
'Freddy? Kenapa dia menyamar jadi Bos? Dan apa-apaan ini? Aku kan disini bukan di gunakan untuk di jadikan bahan pertunjukan seperti ini. Tapi kenapa Freddy menciumku? Apakah dia sudah gila? Kalau seperti ini, jika Nyonya tahu ini, Nyonya sudah jelas akan langsung salah paham besar, dan sudah pasti Bos juga akan menyalahakn kita berdua!' Vinella yang tidak ingin mendapatkan lebih banyak masalah karena perbuatan yang sedang dilakukan oleh Freddy kali ini, Vinella pun langsung mendorong tubuh Freddy. "Phuah...hah..hah..."
Karena tautan dari ciuman mereka berdua cukup laa, alhasil Vinella jadi ngos-ngosan karena kejadian yang tidak terduga itu.
"Apa yang anda lakukan ini?" Tanay Vienalla seraya menyeka bibirnya dengan kasar dengan menggunakan lengan bajunya yang kebetulan panjang.
"Karena aku kalah, aku harus mencium seorang wanita."
"Tapi kan banyak wanita lain, kenapa anda memilih saya?" Dahi Vinella pun semkain mengerut, karena dia harus memakai bahasa formal kepada pria yang cukup Vinella kenal ini.
"Apakah mencium seseorang harus butuh alasan?" Tanya balik Freddy, langsung memutar tubuhnya dan berjalan pergi dari hadapan Vinella yang sudah diselimuti rasa kesal, karena malam ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Sebab apa?
Itu karena ada banyak tatapan mata yang tidak suka sedan tertuju ke arahnya. Apalagi Safina, maka nahas sudah, Vinella akan ada banyak kemungkinan tidak akan bisa keluar dari situasinya itu dengan cukup mudah.
_____________
Di tempat Dhavin berada.
__ADS_1
Karena dalam keadaan demam, maka jelas saja Revina langsung kembali tertidur setelah menangis seperti tadi.
'Karena dia menangis, pakaianku jadi basah seperti ini.' Kata hati Dhavin, melihat kemeja putih yang masih Dhavin pakai itu sudah basah karena air mata berharga milik Revina sudah berhasil membasahinya.
Karena itu pula, setelah berhasil menidurkan lagi bayi besar yang suka mewek itu, Dhavin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari kotoran yang menempel, sebab dia sebelum ini tiduran di atas ruftoop karena harus membereskan masalahnya.
Lima belas menit kemudian.
Revina kembali terbangun.
Dan dia bear-benar beranjak dari tidurnya karena dia sedang marasakan haus dan ingin minum air hangat.
'Pintunya sudah tidak terkunci?' karena memang sudah bisa di buka, maka Revina pun dengan serta merta pun keluar dari kamar dan pergi menuju lantai dua yang ternyata jaraknya terasa lebih jauh, sebab dirinya saat ini berada di lantai tiga.
Akan tetapi, karena di rumah itu ada Lift, maka Revina pun menggunakan Lift untuk turun ke lantai kedua.
Di rumah itu memang ada dua dapur, yang di bawah untuk dapur kotor sedangkan yang ada di lantai dua untuk dapur bersih.
'Padahal sudah begitu lama aku tinggal di sini, tapi rumah ini tetap saja terasa terlalu besar bagiku.' Seperti sekarang saja.
__ADS_1
Karena dirinya sedang dalam keadaan sakit, maka dia pun merasa kalau berjalan sepanjang sepuluh meter saja sudah cukup menguras tenaganya.
'Air...aku serasa ada di gurun. Kenapa tenggorokanku terasa kering seperti ini?' Rutuk Revina.
Tapi di tengah-tengah dirinya hendak mengambil gelas yang tersmpan di atas lemari bufet yang cukup tinggi dan membuatnya harus menaiki kursi, tiba-tiba sudut matanya melihat Dhavin sudah berpakaian rapi lagi?
"Kan? Apanya yang mau berduaan denganku, lebih bagus bersama denganku? Buktinya dia akan pergi." Gerutu Revina, bisa menangkap basah sang suami yang sudah berpakaian rapi juga lengkap seperti akan pergi ke suatu tempat yang spesial, layaknya orang yang akan membuat kejutan pada kekasihnya karena akan melamarnya, maka Revina pun akhirnya mnegurungkan niatnya.
Dari pada minum, dia memilih untuk menghampiri pria itu.
Revina pun turun dari kursi. Karena dia tidak menggunakan alas kaki, maka setiap langkah yang Revina ambil pun cukup senyap.
Tapi sayangnya, Revina tidka sekedar berjalan biasa, melainkan dia langsung berlari kencang untuk menangkap penipu itu.
'Awas kau, ketahuan diam-diam ingin pergi dariku di tengah malam seperti ini.' Dengan semangat yang entah datang dari mana bisa cukup menggebu-gebu setperti itu, setelah berada di jarak dua meter, Revina merentangkan tangannya dan langsung memeluk Dhavin dari belakang?
Awalnya memang seperti itu. Akan tetapi karena pria itu menyadari lebih dulu kedatangannya Revina, dia pun memutar tubuhnya, hingga akhirnya Revina berhasil menangkapnya.
BRUKK...
__ADS_1
"Tertangkap, mau kemana kamu? Katamu lebih pilih bersamaku berdua, tapip..kenapa mau pergi? Penipu." Ucap Revina setelah berhasil menangkap beruang besar miliknya yang gagah berani dari ujung kepala hingga ujung kaki itu.