
"Kamu mau pergi kemana?" Karena suasananya yang kurang nyaman setelah di tempeli keringat Dhavin, Revina mau tidak mau jadi mandi, sekaligus menerima rasa sakit yang memang asing ada di bawah sana. 'Ish ..., sebenarnya kapan sembuhnya sih?'
Dalam diam Revina protes pada dirinya sendiri karena dia benar-benar sama sekali tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Tapi karena ia melihat penampilan rapi Dhavin yang begitu menyita hati, makannya Revina pun mencoba menepis rasa sakit itu dengan rasa penasarannya.
"Aku harus bertemu dengan teman lama." jawab Dhavin.
"Tapi apa iya, harus di jam sore seperti ini? Kan tanggung, aku ingin sekalian makan malam denganmu."
"Aku tidak bisa sayang-"
BLUSH.
BIbir Revina langsung manyun, masih belum terbiasa dengan kata sayang-sayang seperti itu.
Dhavin melirik wajah Revina yang imut. "DIa orang yang pernah datang kerumah ini. Namanya Vian, ingat kan?" Tanya Dhavin sambil mencoba mengingatkan Revina satu tahun yang lalu.
"Vian?" Wajah berpikirnya pun terlihat juga. Dia mencoba mengulas kembali masa lalunya waktu kedatangan seorang tamu secara tiba-tiba.
________________
Malam itu.
"Ah~ D-dhavin, jangan terlalu keras."
"Kamu tadi bilang jangan terlalu lembut, sudah sedikit diberi tenaga, tapi malah keras." Protes Dhavin kepada Revina yang tidak tahu maunya yang seperti apa. "Maunya yang seperti apa, sih?"
"Yang sedang. Terlalu lembut itu tidak berasa, tapi terlalu keras juga sakit." Beritahu Revina lagi pada Dhavin yang kini ada di belakangnya persis.
"Terserah. Tapi ini sangat merah, punggungmu jadi ternoda. Aku tidak tega melakukan ini padamu. Sudahan ya?"
"Jangan, ini masih nanggung." Revina berbalik, dan meraih tangan Dhavin sebelum beranjak dari tempatnya itu.
Dhavin menghela nafas dengan cukup kasar. Dia membuka pakaiannya dan Revina yang awalnya dalam posisi memunggunginya, Dhavin buat Revina berhadapan dengannya dan segera memeluknya.
"Aku tidak mau kamu menderita dengan garis merah itu." Kata Dhavin, melemparkan tubuhnya ke belakang, sehingga kini dia berhasil berbaring di atas sofa dengan posisi Revina berada di atasnya.
Selimut yang sempat menutupi tubuh bagian depan Revina, Dhavin tarik untuk di gunakan menutupi punggung polos Revina.
"Ngomong-ngomong, tubuhmu memang benar-benar panas." Cibir Dhavin dengan seringaian liciknya.
__ADS_1
Karena sekarang di rumah hanya ada mereka berdua, Dhavin pun bisa sesuka hati berduaan dengan Revina.
Dan salah satunya adalah sekarang, Revina benar-benar sudah separuh telanjang, dan Dhavin sengaja peluk untuk membagi kehangatan atau lebih tepatnya membagi suhu tubuh Revina yang panas, dan sebenarnya memancing tubuh Dhavin untuk bertindak lebih.
"Adikku minta jatah nih." Imbuhunya.
Revina menghiraukan segala gombalan itu, karen dia lebih memilih untuk diam dan menikmati alunan dari detak jantung yang sedang dia dengar secara langsung setelah mendaratkan kepalanya di atas dada bidang milik Dhavin.
"Kau benar-benar tidur?" Tanya Dhavin, dia tidak percaya kalau gombalannya malah di hiraukan oleh Istrinya itu.
"Aku memang ingin tidur, tapi mulutmu terus mengganggu." Akhirnya Revina menjawabnya.
"Hahaha, lagian kamu sangat imut."
"Diam." Revina mencoba untuk memejamkan matanya.
"Jika kamu tidur, aku bisa menghabisimu loh."
"Shht.."
"Eh~ Coba rasakan ini, walaupun kamu sedang demam sampai ingin di kerok, yang seperti ini bisa terus jalan." Tekanan yang sedikit keras pun sebenarnya menyambut gerbang yang ada di bawah sana.
Dhavin tersenyum sinis, reaksi wajah Revina yang terusik itu membuat Dhavin merasa lebih cantik. "Ini salahmu sendiri, menyuruhku mengerok punggungmu."
"Iya, iya, aku salah. Tapi apa kamu tidak bisa membiarkanku tidur? Aku ngantuk." Gerutu Revina.
Tapi tangan kanan Dhavin terus menyusuri punggung polos Revina. Dan reaksi paling ampuhnya adalah Revina sampai menggigit kulit bagian dadanya.
"Owh baby, kamu ingin gantian menyerangku?"
"Kan kamu yang menyerang duluan." Alisnya bertautan, karena merasa geli di bagian punggungnya.
"Kalau ma-"
KLEK...
"Dhavin, aku datang sesuai dengan pesanku tadi."
Tiba-tiba saja seorang pria berpenampilan jas lengkap dengan kesan rapi layaknya seorang pebisnis, muncul, dan merusak suasana mereka berdua yang kini sedang bergelut di sofa.
"Oh, apa kalian, baru saja bersenang-senang?" Tanya Pria ini, dengan senyuman khas seperti orang yang tahu akan segalanya.
__ADS_1
"Kyaaa ...!"
___________
Flashback Off.
"Akhh ...! Jangan ingatkan aku soal itu!"
"Ya, aku kan hanya memberitahumu, laki-laki itu adalah Vian. Karena waktu itu kamu terlalu terkejut, kamu langsung lari begitu saja dan semenjak saat itu, kamu tidak mau berurusan dengan orang itu, sampai aku yang ingin memperkenalkanmu saja, kamu langsung menolak untuk mendengar namanya." Dhavin akhirnya mengakhiri cerita singkat masa lalunya dengan berjalan menghampiri Revina yang masih memasang wajah imut karena malu.
"A-apa?" Revina jadi mundur kebelakang, tapi pinggangnya itu langsung di raih, sampai tubuh mereka berdua akhirnya menempel satu sama lain.
"Aku minta salam basah darimu. Seperti yang kemarin itu." Dhavin yang tersenyum lebar itu, justru tidak mengesankan niat baik milik Dhavin terhadap Revina.
"S-salam basah apa ya?" Hanya dengan mengingat apa yang Revina lakukan kemarin, membuat Revina tidak kuasa untuk tidak malu.
"Revina, apa kamu sedang mencoba membuat kode denganku? Yakin mau berpura-pura tidak ingat?"
Tidak mau mendapatkan hukuman lebih dari pria ini, Revina menghela nafas kasar, dan langsung meraih wajah Dhavin yang harus Revina tarik agar pria tinggi seperti tiang listrik ini membungkukkan tubuhnya ke arahnya.
CUP.
"Sudah."
"Masa satu?" Merungut kurang dengan hadiah Revina. "Kemarin kan banyak?"
Revina sesaat diam, memandang mata Dhavin yang sedang memohon, layaknya an*jing yang sedang meminta jatah makanan.
"Ini, puaslah." Sedikit geram dengan tingkah kekanakkan yang sedang Dhavin perlihatkan, dengan tatapan seriusnya, Revina langsung mendaratkan mulutnya itu di pipi kanan dan kiri, dahi lalu bibir, dan terakhir hidung yang akhirnya jadi sasaran Revina untuk Revina gigit. "Hii..."
"Ahw ...kalau hidung mancungku hilang, gimana?" Ledek Dhavin. Tapi keluhan itu justru menjadi balasan untuk Dhavin kepada Revina.
CUP.
"Akhh ...!" Revina mundur, benar-benar mundur ke belakang sambil menutup mulutnya sendiri, karena bibirnya sempat di gigit oleh Dhavin.
"Bye aku tidak akan pulang terlalu larut, tapi besok jangan lupa itu." Setelah berhasil mencuri sedikit ludah manis milik Revina, Dhavin pun memakai mantel coat berwarna coklat, sambil menunjuk pada satu pigura besar yang terpampang jelas di dinding tepat di atas televisi yang ada di depan tempat tidur mereka.
Pigura yang memperlihatkan foto milik mereka berdua saat berciuman dalam prosesi pernikahan mereka berdua tahun kemarin.
'Oh ya! A-aku lupa harus menyiapkan hadiah apa untuk Dhavin.' Revina jadi bereaksi terkejut, karena dia sempat melupakan jadwal acara paling bersejarah untuk hubungan milik mereka berdua, setelah menikah satu tahun yang lalu.
__ADS_1