
Selagi memeluk Revina di dengan pose bersandar di atas tangga, Dhavin pun memberikan satu kode untuk supirnya itu agar memotret mereka berdua di sana.
Dan karena kebetulan ke empat nak buah Dhavin semuanya peka, mereka pun menyingkir dari sana.
"Aku akan segera pulang, jadi tunggu aku ya." Bisik Dhavin, tepat di depan wajah Revina.
Dan Revina sendiri, hanya memasang senyuman lemah, sampai di tahap terakhir dari salam perpisahaan mereka berdua adalah sebuah kecupan yang cukup mendominasi.
CKREK...
Semua orang yang ada di pesawat, termasuk dengan Vinella sendiri, langsung terpukau, karena mereka terlihat sedang menyaksikan foto prewedding, apalagi dengan background sebuah pesawat jet dengan gambar yang cukup unik, membuat kesan mereka semua yang berhasil melihat Dhavin dan Revina saling bertukar ciuman, tidak akan pernah hilang dari dalam kepala mereka.
"Mereka berdua sangat cocok."
"Hmm, walaupun aku iri, karena pria itu cukup tampan, tapi aku harap mereka berdua bisa bersama selamanya." ucap salah satu penumpang pesawat.
Setelah puas menyaksikan pemandangan yang cukup langka itu, pesawat tersebut pun lepas landas dari bandara internasional Domodedovo, dan memberikan angin besar yang langsung berhembus kencang menerjang tubuh Revina dan Dhavin serta mereka semua.
__ADS_1
Angin yang seketika menyapu rasa gerah di tubuh mereka.
CKREK....
'Ternyata selain bisa jadi supir pribadi mereka, aku bisa jadi fotografer mereka. Aku harap Tuan Arlsei memberikanku gaji lebih.' Dengan niat busuknya itu untuk memeras Arlsei yang ada di rumah, supir sekaligus anak buah Dhavin yang satu ini pun bekerja dengan cukup baik, mengambil semua gambar yang ada, agar kenangan yang Dhavin dan Revina buat, tidak menghilang begitu saja.
Dan seperti yang di harapkan, setelah selesai berbagi kasih di tangga, mereka berdua pun akhirnya berpisah.
Dhavin pun, hanya bisa mengulas senyum kepada Revina. Tentu saja dengan wajah tampan yang dipenuhi dengan stempel bibir milik Istrinya, Dhavin tanpa sungkan juga, melambaikan tangan pada pesawat yang baru saja mendarat di depan sana.
'Kenapa perasaanku merasa tidak enak ya? Semoga Dhavin pergi dan pulang dengan selamat.' Pikir Revina.
"Dia orang yang aneh. Ya kan?" Kata Revina, pada supirnya.
"Tapi, yang membuat Bos aneh, juga anda sendiri, Nyonya. Apa anda tahu? Sebenarnya jet pribadi milik Bos ini sebenarnya hanya di cat berwarna hitam, tapi demi Nyonya yang ingin mengantarkan Bos ke bandara, semalam kami mendapatkan perintah untuk mengecat ulang jadi seperti itu." Jelasnya, dia pun sebenarnya sedikit begadang juga, sebab orang yang berhasil membuat desai gambar itu adalah dia sendiri, makannya dia pun berani bercerita kepada majikannya itu.
"Dia terlalu memubazirkan uang. Padahal tidak perlu sampai seperti itu." Gumam Revina, jadi merasa dirinya adalah penyebab dari semua keuangan Dhavin terus terkuras tanpa tahu tujuannya itu sebenarnya bagi Revina sendiri kuranglah berguna.
__ADS_1
"Kenapa Nyonya berpikir seperti itu? Padahal ini adalah bentuk perhatian Bos kepada anda, karena Bos memang dengan sepenuh hati, ingin membuat anda tersenyum."
Mendengar nasihat yang diberikan oleh supirnya itu, Revina sedikit memperhatikan kaca jendela pesawat, di sana terlihat Dhavin sedang memberikan ketukan jari kepada permukaan kaca, dan membentuk sandi rahasia khusus untuk Revina.
"Apa yang dia sampaikan?" Tanya Revina, cukup penasaran. Karena ia tidak tahu apa yang ingin di katakan oleh Dhavin kepadanya.
Supir ini pun menjawab : "Bos mengatakan kalau anda harus selalu percaya kepadanya, apapun yang terjadi."
'Ini, kenapa aku teringat dengan paman yang ada di pacuan kuda ya?' Revina mengerjapkan matanya, dia mencoba mengingat apa yang pernah di katakan oleh pelatih kuda yang melatih Dhavin sampai seperti itu, adalah untuk tetap percaya kepada Dhavin, apapun, dimanapun, dan dalam situasi apapun.
Dan berakhirnya waktu detik-detik pertemuan diantara mereka, jet pribadi milik Dhavin pun akhirnya bergerak di kendalikan oleh Aircraft Towing Tractor (ATT), menarik dan mendorong roda depan pesawat, sehingga bisa sejajar dengan landasan pacu, sebelum akhirnya pesawat itu pun lepas landas juga.
"Aku jadi kangen." ucap Revina lirih, melihat pesawat tersebut sudah lepas landas dan meninggalkan mereka berdua di sana.
''Nyonya~'' laki-laki yang bekerja jadi supir ini, sedikit bersimpati, karena Bos nya baru juga pergi, tapi Nyonya sudah kangen. 'Cinta memang tidak ingin di pisahkan.'
"Tapi- kenapa perasaaku tetap saja tidak enak ya? Apa kamu tahu artinya apa?"
__ADS_1
"Maaf, saya tidak tahu Nyonya, mungkin saja anda hanya tidak ingin membiarkan Bos pergi. Tapi Nyonya, lagi pula Bos tidak akan pergi lama-lama, jadi anda tunggu saja sampai saat itu, ya?" Ucapnya, memberikan semangat kepada Nyonya majikannya itu.
"Hmmm." sayangnya, Revina sama sekali tidak ingin menunggu, itulah yang ada di dalam dirinya saat ini.