
"Atau iu adalah ekspresi kalian yang senang bisa bertemu denganku?" Tanya Dhavin.
Setelah duduk di kursinya, salah satu anak buahnya yang masih berdiri di belakangnya itu berjalan menghampiri mereka bertiga, dan membuka sumpalan mulut mereka bertiga.
"Siapa kamu?!"
"Kenapa kamu justru menanyakan hal yang tidak berguna itu? Siapa aku memangnya ada gunanya jika sebentar lagi setelah pembicaraan ini berakhir, maka itulah akhir dari dirimu itu?"
DEG...
Ekspresi mereka bertiga langsung berubah menjadi serius, karena mereka sudah menyadari satu hal, mereka bertiga tidak mungkin akan terkurung dalam kondisi terikat seperti itu jika mereka tidak pernah mengganggu seorang wanita yang niat awalnya akan mereka culik itu.
Tentu saja melihat perubahan ekspresi dari mereka bertiga yang begitu cepat, membuat Dhavin tersenyum tipis, sebab ketiga orang di depannya itu benar-benar sudah sepenuhnya sadar, kalau keadaan mereka saat ini adalah hasil dari perbuatan mereka sendiri yang berani mengusik ketenangannya.
Revina.
Itulah alasan dari Dhavin saat ini duduk di depan mereka.
Karena itu, jika memikirkan kalau malam tadi Revina yang asli benar-benar orang yang mengangkat telepon itu, sekaligus datang ke restoran itu, maka apa jadinya nanti?
Penculikan itu pasti sudah benar-benar terjadi.
Walaupun hal itu sudah di cegah berkat Dhavin lebih dulu membuat rencana dan Vinella yang mampu menyamar dengan baik, tapi tetap saja hanya dengan memikirkan itu, tetap membuat gejolak hati Dhavin yang sudah tersulut itu, ingin sekali menyingkirkan ketiga orang ini dengan tangannya.
"Lihat wajah itu, benar-benar jelek sekali ya Adema." hina Dhavin dengan berbicara pada anj*ing peliharaanya.
__ADS_1
"GUk!"
"Jika kamu bermaksud untuk menginterogasi kami siapa dalam di belakang kami, kami tidak akan pernah membertahumu." kata salah satu diantara mereka bertiga.
"Siapa yang bilang ingin menginterogasi kalian?" Tanya Dhavin dengan tatapan malas. "Mengorek informasi dari orang rendahan seperti kalian itu bukanlah levelku. Tapi kedatanganku kesini itu hanya untuk melihat wajah kalian bertiga secara langsung, karena berani mengganggu anak buahku itu."
'Jadi wanita yang tadi malam itu, anak buah orang ini? Tapi sebenarnya siapa dia? Kenapa hanya dengan melihat dia duduk saja rasanya dia bukanlah orang yang sekedar jadi Bos biasa saja?' Pikirnya.
"Ya..dari tatapan matamu, kelihatannya kamu sudah menyadari siapa wanita yang tadi malam." Seringai Dhavin. "Adema, lihat mereka, mereka semua melototimu juga. Kalau mau makan, makan saja mereka. Kamu akan kenyang sampai lima hari." Bisik Dhavin kepada anj*ing peliharannya.
Dan benar saja, anj*ing peliharaan yang sudah cukup terlatih itu langsung menoleh ke arah mereka bertiga.
Melihat adanya bahaya yang akan mendatangi mereka, tangan dan kaki yang terikat itu pun sedang berusaha di lipas.
"Adema, sekarang giliranmu saja gih, aku bosan melihat mereka." Bujuk Dhavin yang terlihat malas untuk sekedar berdiri dan memberikan penyiksaan secara langsung kepada mereka bertiga.
'Tidak! Aku harus bisa lepas sebelum anj*ing itu datang kesini.'
'Ahh! Jadi alasan tempat ini sangat bau amis itu jangan-jangan memang karena anj*ing itu!'
"GUK!" Lidah dari anj* ini pun sudah menjulur keluar. Adema kemudian berbalik, menghadap ke arah mereka bertiga, hingga di detik berikutnya, Adema langsung berlari menghampiri mereka bertiga.
"Tidak! Jangan makan aku!"
Tubuhnya berushaa lepas dari ikatan yang mengikat tubuhnya dengan kursi secara langsung.
__ADS_1
Tapi Dhavin yang menghiraukan segala rasa takut mereka hanya berakhir dengan menonton sebuah pertunjukan itu secara langsung.
Tontonan dimana...
"GUK!"
Adema itu langsung melompat dan menerjang salah satu dari mereka untuk dia gigit, dan akhirnya...
"Akkkhhh....!"
Teriakan yang begitu memilukan itu akhirnya segera mengisi kembali ruang bawah tanah yang sudah lama tidak di pakai itu?
Tentu saja.
Lalu bagaimana potongan jari yang semoat terinjak oleh laki-laki berjaket biru itu?
Itu adalah salah satu mainan yang Arlsei buat untuk menakut-nakuti orang sebagai hiburannya.
"Ini Bos." memberikan jari mainan yang sempat tergeletak di lantai tadi kepada Dhavin.
Dhavin menerima jari mainan itu, dan menatap jari tersebut dengan sorotan penuh makna.
Karena jari yang terlihat seperti jari manis itu, berhasil membuat Dhavin kembali berimajinasi kalau itu adalah jari manis milik Revina.
'Aku harus cepat meminta maaf kepadanya. Dan aku akan berusaha melindunginya dari musuh-musuhku.' Dengan imajinasi tinggi milik Dhavin itu, Dhavin pun tiba-tiba saja mencium jari itu dengan penuh perasaan, hingga khayalan akan imajinasi miliknya membuat Dhavin seakan sedang melihat kalau Revina saat ini sedang berdiri di depannya persis.
__ADS_1
CUP.
'Revina~' Panggil Dhavin dalam hatinya.