Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
33 : DBMJCP : Visco


__ADS_3

"Ternyata tanganmu nakal juga." Kata Dhavin saat merasakan usapan lembut dan cukup menyeluruh merambah punggungnya yang lebar itu.


Revina tentu saja langsung menjawab. "Kamulah yang lebih nakal." Merasakan paha kirinya benar-benar di usap denga ntangan cantik milik Dhavin, sampai saat pertama kali menyadarinya, dia ada sedikit merasa rasa dingin yang ternyata berasa dari cincin pernikahan yang tetap melingkar di jari manis pria ini.


Sungguh pria yang cukup menyenangkan, wajah dari ekspresi Revina tentu saja sudah mewakili kata itu, karean Dhavin selalu saja berhasil menyenangkannya dengan segala sentuhannya.


"Tapi kamu dulu yang memberikanku paha manis ini." Sahut Dhavin lagi, masih tidak menghentikan pekerjaan sampingannya di sela-sela dirinya masih memejamkan matanya.


"Aku tidak sadar melakukannya." Jawab Revina singkat.


"Tapi sekarang sudah sadar kan? Dan sekarang kamu sedang membalasku. Bagaimana? Bukannya kamu merindukan punggungku yang lebar seperti tempat tidur ini?" Pagi-pagi mulut itu kembali mengeluarkan godaan setan untuk Revina.


"Ya...aku jadi ingin tidur di atas punggungmu."


"Dari pada di atas punggungku, bagaimana jika di atas dadaku?" Sela Dhavin di detik itu juga.


Revina pun terdiam. Dia menghentikan tangan kirinya yang nakal itu dan kemudian beralih posisi untuk naik keatas Dhavin untuk tidur di atasnya.


BRUK....


"Apa tidak sesak?" Tanyanya, saat ini dirinya sudah ada di atas tubuh Dhavin, hingga karena itu pula, Revina mampu mendengar detak jantung Dhavin yang cepat itu.


"Sesak apanya? Ini justru menyenangkan." Saking menyenangkannya, tentu saja Dhavin berulah lagi, karena tangan kanannya itu sempat menarik ujung dari piyama yan di pakai oleh Revina hingga ke atas, dan dia membalas sekaligus melanjutkan perbuatannya yang tadi sempat tertunda itu, yaitu mengelus punggung Revina secara langsung.


Revina yang nyaman sendiri itu, hanya membuat mainan kecil dengan mengusap pipi kiri Dhavin yang mulus itu, dan sesekali mencubitnya.


Dhavin tentu saja melakukan hal yang sama juga.


NYUT..


Namun sayangnya kebersamaan dari mereka berdua berakhir sebab tiba-tiba saja handphone Dhavin berdering.


DRRT...

__ADS_1


DRRT....


"Kenapa tidak mengangkatnya?" Tanya Revina, melihat Dhavin masih saja setia untuk memanjakannya, padahal ada yang sedang menelepon Dhavin. "Kali saja itu penting." Imbuh Revina.


"Aku hanya ingin menikmati pagi ini dengan menikmatimu, bukan handphone." Balas Dhavin.


"Aku juga inginnya menikmati pagi ini dengan elusanmu." Manja Revina, tidak berhenti mengusap-usap wajah, lalu ujung kepala Dhavin.


"Kamu ini benar-benar ya," Dhavin mengecup ujung kepala Revina.


*


*


*


"Tuan tidak mau mengangkat teleponnya." Kata pria berjas hitam ini, sudah beberapa kali mencoba menghubungi Bos nya itu, tidak ada satu panggilan pun yang di angkat.


"Kamu meneleponnya di waktu yang salah." Sela wanita berambut pirang ini, pakaiannya adalah pakaian pelayan, tai saat ini mereka berdua sedang berdiri di ranting pohon.


"Bos sedang bersenang-senang dengan Nyonya, jangan ganggu kesenangan majikan kita. Pergi dan awasi lagi, kali saja ada lagi penyusup. Tidak...maksudku bukan manusia, tapi mungkin saja adalah-" Menggantungkan kalimatnya, wnaita berambut pirang ini langsung menjeling ke arah samping kiri lalu melempar pisau dapurnya ke arah yang sduah di targetkan.


JLEB..


"Apa itu?" Tanya laki-laki ni, dengan target yang sduah berhasil di lumppuhkan oleh pelayan itu.


"Robot, dia khusus untuk memata-matai rumah ini. Mungkin karena itulah, banyak penyusup yang berhasil masuk kedalam ke kediaman milik Bos ini. " Jelas perempuan ini, setelah berhasil menciduk adanya robot lebah yang sedang terbang tak jauh dari tempat dia berdiri saat ini. "Beri pesan saja untuk Bos, jangan ganggu lagi. Berpencar."


"Baik."


Kedua orang ini pun turun dari atas pohon dan pergi mencari sesuatu yanng kiranya akan mencurigakan.


___________

__ADS_1


"Eh...dia seorang pelayan ternyata hebat juga. Dari mana anak dungu yang sedang bucin itu bisa memilih anak buah sehebat itu. Aku jadi iri." Gumam pria berambut silver ini.


"Kenapa Bos?" Tanya salah satu anak buah drai pria berambut silver itu, sebab melihat senyuman kecewa tersungging di bibirnya.


"Tidak ada, hanya saja aku baru melihat tontonan yang cukup menarik." Sahut pria ini, Visco. Dialah orang yang satu tahun lalu ikut dalam sebuah rencana untuk bersenang-senang dengan anak dari Liana, sampai sisi Dhavin yang lain bisa muncul.


Bagi Visco, malam itu sungguhlah menyenangkan, sebab bisa berduel dengan Dhavin yang saat itu masih bau kencur.


"Oh ya, saya ingin bertanya untuk mengkonfirmasi apa yang saya dengar beberapa hari terakhir ini."


"Konfirmasi tentang apa?" Visco menutup laptopnya, lalu mengambil satu cangkir kopi untuk dia minum.


"Apakah di umur anda yang hampir tiga puluh thaun ini, anda benar-benar akan merayakan ulang tahun?"


UHUKK...


Visco ttiba-tiba tersedak dengan air kopinya sendiri.


"Eh..! M-maaf Bos, anda jadi tersedak karena pertanyaan saya. Ini tisunya." buru-buru mengambil kotak tisu dan diberikan kepada Bos Visco.


"Memangnya ada apa dengan umurku? Ulang tahun ya ulang tahun, aakah ada masalah?"


"Tidak sih Bos, hanya saja....rasanya aneh, kan Bos selama ini tidak pernah merayakan ulang tahun." Ungkapnya.


"Mungkin karena semakin bertambah usia, keinginanku jadi semakin aneh. Apa salahnya mengadakannya sekali-kali, lagi pula ... kebetulan aku ingin mengundang mereka, jadi lakukan saja apa yang sudah kamu dengar dari rumor itu." Perintah Visco kepada anak buahnya itu.


"Mereka? Siapa?"


"Mereka, dua orang spesial yang berhasil aku satukan dengan cara paling ekstrim." Jawab Visco ala kadarnya.


"Baiklah Bos, saya pergi dulu." Dia pun pergi meninggalkan bos Viszo di dalam ruang kerja, Visco pun menerima satu pesan dari seseorang. Dimana, pesan yang dia dapat, membuat senyuman Visco semakin mengembang.


"Adel ingin di undang? Bagaimana ini? Lalu Safina juga, dua wanita ini kalau bertemu dengan Dhavin, pasti langsung dikejar oleh mereka berdua. Tapi ini menarik loh, aku tidak jadi mengundang Revina itu, biarkan Dhavin yang datang, dengan begitu aku bisa melihat drama baru dari dua wanita pengejar cinta Dhavin Calvaro. Bagus Visco, jadi seperti itu saja dulu." Ucap Visco pada dirinya sendiri. Dia jadi bertambah semangat, agar anak buahnya bisa menyelesaikan persiapan ulang tahunnya. "Jangan lupa Liana, dia harus aku undang juga untuk melihat tontonan ini." Imbuh Visco.

__ADS_1


Visco pun memberikan pesan singkat untuk salah satu anak buahnya untuk menambahkan daftar nama yang akan di undang, dan mencoret nama Revina dari dalam undangan.


__ADS_2