
“Kalian berdua, turun sekarang juga.” Perintah anak buah Dhavin.
Mendengar pernyataan kalau mereka berdua sudah ketahuan, meskipun sudah bersembunyi dengan baik, Adel yang khawatir itu langsung mencengkram kaki dari laki-laki yang sebenarnya sudah separuh jalan, untuk membebaskannya dari kurungan dari Dhavin sendiri.
‘Padahal belum juga keluar, tapi kenapa sudah ketangkap saja sih?’ Adel protes pada nasibnya, padahal sebentar lagi ia akan bebas, tapi apakah semua itu akan membuatnya kembali masuk kedalam ruangan sempit itu lagi, gara-gara di pos pemeriksaan mereka sudah ketahuan? “Bagaimana ini?” Tanya Adel dengan bahasa mulut tanpa suara.
“Tawanan milik Bos ada di dalam truk! Kepung truk itu!” Dalam sekejap, lebih dari sepuluh orang langsung mengepung truk sampah itu sambil membawa senjata di tangan mereka masing-masing.
Depan, belakang, samping kanan dan kiri, mereka sungguhan mengepung truk tersebut.
“Kalian turun!” Perintah salah satu diantara mereka.
Tapi memangnya siapa yang mau bersedia ditangkap?
Oleh karena itu, Adel pun menyuruh orang di depannya yang berperan jadi supirnya itu untuk menginjak pedal gas nya, dengan isyarat untuk menabrak mereka saja.
Dan benar saja, menuruti permintaan dari Adel, pria ini langsung menginjak pedal gas sedalam-dalamnya, dan melajukan truk sampahnya dengan cepat keluar dari basement.
__ADS_1
BRRMMM..
“Tembak!”
Suara tembakan pun terjadi, dan truk sampai dijadikan target mereka.
“Jangan biarkan truk nya kaur! Angkat papagr besinya!” Suara teriakan itu menyerukan agar tepat di depan pintu itu, sebuah tiang besi beton yang memang tertanam di dalam lantai, untuk segera diangkat.
“Apa? Awas!” Adel yang sempat menilik apa yang terjadi di depan, langsung panik, ketika tiang setinggi kaki pria dewasa, tiba-tiba saja muncul dari dalam lantai, dan menghalangi jalan yang akan dilalui oleh truk mereka, sampai akhirnya truk tersebut langsung menabrak tiang tersebut.
BRAKK…
SYUH~
Angin yang dingin, perlahan jadi terasa tidak dingin lagi, setelah dua tubuh itu saling bersatu dengan memeluk satu sama lain.
Sebagai pengganti atas lokasi yang tidak bisa Revina kunjungi, Revina dan Dhavin saat ini akhirnya mereka berdua menghabiskan waktu mereka berdua di tengah pada safana.
__ADS_1
Ditemani taburan bintang dan bulan purnama yang terlihat jauh lebih terang dari biasanya, mereka berdua pun menghabiskan waktu kebersamaan mereka.
Meskipun tidak semewah yang di siapkan oleh Dhavin di Villa miliknya, menemani Revina di malam yang berharga ini, buat mereka berdua, hal tersbut sudah lebih dari cukup.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa baru datang? Padahal sebelum aku berangkat, aku sudah berulang kali meneleponmu.” Tanya Revina, menuntut jawaban jujur dari Dhavin yang kini tengah duduk dan sedang memangku tubuhnya tepat di depannya dengan posisi tubuh bersandar ke depan dada bidang Dhavin.
“Jika bukan karena Ibu, aku pasti sudah bisa meneleponmu balik.” Satu alasan yang memang nyata apa adanya, akhirnya keluar dari mulutnya.
"Ibu? Kenapa bisa mengaitkannya dengan Ibu? Kenapa juga Ibu menyita handphonemu?"
"Apa kamu akan marah, kalau -" Seketika kalimatnya terasa tersangkut di dalam tenggorokannya. Rasanya sungguh berat ketika ia harus mengatakan kebenaran kepada Revina.
Tapi pada akhirnya, ujung-ujungnya Revina juga akan tahu, sama hal nya dengan rahasia besar milik Dhavin yang merupakan seorang bos mafia, pekerjaan kotor yang seharusnya tidak membuat tangan Revina jadi ikut ternodai oleh darah merah.
'Sebaiknya aku mengatakannya langsung saja. Dari pada di tunda, dan malah membuatku kembali berdebat dengan Revina, lebih baik aku jujur saja.' Dengan menyiapkan hatinya yang paling dalam, Dhavin mencoba mengatur nafasnya, sampai dia akhirnya bersedia memberitahukan nya. "Ibu, sedang mengujimu."
DEG.
__ADS_1
"..........." Revina yang kebetulan sekali memang sedang di peluk Dhavin dari depan, awalnya memang cukup mengejutkan, rupanya ada yang menjadi dalang dari balik penyerangan ini, tapi kemudian dia berusaha untuk memahaminya, bahwa pekerjaan dari Dhavin itu akan membuatnya juga punya hadangan yang sama juga dengan apa yang Dahvin hadapi.