
‘Kenapa otakku selalu saja mengarah hal yang tidak diperlukan sih?’ Dengan rona pipi di wajahnya, Revina menahan ekspresi malunya dengan cara mengembungkan pipinya, merungut gara-gara otaknya selalu saja punya debu tebal, sampai di sapu saja masih saja meninggalkan jejak, seakan dbu itu tidak bisa menghilang dari lantai dasar dari keinginannya itu.
Revina terus terdiam di tempatnya sambil meminum air hangat yang di sediakan oleh pelayannya beberapa waktu lalu.
‘Sebenarnya kenapa aku ada di sini? Jika dia memang sedang sibuk, bukannya seharusnya aku datang saat dia sudah selesai bekerja? Tapi-’ Arah pandangan Revina berkeliling ke segala arah.
Tidak ada yang berubah, dan tidak ada yang begitu istimewa di dalam ruang kerja kepnyaanya suaminya itu.
‘Tapi dia terus bekerja keras, aku tidak bisa membantu pekerjaannya. Pasti sangat lelah, karena harus bekerja, dan membagi waktunya denganku.’ Revina merenung, menatap permukaan air dari air yang ada di dalam gelasnya.
Tak…Tak….Tak….Tak…
Suara tombol keyboard terus terdengar. Revina yang tidak ingin mengganggu pekerjaannya Dhavin, hanya bermain handphone nya sendiri.
‘Sebentar lagi ini akan selesai. Tapi kenapa dari awal masuk, Revina diam saja ya?’ Karena merasa tanggung dengan ketikannya, Dhavin kembali mempercepat ketikan dari sepuluh jarinya itu. Dan tepat sesuai dengan terget, dalam waktu satu jam, Dhavin berhasil menyelesaikan berkas yang ia buat. “Akkh~ Akirnya aku selesai juga.” Kata Dhavin, sambil meregangkan otot-ototnya. Dhavin kemudian berdiri, “Revina, ayo kita bic-”
Namun separuh kalimat yang hendak Dhavin katakan, langsung Dhavin telan kembali ketika ia melihat Revina sudah tertidur dengan begitu pulas di sofa.
Sampai handphone yang Revina pegang, terjun ke lantai, setelah tangannya sudah tidak mampu untuk memegangnya, karena Revina sendiri sudah terbuai dalam alam mimpinya.
“Apa aku terlalu lama ya? Awalnya aku memanggilnya ke sini untuk menemaniku bekerja, setelah itu aku ingin menanyainya sesuatu. Tapi karena kamu sudah tertidur seperti ini, sebaiknya aku urungkan niatku ini.” Gumam Dhavin, berjalan menghampiri Revina, dan meletakkan punggung dari jari-jari tangan kanannya di atas pipinya Revina.
Hanya saja, niat hanya ingin menyapa wajah Revina yang tertidur dengan cukup polos itu, justru berakhir dengan Revina yang tiba-tiba saja terbangun.
“Hoaahm…, apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Revinda dengan nada lirih, meskipun ia sedang menatap si pelaku perusak mimpinya, sebenarnya Revina masih separuh sadar.
“Mengganggu waktu tidurmu. Bagaimana dengan perutmu?” Revina terbangun, lalu duduk dan bersandar di sandaran sofa.
“Masih pegal, tapi aku masih bisa menahannya. Jadi, apa yang membuatku harus datang kesini, sampai aku akhirnya malah ketiduran karena kamu bekerja terus.” karena masih ada hawa mengantuknya, Revina terus membuka mulutnya lebar-lebar dan menguap lagi.
“Jika kamu masih lelah, tidur saja lagi. Ini bukan sesuatu yang mendesak.”
“Tapi aku penasaran. Hoamhh….” sampai sudut matanya Revina, akhirnya mengeluarkan air matanya.
Dhavin yang melihat hal tersebut, langsung merubah sofa panjang itu menjadi tempat tidur, dengan merubuhkan sandaran sofa, lalu membuka lipatan bagian sofa yang di jadikan tempat duduknya, sehingga dalam sekejap mata, Revina yang hanya bergeser sedikit dari area tempat duduknya, sudah serasa di atas kasur.
Dan setelah itu terjadi, Dhavin kemudian merangkak naik dan meraih pinggang Revina dengan serta merta, lalu mereka berdua pun sama-sama terbaring tidur.
BRUK….
“Dhavin?” Panggil Revina, bertanya-tanya karena Dhavin malah ikutan berbaring di belakangnya persis pula, sedangkan tangan kiri Davin melingkar di pinggangnya. “Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?”
“Ya, berkatmu, aku bisa menyelesaikannya lebih awal dari pada yang seharusnya.” Jawab Dhavin dengan serta merta.
__ADS_1
“Kenapa berkat aku? Aku kan tidak melakukan apapun, kecuali duduk dan tertidur di sini.” Jawab Revina, masih tidak mengerti maksud yang di katakan oleh suaminya itu.
“Padahal seharusnya kamu itu sudah tahu, kalau kehadiranmu itu sudah lebih dari cukup untuk menyemangatiku berkerja. Dan karena aku sudah menyelesaikannya, lihat? Aku bisa menemanimu tidur di pelukanku.” Jawab Dhavin dengan godaan maut, yang mana senyuman devil yang terlihat begitu mengerikan, justru jadi pesona tersendiri untuk Revina yang sedang saling menatap satu sama lain dengan pria ini.
Revina yang tidak kuat berlama-lama menatap wajahnya, segera menundukkan kepalanya, sehingga yang ia tatap adaah dada bidang Dhavin yang sedikit terbuka, sebab dua kancing bagian atasnya terbuka, dan menampilkan aurat penuh dosa.
“Padahal aku tidak melakukan kontribusi yang menguntungkan.” Gumam Revina, matanya lalu tertutup dan mencoba menikmati tidurnya lagi.
Dhavin semakin mengeratkan pelukannya, sampai wajah Revina benar-benar sampai di depan dada bidang Dhavin, lalu berkata : “Tanpa kamu sadari, kamu sudah berkontribusi besar.”
“Bagian apanya?” Revina masih menutup matanya, tapi aroma tubuh Dhavin yang begitu melekat masuk ke indera penciumannya, membuat Revina semakin mendekatkan wajahnya, sampai dahinya akirnya menempel pada kulit tipis milik Dhavin. “Jika soal melahirkan anak, itu kan memang sudah menjadi kewajibanku kan?”
Dhavin jadi menutup mulutnya, karena kalimat itu sudah lebih dulu di rebut oleh Revina.
Karena itu, Dhavin jadi langsung membuat alasan lain, yang lebih penting dari itu.
“Itu memang, tapi ada satu lagi yang belum kamu ketahui. Ini tentang kejadian malam itu, karena ujian yang diberikan Ibu kepadamu sudah kamu lewati dengan baik, Ibuku akhirnya tidak membuat kita berpisah.”
“Apa?” Revina tercengang dengan jawabannya Dhavin.
Karena Revina sama sekali tidak pernah tahu, kalau apa yang terjadi pada tiga malam lalu, itu adalah kejadian yang hampir membuat hubungan mereka berdua dalam keretakan?
Dan itu karena Ibunya Dhavin?
Dhavin melonggarkan pelukannya, dan memberikan sebuah jarak antara mereka berdua, agar mereka bisa saling memandang wajah lawan bicara mereka masing-masing.
“Revina, bukankah kamu tahu sendiri kalau aku punya profesi seperti apa? Jika waktu itu kamu gagal dalam ujian, takut, dan terkena tekanan mental yang kuat, sampai tidak berani melawan musuhmu, itu sama saja memperlihatkan kalau kamu tidak layak di sisiku, terlepas kamu sudah memberikan keluarga kami keturunan, kita berdua bisa bercerai kapan saja.
Semakin lama di sisiku, kamu pastinya akan terlibat lebih dalam dengan semua hal yang akan aku hadapi.
Itulah mengapa, Ibu mencoba memberimu cobaan, selama aku tidak ada di sisimu, apakah kamu bisa menghadapi lawanmu atau tidak.
Dan itu juga hal yang terpenting dalam keluarga Calvaro, yaitu kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri. Karena aku sadar, sebesar apapun kekuatan yang aku miliki, pasti ada kalanya aku tidak bisa menjangkau untuk melindungimu.” Papar Dhavin.
Revina yang mendengar penjelasan itu, tiba-tiba saja jantungnya semakin berdegup kencang.
Ia hanya tidak mampu membayangkan, kalau keputusannya untuk tidak memperlihatkan kemampuannya saat itu, berhasil tidak dia ambil.
Jika Revina ambil, ada kamungkinan kalau hari ini, detik ini ia tidak akan bertemu dengan Dhavin lagi.
Sudah pasti! Sebab Liana adalah orang yang masih memiliki kekuasaan penuh di keluarga Calvaro. Maka dari itu, wanita itu masih mampu melakukan banyak hal untuk memisahkan mereka berdua dari ikatan cinta, sekalipun Dhavin dan Revina sudah menjalin cinta selama satu tahun, sampai keturuanan pun sudah mereka berdua miliki.
‘Aku hanya tidak menyangka, kalau waktu itu juga akan berdampak besar dengan hubungan pernikahan ini. Tapi benar, apa yang dikatakan Dhavin, juga apa yang di lakukan oleh Ibu, memang benar adanya.
__ADS_1
Jika aku tidak bisa apa-apa, jika aku terus berdiam diri menunggu mendapatkan perlindungan dari orang lain, aku sudah pasti akan berpisah dengan pria ini. Aku tidak boleh melupakannya, melupakan fakta, kalau Dhavin punya profesi yang cukup gelap. Sampai aku sendiri tidak tahu, apa aku bisa di sisi Dhavin untuk menyinari jalan yang ia lalui itu.’ Pikir Revina panjang lebar.
“Revina~” panggil Dhavin dengan ekspresi lembut. Sampai wajah dari Revina terus tidak bisa Dhavin lepaskan untuk terus ia sentuh saking ia cintanya dengan wanita yang sudah berhasil menyalamatkan bahtera milik mereka berdua. “Revina, lihat mataku.”
Revina pun menurutinya. Permata hitam kelam yang bisa lebih hitam dari batu bara yang cukup berbahaya itu, terus menatap ke arahnya.
Ya, batu bara yang bisa menjadi bahan bakar di bidang energi, seperti itulah Revina melihat tatapan mata Dhavin yang nampak memiliki banyak energi untuk di salurkan kepada Revina.
Sebuah energi cinta.
Hanya dengan tatapan itu, Revina sudah tahu, tatapan dari rasa suka itu benar–benar tidak pernah padam dari tempatnya.
“Ada apa dengan matamu?” Goda Revina dengan senyuman tipisnya. Ujung jari tagan kanannya terangkat, dan mengusap kelopak mata kiri Dhavin secara pelan, sehingag secara otomatis, Dhavin sempat menutup matanya, dan menikmati usapan lembut yang di lakukan oleh jari jempolnya Revina.
“Kamu pasti melihatnya kan?” Tanya Dhavin, memancing Revina untuk memikirkan apa yang Dhavin maksudkan.
“Ya, aku melihatnya setiap hari.” Sahut Revina, jari jempolnya lantas berhenti tepat di pelipisnya Dhavin, meraih wajah Dhavin dan terus menatap mata penuh dengan keinginan itu.
“Hayo, melihat apa?” Canda Dhavin dengan sudut bibirnya yang terangkat.
“Aku melihat-” Dengan sengaja, menggantungkan kalimatnya, secara perlahan mereka berdua akhirnya saling mendekatkan wajah mereka, mengikis jarak, menempati posisi untuk saling bertukar udara, “Matamu yang menginginkan banyak hal dari wanita sepertiku.” Imbuh Revina.
Dan aroma maskulin yang menyerbak menyelimuti mereka berdua, sontak menjadikan Dhavin dan Revina segera merapatkan jarak mereka menjadi sebuah sentuhan, bibir dengan bibir.
CUP.
Sentuhan lembur mendarat di permukaan mulut mereka, berbagi ludah, nafas, kehangatan, dan perasaan.
Apakah itu termasuk dalam kategori berbagi cinta?
Sayangnya bagi dua orang yang dilanda kebucinan, mereka menganggapnya ‘Iya’.
“Mh..” Lenguh Revina.
Sentuhan itu tidak hanya berlaku pada mulutnya, tapi juga punggungnya.
Sebaun erotika yang hanya berlaku untuk dua orang saja, dan mereka berdua sedang melakukan penyatuan mulut dalam nuansa hangat yang sudah di ciptkan oleh Dhavin dan Revina sendiri.
“Aku cukup beruntung, bisa mendapatkanmu.” Setelah mengatakan itu, Dhavin membuat penempatan bibirnya menjadi sedikit lebih berenergi. menciptakan suasana lebih panas, sampai AC yang sudah menyala itu, tetap tidak mampu menghentikan peluh yang perlahan kian muncul, dan keluar dari pori-pori tubuh mereka berdua.
“Phuah…” Revina menyempatkan dirinya untuk melepaskan tautan nya. “Aku juga.” Dengan tatapan mata sendu, bibirnya kembali di sambar oleh Dhavin.
CUP.
__ADS_1