
BUKH…
Freddy yang lengah, Visco manfaatkan untuk menendang perut Freddy, sehingga Freddy otomatis langsung terdorong ke belakang denngan perut yang sudah pastinya cukup sakit.
Setelah itu, Visco hendak pergi untuk menghampiri Revina, tapi sebelum itu terjadi, Freddy lebih dulu menarik tangan Visco sebelum pria itu lari dari hadapannya.
Sedangkan Visco yang tangannya ketarik oleh Freddy, langsung memberikannya serangan lanjutan dengan melayangkan kedua kakinya secara bergantian ke arah kanan dari kaki kanan baru kaki kirinya, sehingga saat memberikan serangan itu, tubuh Visco sempat melayang di udara.
Dan sebelum Freddy mendapatkan kakinya Visco menendang leher dan kepalanya, Feddy sontak saja langsung melepaskan cengkraman tangannya tadi.
‘Dia memang anak buah yang terbaik, tapi aku juga tidak sendirian.’ Pikir Visco, setelah berhasil membuat jarak dengan Freddy, anak buahnya yang lain yang berperan sebagai sniper langsung membidik Freddy dan langsung menembaknya.
DORR….
Tembakan itu memang membidik ke arah Freddy, akan tetapi Freddy sama sekali bergeming dari tempatnya, karena secara beruntung peluru yang menargetkan ke arahnya, hanya berhasil menggores lengan tangan kanannya.
Maka dari itu, kini akhirnya mereka berdua merasa luka mereka berdua pun jadi sama-sama impas.
“Sayang sekali, anak buahku kuang jeli dalam membidik, hasilnya kau hanya mendapatkan luka gores saja.” Tatap Visco terhadap luka yang di terima oleh Freddy.
“Ya, aku pikir anak buahmu itu harus di ganti dengan yang baru.” Balas Freddy sambil melepaskan magazine dan menggantinya dengan yang baru.
“Aku pikir juga begitu.” Senyum Visco saat melihat Freddy dengan percaya diri mengisi amunisinya.
KLAK.
Setelah berhasil mengganti magazine pitol dengan yang baru, Freddy langsung mengangkatnya dan mengarahkannya ke arah Visco.
“Kau pikir kau bisa melakukannya?” Tanya Visco dengan santai.
__ADS_1
Freddy yang tidak bisa mengalihkan dua pandangan secara bergantian antara Visco dengan Revina yang masih berdiri mematung kembali berkata : “Tentu saja, kita lihat akhirnya.”
“Ok lah,aku akan mencari tahunya sekarang juga.” Seringai Visco, lalu mengangkat senjatanya dengan cepat ke arah depan dan akhirnya suara tembakan pun kembali muncur.
DORR…
DORR….
Tapi tidak seperti perkiraan, mengira kalau Visco akan melawannya dengan serangan saling tembak menembak, yang ada Visco hanya memberikan dua kali tembakan ke arah Freddy, di saat Visco sendiri tiba-tiba saja berlari cepat menghampiri Revina.
‘Dia-’ Freddy pun sontak saja langsung berlari untuk menyusulnya. tapi sayangnya tiba-tiba saja sebuah insting menuntut langkah kakinya itu untuk berlari mundur, dengan kata lain Freddy merasa dia harus berlari ke arah berlawanan.
Dan tidak berselang lama kemudian, tiba-tiba saja ada satu beda terjatuh dari atas langit, dan benda itu jatuh ke tengah-tengah diantara dua helikopter itu.
Revina yang bahkan ikut menyadari adanya benda yang tiba-tiba saja jatuh dari atas langit, ketika menoleh ke belakang, dia tiba-tiba saja langsung di terjang oleh tubuh Visco.
DHUARR….
Sehingga dua helikopter yang ada di sana itu kaca jendelanya langsung pecah semua.
“A-apa? Apa lagi? Kau benar-benar mau membunuhku?!” Protes Revina dengan ketakutannya yang terlihat jelas di wajahnya yang kini sudah di penuhi dengan keringat dingin.
Berkat perlindungan yang diberikan oleh Visco kepadanya, Revina pun selamat dari gelombang panas akibat ledakan tadi.
“Mana mungkin, kan yang aku butuhkan itu adalah kamu.” Jawab Visco dengan sebuah bisikan yang terasa terdengar hanya untuk mereka berdua saja.
Dan saat ini, sebab Visco berhasil menerjang tubuh Revina, Visco pun jadinya menindih tubuh Revina yang terlihat mungil itu di bawah kungkungan nya.
‘Jadi seperti ini tampilan saat Dhavin mendapatkan jatahnya? Ekspresi wajah nya ini jelas tersirat ketakutan, kemarahan, serta … malu?’ Siapa yang tidak akan malu jika saat ini pria yang menindih tubuh Revina bukanlah Dhavin, melainkan Visco. ‘Pantas saja dia sangat tertark dengan wanita ini, mau di lihat dari sudut manapun, wanita ini punya ekspresi campur aduk yang cukup imut.’ Pikir Visco panjang lebar.
__ADS_1
‘Kenapa dia sangat dekat sekali? Aku bahkan sampai merasakan nafas yang berhembus ke wajahku.’ Pikir Revina, dan perlahan pikirannya jadi kosong untuk mengucapkan sepatah kata ketika ia melihat ada sesuatu lagi yang jatuh dari atas selain ekspresi wajah terkejutnya.
‘Ada lagi ya?’ Detik hati Visco, instingnya untuk pergi dari sana terus berteriak, maka dari itu Visco langsung bangun dari atas Revina dan tanpa berpikir panjan lagi, Visco langsung menggendong tubuh Revina yang cukup ringan itu.
“Kyaa, turunkan aku!”
“Memangnya bisa secepat apa kamu bisa lari dengan gaun ini?” Tanya balik Visco, dan lariannya pun langsung di susul oleh kedua anak buah Visco serta Freddy yang sama-sama menyadari adanya serangan lagi berasal dari udara.
Dan benar saja, setelah mereka lari, sebuah ledakan kembali terjadi.
DHUARR..
________________
“Apakah saya harus melepaskan bom nya lagi?” suara milik seorang wanita ini langsung menarik sudut bibir milik seseorang yang kini sedang berbaring di atas batu besar, seakan batu itu sendiri adalah tempat tidur nya.
“Ya, lakukan lagi, agar bisa lebih meriah.” perintahnya.
“Baik,” Dan seperti perintahnya, wanita ini pun menekan tombol enter, sehingga drone yang sedang terbang di atas langit tepat di atas lokasi dua helikopter tadi itu berada, langsung melepaskan bom yang di bawanya.
DHUARR…..
“Api unggunnya cukup besar ya? Pasti di sana lebih hangat.” Kata orang ini lagi setelah mendengar ledakan keras, sampai kepulan asap hitam dan cahaya terang jauh di depan sana menjadi pemandangan paling menarik karena perintah yang dia berikan kepada anak buah nya itu.
“Iya Tuan.” Wanita berambut coklat pendek ini pun menoleh ke belakang, dan melihat majikannya sedang berbaring dalam posisi terlentang, dimana ada satu saputangan berwarna hitam dengan bordiran emas menutupi wajahnya.
“Aku menginginkan nya sekarang, kau tahu artinya kan?”
“Iya Tuan, saya akan pergi memimpin mereka untuk membawakannya kepada anda.”
__ADS_1
“Ya, pergilah.” Sambil mengibas-kibas tangannya kepada wanita itu untuk segera pergi dan melaksanakan tugas yang sudah ia berikan keapdanya.