
"Hah ...!" Dhavin seketika itu juga membuka matanya lebar-lebar. Nafasnya begitu memburu, dan pikirannya pun jadi terasa kacau, sebab apa yang dia lihat seperti nyata, apalagi rasa sakit yang dia miliki sekarang?
"D-Dhavin, kamu akhirnya bangun juga." Kata Revina dengan wajah cemas?
'Kenapa dia terlihat cemas seperti itu?' Dhavin yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba wajah Revina seperti wajah yang takut juga khawatir, langsung mengusap pipi Revina dengan penuh perasaan. "Kenapa kamu se-"
Namun belum juga mengatakan kalimat yang ingin di katakan nya, Dhavin melihat sesuatu yang cukup mengejutkan, sebab ada darah di tangan kanannya.
"Kenapa tanganku bisa terluka?" Gumam Dhavin sambil memeriksa punggung tangannya sendiri dimana di sana ada luka seperti pukulan?
"Apa kamu tidak sadar. Saat tidur tadi, kamu sempat memukul headborad. Lihat itu." Revina pun menunjuk apa yang ada di atas Dhavin.
Tempat yang biasanya di gunakan sebagai sandaran kepala atau punggung itu, sudah retak karena di pukul oleh Dhavin.
Ketika itu Revina sedang tidur di dalam pelukannya Dhavin, tapi tiba-tiba karena dia merasakan adanya ekspresi wajah Dhavin yang terlihat terusik, Revina pun jadi terbangun.
Dan saat Revina hendak membangunkan Dhavin yang mulai melindur itu, tiba-tiba ia hampir di pukul oleh tangan Dhavin yang besar itu.
Pukulan telak, yang bisa saja membuat tubuh mendapatkan pukulan yang cukup fatal, dan dari daya kekuatan yang di hasilkan, Revina memperkirakan kalau itu akan membuatnya meregang nyawanya lagi, kalau saja dirinya tidak cepat-cepat menghindar.
"A-apa? Jadi aku tadi memang sungguhan memukulnya? Sampai seperti itu?" Dhavin langsung bangkit, dia melihat tangan kanannya sendiri dengan seksama, itu memang ada luka dan memperlihatkan darahnya sendiri.
"Sini aku bantu mengobatinya." Antara takut dan cemas, dua rasa itu menjadi satu di ekspresi wajahnya.
Dhavin memandangi Revina yang sudah bersiap untuk membuka kotak P3K. "'Memangnya kamu bisa?"
"Entahlah." Jawab Revina dengan nada datar, dan terdengar antara yakin juga tidak. "Tapi aku akan mencobanya." Imbuhnya.
__ADS_1
"Aku akan melihatnya, jika tidak bisa, aku masih bisa mengajarimu." Tawar Dhavin.
Revina pun mengeluarkan kapas, perban, plester dan obat merah. Persiapan untuk jadi perawat eksklusif untuk Dhavin pun di mulai.
Dengan pelan dan penuh perasaan, Revina mencoba membersihkan darah yang ada di pada permukaan kulit yang terluka dengan cukup hati-hati, seakan itu adalah artefak dari zaman kuno yang harus di berikan perhatian khusus saat pembersihan.
"Sakit tidak?"
Dhavin tersenyum. "karena Istriku sendiri yang melakukannya, ini tidak begitu sakit lagi. Mungkin jika kamu mencium tanganku yang luka itu, besok bisa langsung sembuh. " Papar Dhavin.
Revina yang mendengar hal tersebut, diam dengan wajah sudah tersipu malu. Meskipun memalukan karena sering di gombal oleh Dhavin, Revina hanya merasa senang saja, sebab dia tidak sendirian lagi dalam beberapa hal.
Setidaknya itu yang dia rasakan selama pernikahannya.
Jika saat jomblo dia sama sekali tidak memiliki orang yang senantiasa di ajak bicara, maka tidak dengan sekarang, dan yang ada adalah dia sering di rayu.
"Apakah kamu tidak lelah memilih kalimat gombalan untukku?"
Revina semakin mengembangkan senyumannya sendiri. "Ya, aku semakin cinta."
'Jujur sekali perempuan ini.' Karena Dhavin berhasil membuat rasa takut dan cemas milik Revina hilang tanpa di sadari oleh Revina sendiri, Dhavin pun mendaratkan tangan kirinya di puncak kepala Revina dan mengusapnya dengan perasaan gemas.
'Dia selalu saja seperti ini.' Revina berusaha untuk membalut tangan Dhavin dengan perban, selagi itu pula, Revina menikmati usapan di atas kepalanya itu.
"Soal kamu bermimpi kalau Louisa tidak menganggapmu sebagai Ibunya, apakah kamu benar bermimpi seperti itu?"
"Ya. Dia memarahiku habis-habisan karena soal baju." Ekspresinya berubah menjadi masam, dan itu terlihat seperti orang yang sedang benci dengan mimpinya sendiri.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kamu lakukan dengan bajunya?"
"Karena aku menjahitnya, dia malah memakiku, dan menganggapku sebagai pelayan yang menggodamu dengan naik ke ranjang agar aku dapat posisi Nyonya Calvaro." Dan dari segi penjelasan yang di jawab oleh Revina, Dhavin pun jadi sangat yakin kalau itu berhubungan dengan mimpi yang Dhavin alami tadi.
"Menjahitnya? Apa maksudmu?"
"Maksudnya aku menjahit salah satu baju yang jahitannya lepas, tapi balasannya ya..itu." Revina pun tidak melanjukan perkataannya, karena sudah jelas apa kalimat selanjutnya.
Dhavin ingin sekali menepuk dahinya sendiri. Tapi jika dia melakukan itu di depan Revina, sudah pasti Revina akan semakin merungut.
'Pantas saja. Rata-rata orang yang punya uang, lebih suka beli yang baru ketimbang harus memperbaiki jahitan dari pakaiannya sendiri. Ah~ Istriku ini benar-benar polos sekali.' Dhavin menyudahi mengusap kepala Revina, menggunakan tangan kirinya itu untuk menopang tubuhnya yang diposisikan sedikit ke belakang. 'Dia sungguh berbahaya jika keluar sendirian.'
Dhavin pun jadi memikirkan sampai kesana.
Jika Revina keluar sendirian dan di goda pria lain.
Saat itu juga, Dhavin akan menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyeretnya pergi jauh-jauh, dan kalau bisa tidak akan membuat Revina bertemu dengan pria itu lagi, dan sebaliknya.
"Karena kamu terluka seperti ini, tidak usah pergi dulu."
Alisnya saling bertautan, setelah itu Dhavin berkata : "Yang sakit hanya tangan, bukan kaki, jadi kita masih bisa jalan-jalan." Kata Dhavin. "Jadi siapkan saja dirimu."
Setelah selesai membalut tangan kanan Dhavin dengan perban, Dhavin beranjak dari kasurnya, dan pergi menuju kamar mandi.
ZRASSHH.....
"Baru juga di obati, kan jadinya sia--sia kalau kamu mandi!" Ucap Revina memperingatkan.
__ADS_1
"Yah ...., jika aku tidak mandi, feromonku pasti akan menghasut banyak wanita. Kamu mau itu terjadi?" Jawab Dhavin, masih berada di dalam kamar mandi.
'Padahal mau mandi atau tidak, feromon dia tidak akan pernah hilang.' Gerutu Revina di dalam hati.