
"Ini masih sakit." Lirih Dhavin, seraya duduk dan mencoba menahan rasa sakit itu.
"Apa? Itu kan salahmu sendiri, kenapa menarikku?" tetapi Revina terus saja melirik ke benda pusaka Dhavin yang terbungkus dengan sangat baik disana.
Apakah karena celananya yang begitu pas dengan kedua kaki jenjang milik Dhavin, intinya kesan dari penampilan tubuh bagian bawah Dhavin, selalu menarik perhatiannya terus.
"Tanggung jawab." Tuntut Dhavin.
"Tanggung jawab gimana" Tanya Revina bingung dengan keinginan Dhavin itu.
Saat ini Revina sedang duduk si sebelah kiri Dhavin sambil menggendong salah satu anaknya yang bernama Levine, dan saat ini Revina tengah menyusuinya.
"Setidaknya cari tahu, apakah ada yang lecet atau tidak." Beritahu Dhavin sambil melepas ikat pinggangnya, kemudian membuka resletingnya.
Sebuah harta yang begitu berisi itu pun masih terbungkus di dalam celana d*al*am nya itu.
"............" Revina langsung menelan ludahnya sendiri. Padahal itu bukanlah makanan yang bisa Revina makan, tetapi mental miliknya benar-benar langsung terpengaruh dengan godaan yang cukup menggiurkan suasana dari hati gelapnya yang menginginkannya. 'Kenapa aku dapat suami yang menghasut mentalku terus ya?'
Revina mencoba menata hatinya, apalagi saat ini jantungnya saja sedang berdegup dengan cukup kencang, gara-gara Dhavin lagi Dhavin lagi.
Tidak ada kata lelah untuk Dhavin agar terus dekat dengannya.
Walaupun begitu, pikiran Revina tetap saja mengarah pada insiden di hari ini. Dia tidak bisa mengalihkan pikirannya tentang foto yang benar-benar mirip dengan sosok Dhavin ini.
"Sini tanganmu."
__ADS_1
"..........." Revina hanya menurutinya saja. Kini tangannya sedang di pegang oleh Dhavin, dan membawanya untuk mengelus kepunyaannya. 'Bukannya itu akan merangsangnya ya? Kalau dia jadi serigala kelaparan, bagaimana akunya ini?'
Revina benar-benar memiliki tiga pekerjaan dalam satu waktu. Yang pertama, dirinya harus memberi makan Levine, yang kedua matanya tetap terpaku pada buah besar yang menempel di ************ Dhavin, dan saat ini tangan kanannya justru sedang digunakan untuk mengusap lembut pusaka Dhavin.
'Sebenarnya aku ini istri apaan ya? Kenapa setiap hari aku selalu diberikan stimulasi begini? Dia juga, Dhavin...sebenarnya apa sih isi kepalamu itu?' Revina benar-benar dibuat tertekan oleh suaminya sendiri, hingga Revina kembali disadarkan lagi dengan fakta itu d foto itu kembali muncul.
GREP..
"Ohh...jangan keras-keras juga, memangnya ini timun."
"Hmm...." Revina melirik kearah pusakanya Dhavin lagi. 'Kira-kira dia bohong atau tidak ya?' Revina kembali di landa kegalauan, apakah pusaka yang sedang di pegangnya itu masih bersifat VVIP untuk Revina seorang, atau sudah jadi milik orang lain juga?
"Owee..."
'Dia benar-benar lebih memperhatikan dia ketimbang aku. Padahal waktu belum hamil, dia selalu menginginkanku. Tapi aku seperti habis manis, sepah di buang.' Memikirkan hal itu, Dhavin terkekeh sendiri. 'Tapi-'
Di tengah kesibukan Revina pada Levine, Dhavin kembali memikirkan soal foto yang dimana di dalamnya itu terlihat seperti dirinya.
'Siapa yang melakukannya? Dia berani juga mempergunakan aku agar hubunganku dengan Revina renggang. Apakah Arlsei sudah mengurusnya?' Pikir Dhavin.
Padahal selama tiga hari itu, Dhavin sebenarnya sedang pergi ke sebuah pulau. Karena tempatnya lumayan terpelosok, makannya jaringan pada handphone nya lumayan sulit.
Untuk apa Dhavin pergi ke pulau?
Itu dikarenakan waktu itu Dhavin mendapatkan informasi kalau ada satu tempat pelelangan yang akan melelang kalung Forstelia. Kalung yang paling di incar oleh banyak orang, karena kalung itu adalah kalung yang dibuat dari seniman terkenal, yang saat ini sudah meninggal.
__ADS_1
Bukan sekedar karena di buat oleh seniman terkenal, melainkan karena batu yang ditemukan oleh George Louderback yang digunakan untuk membuat bandul kalung itu adalah batu yang tergolong sangat langka. Memiliki warna biru tua yang menunjukkan kualitasnya yang sangat menarik ketika berada di bawah sinar UV dan batu ini memancarkan sinar seperti neon.
Oleh karena itu, Dhavin pun sangat menginginkannya untuk hadiah ulang tahun pernikahannya nanti.
Tapi apa yang Dhavin dapat setelah mendapatkan kalung itu, Dhavin kehilangan hanphone nya karena terjatuh ke dalam laut, dan satu lagi, Dhavin di tuding menjadi orang yang baru saja berkhianat, karena foto yang memperlihatkan dirinya tidur dengan wanita lain!
Siapa yang tidak kesal dengan itu.
"Kembalikan itu." suara dari permintaan Revina pun berhasil menarik segala pikirannya tadi. Saat ini Revina menginginkan ponselnya kembali.
"Tidak. Jangan main hp ini dulu." Dhavin menolak memberikan hp milik Revina itu, karena Dhavin akan menyelidikinya sendiri siapa orang yang berani mengusik kehidupan dari keluarga kecil yang baru saja dia bangun dengan Revina itu.
Raut wajah Revina langsung cemberut. Siapapun tidak terima, hp yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya, justru di tahan oleh sang suami. 'Jika hp ku dipegang olehnya, aku bisa apa? Dia pasti punya alasannya kan?' Walaupun sedih karena harus berpisah dengan hp miliknya, dengan pola pikirnya Revina, dia pun mencoba membiarkannya.
"Untuk sementara aku akan mengambil ini. Jadi pakai saja hp ini dulu." Dhavin dengan serta merta, justru memberikan Revina hp dengan layar lipat model terbaru.
Dan ekspresi Revina langsung berubah drastis, bahkan lebih cepat ketimbang membalikkan halaman dari sebuah buku.
PLAK..
Kebiasaan Revina memukul lengan Dhavin pun tidak pernah hilang, apalagi setelah mendapatkan hal yang membahagiakan hatinya, maka saat itu juga rasa senangnya langsung dituangkan dengan pukulan keras yang mendarat di lengan Dhavin.
"Ini dulu? Yang itu ambil saja, aku pilih yang ini sebagai ganti hp yang kamu ambil itu." Kata Revina seraya mengambil Hp keluaran terbaru itu.
'Dia sama sekali tidak berubah. Jika di suap dengan barang elektronik seperti ini, dia langsung maju, tapi jika baju dan perhiasan-...ah~' Dhavin salah ambil hadiah. Dia harusnya tidak membeli kalung mahal, tapi barang elektronik yang canggih, itulah hadiah yang tepat untuk merayakan satu tahun pernikahannya nanti.
__ADS_1