandi dann hanya membalut tubuh bagian bawahnya dengan handuk saja.
"Ya, ini baru saja sampai." Ucap Vinella seraya berjalan menghampiri Bos Dhavin yang baru saja keluar dari area tempat ritual khusus nya sendiri. 'Sayang sekali ya, aku tidak bisa memilikinya.'
Sambil menyerahkan setelan jas itu ke Dhavin, tatapan mata Vinella yang memicing ke arah Dhavin itu membuat Dhavin langsung menyentil dahi Vinella.
"Ahw..." Rintih Vinella dengan refleks menyentuh dahinya.
"Rasa hausmu terlihat sekali di wajahmu."
"..........!" Vinella langsung menyadarkan dirinya dengan mata merem melek. Tapi setelah itu dia hanya menyunggingkan senyuman simpulnya, dan berakhir dengan tawa kecil. "Lagi Bos, anda benar-benar bernyali sekali berpenampilan menggoda seperti ini di depanku."
"Siapapun juga mau kok Bos." Sahut Vinella dengan mata sayu, karena ia sungguh sedang berdiam diri dengan memandangi Bos nya yang sedang memakai pakaiannya.
"Ya, aku tahu pesonaku memang cukup tinggi sampai aku yang hanya berdiri saja, pasti membuat banyak wanita apalagi sepertimu berimajinasi liar."
"Bos, kamu terlalu blak-blakan." Rungut Vinella dengan rona pipi sudah menghiasi wajahnya yang cantik itu.
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi aku pikir, walaupun yang sedang berdiri di depanmu ini adalah aku, pasti yang ada di matamu aku mirip dengan Freddy, kan?" Ucap Dhavin lagi.
__ADS_1
Dia melepaskan handuk yang melilit pinggangnya, dan menampakkan kakinya yang jenjang itu sudah memakai celana boxer.
Sedangkan Vinella, wajahnya semakin bersemu merah, saat telinganya dengan jelas mendengar nama Freddy terucap dari mulutnya Bos nya itu.
"A-apa yang Bos katakan sih? Yang ada di depanku ini tetap saja sosok dari Bos Dhavin yang mempesona, karena sedang berpakaian di depanku." Balas Vinella sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan bersikap sok angkuh.
Padahal yang ada di dalam otaknya, jelas saja yang sedang berganti pakaian itu adalah sosok dari Freddy yang seperti berusaha berpakaian setelah melakukan malam panas dengan Vinella, di malam waktu itu.
"Tapi aku tidak yakin itu." Hanya tinggal memakai jas putih bagian luar, Dhavin berbalik dan menatap wajah Vinella yang sudah tersipu malu itu. "Dan aku sudah melihat fakta itu sendiri di depanku ini." Tatap Dhavin terus kepada Vinella dengan seringaian nya.
".........!" Vinella jadi semakin mundur ke belakang. 'Ada apa ini? Otakku sudah tidak kena racun Bos Dhavin, tapi si Freddy sialan itu.'
Sekali lagi Vinella ingin mengamuk, tapi karena yang ada di depannya itu bukanlah orang yang harus Vinella amuk, Vinella jadinya hanya diam membisu sambil menahan malu nya sendiri, karena ia lagi-lagi kembali di ingatkan dengan apa yang terjadi terakhir kali antara dirinya dengan Freddy.
"Tapi asal kau tahu, jangan urusan pribadi kalian di dalam pekerjaan. Mengerti kan, Vinella?" Seketika suaranya berubah menjadi dingin. Itu adalah ucapan yang berisi kalimat perintah sekaligus peringatan, agar kejadian yang terakhir kali itu tidak lagi kembali terulang.
"Aku mengerti." Jawab Vinella, ketegarannya untuk menghadapi suasana yang sudah mulai serius itu membuat Vinella langsung menurunkan kedua tangannya dari depan dadanya.
'Freddy, kamu sudah meracuni anak ini. Dasar licik.' Tatapannya itu semakin dingin ketika jam tangan yang sudah terpakai di pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. 'Tapi kelihatannya Visco itu, dia itu bukan orang yang akan diam dan menonton saja. Pasti dia akan melakukan sesuatu padaku. Entah apapun itu, dia orang yang sulit di tebak juga. Tapi- aku harus memulai rencana baru.'
__ADS_1