
"Telepon Revina." Kata Dhavin, setelah meletakkan handphone baru miliknya di dashboard mobil.
Perintah suara yang di ucapkan oleh dhavin pun langsung terkoneksi untuk melakukan panggilan terhadap istri tercintanya.
"......? Kenapa dia tidak mengangkatnya?" Gumam Dhavin, terheran dengan panggilan teleponnya yang tidak langsung di jawab, 'Aneh, padahal biasanya dia langsung mengangkatnya.' Imbuhnya lagi.
Sekarang Dhavin tentu saja sudah lebih mengenal Revina yang notabene nya saat ini adalah Istrinya, Revina adalah tipe orang yang tidak akan lepas dengan handphone nya, karena itu, selama ini setiap kali dhavin menghubunginya, kurang dair dua detik setelah tersambung, pasti langsung di angkat.
Tapi sekarang?
"Apa dia sedang balas dendam kepadaku gara-gara aku tidak memberinya kabar sampai tiga hari ini?" Lirih Dhavin.
DIkarenakan tidak di angkat-angkat, Dhavin pun menyudahi tindakannya itu dan memutuskan menaikkan kecepatan laju mobilnya sampai di atas 90 kilometer per ham dan terus naik, agar bisa cepat sampai di rumah, sebab beberapa saat tadi dirinya mendapatkan pesan dari Arlsei, kalau revina sudah pulang.
__________
30 Menit kemudian.
Setelah perjalanan panjangnya, yang memakan waktu samai 30 menit perjalanan, Dhavin akhirnya sampai di kediaman miliknya.
Dhavin sempat melirik mobil sedan berwarna biru metalik yang dimiliki oleh Arlsei ternyata terparkir di depan halaman persis. Dengan raut wajah tenang, tapi disertai senyuman kecil, setelah berhenti tepat di depan rumah persis, Dhavin langsung keluar dari mobil dan bergegas berjalan masuk kedalam rumah mewahnya.
"Selamat datang tUan." Sapa para pelayan rumah, datang menyambut majikannya yang baru saja pulang itu.
"Apa dia ada di kamar?" Tanya Dhavin tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai dua.
"Benar Tuan, Nyonya saat ini sedang beristirahat di kamar Tuan." Sahut salah satu pelayan. "Tapi-"
Belum juga ingin memberitahu sesuatu kepada Dhavin tentang suasana hati yang sedang di alami Revina, dengan langkah lebar, Dhavin bergegas pergi menuju lantai dua untuk menemui Revina tentunya.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, tentu saja sebagai pemilik dari rumah, apalagi kamarnya sendiri, tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk kedalam kamar.
"Revina." Panggil Dhavin. Dia pergi melangkah masuk sembari mencari sosok dari wanita yang sekarang sudah menjadi Istrinya. "Dia pasti lelah karena perjalanan." Bisik Dhavin, ketika dia tidak sengaja melihat Revina ternyata sudah tertidur, tapi di atas sofa.
Dan karena melihat ada beberapa camilan, maka artinya Revina baru saja makan, dan langsung tertidur setelah makan obat.
__ADS_1
Dhavin pun melangkah menghampiri Istrinya yang terlihat sudah tertidur pula, dengan tangan kanan ternyata sedang memegang handphone.
Namun ketika Dhavin membungkuk untuk menggendong Revina untuk Dhavin pindahkan ke kasur, saat itu dia melihat kalau kelopak mata yang tertutup itu terlihat basah, dengan arti lain....
"Apa Revina baru saja menangis?" Gumam DHavin. UJung jari jempolnya pun digunakan untuk menyeka air mata yang nampak menggenang lagi di pelupuk matanya.
Melihat Istrinya menangis, tiba-tiba hatinya terbesit rasa sakit seperti di tusuk jarum kecil, tapi cukup menyakitkan.
Maka dari itu, Dhavin pun penasaran, apa yang membuat wajah dari Istrinya yang cantik itu ternodai oleh air mata kesedihan?
'Siapa yang sudah membuat Revina menangis? JIka aku menemukan orangnya, aku tidak akan segan menyiksanya, atau bahkan untuk mem-' Sayangnya segala kalimat kutukan itu langsung menghilang, sesaat tiba-tiba saja bahunya mendapatkan tepukan yang cukup keras, tapi juga cukup menekan. Dan ketika meniliknya, Dhavin dikejutkan dengan Revina yang saat ini sudah terbangun dari tidurnya, di sertai tatapan yang cukup tajam.
'Kenapa Revina menatapku sampai seperti itu? Apakah dia marah karena aku tidak menghubunginya selama hampir tiga hari?' Pikir Dhavin, kala itu dia berpikir kalau tatap sengit yang ditunjukkan Revina kepadanya adalah karena kesalahan Dhavin yang tidak memberinya kabar beberapa hari ini.
Padahal kenyataannya bukanlah itu.
"Dari mana saja kamu? Kenapa aku tidak bisa menghubungimu?" Tanya Revina dengan nada penuh penekanan.
Revina kemudian merubah posisinya dari berbaring, jadi duduk dengan membungkuk ke arah Dhavin yang kebetulan sedang berjongkok.
".........." Revina memejamkan matanya, lalu mengendus aroma tubuh Dhavin yang sudah terpatri di dalam otaknya. Dia ingin mencari sesuatu, apakah ada aroma lain pada tubuh suaminya itu?
Melihat tingkah Revina yang cukup imut seperti nj*ng kecil yang sedang mencari tahu aroma majikannya atau bukan, membuat Dhavin menarik sudut bibirnya.
"Apa kamu rindu dengan aroma feromonku?" Bisik Dhavin tepat di samping wajah Revina.
Sonta Revina langsung menegang. DIa memang rindu, baik itu Dhavin, si keberadaan pria ini , juga aroma tubuhnya yang cukup menggoda itu. Akan tetapi, bukan itu masalah yang di ahadapi, tapi yang jadi masalah adalah..
"Buka bajumu." Perintah Revina.
Masalahnya disini, apakah Dhavin benar-benar pergi keluar negeri, dan apakah benar, Dhavin adalah orang yang ada di dalam foto itu?
Semua itu akan Revina selidiki secara langsung pada tubuh Dhavin ini.
"Ha~ Sampai ingin tubuhku langsung tepat setelah aku pulang, kamu benar-benar wanita yang nakal ya." Sambil tersenyum penuh kemenangan, dengan menurutnya, dia melepaskan mantel coat miliknya itu, setelah itu dia pun melepas kemeja abu-abu nya. Karena itu, satu per satu kancing yang menautkan kedua sisi baju itu, dia lepas dan sampailah dimana tubuh Dhavin saat ini, akhirnya sudah bertelanjang dada. "Aku sudah melepas pakaianku, ap-"
__ADS_1
Dalam detik yang sama, Revina pun langsung mendorong tubuh Dhavin yang cukup atletis itu dalam sekali dorong, dan....
BRUKK!
Tubuh besar Dhavin langsung terjungkal ke belakang.
Tapi yang membuat sepasang mata Dhavin membulat sempurna adalah saat ini Revina benar-benar sudah duduk di atas perutnya.
"D-dhavin." Seketika matanya sudah kembali berlinang degan ari mata.
"R-revina, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Dhavin tentu saja langsung panik . Dia bukan panik karena Revina mendorong tubuhnya dan duduk di atasnya, seolah Revina menginginkan hal lebih kepadanya, tapi karena istri kecilnya itu tiba-tiba saja menangis?!
Apa penyebabnya?
Dan kenapa tiba-tiba Revina yang tidur setelah menangis, kini menangis lagi?
Apa yang sedang Revina tangisi sampai sesenggukan seperti itu?
"Huwaaa...! Hiks! Hiks! D-dhavin!" Panggil Revina dengan tangisan yang sudah pecah, karena Dhavin akhirnya bisa dia tangkap juga.
Sambil menangis, Revina mencoba memperhatikan tubuh Dhavin yang sudah separuh telanjang itu, apakah ada bekas ****** milik wanita yang dia lihat di dalam foto itu atau tidak?
"Vin jawab aku. Kenapa kamu menangis? Apa yang kamu tangisi ini?" Dhavin langsung menarik tangan Revina sampai akhirnya tubuhnya bisa Dhavin peluk.
"K-karena kamu! Hiks...hiks..." Revina mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Dhavin. Tapi sayangnya tenaga Dhavin untuk memelukanya itu, cukuplah kuat
Dhavin mengernyitkan matanya saat Revina ternyata memberontak ingin lepas dari pelukannya. Tapi sayangnya, saat itu juga tatapan matanya berubah menjadi lembut.
Sebab dirinya sadar kalau ia memang melakukan kesalahan kepada Revina. Karena itu, demi menenangkan Revina yang menangis dan ingin lepas dari pelukannya, Dhavin pun menjawab. "Iya...iya, aku salah. Maafkan aku."
Mendengar Dhavin mengakui kesalahannya, Revina pun langsung menjerit, "Jadi kamu mengakui kamu salah? Karena ternyata di belakang, kamu mengkhianatiku?"
"Kenapa ka...akh!" Dhavin merintih sakit saat aset miliknya tiba-tiba saja di remas dengan cukup kuat. "Revina.." Panggil Dhavin sambil menahan serangan yang dilakukan oleh tangannya Revina itu. "Apa yang sebenarnya kamu maksud? Mengkhianatimu? Itu jelas tidak mungkin, akh..!" Dhavin jadi kembali mendesis sakit karena area pribadinya kembali di remas.
"Tidak mungkin apanya? Jelas-jelas buktinya tiga hari ini pergi tanpa kabar! Dan kamu di belakangku melakukan hal itu dengan wanita lain!" Jelas Revina dengan nada tinggi.
__ADS_1