Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
168 : DBMJCP : Kehangatan terakhir


__ADS_3

Ketika Arlsei tetap berada di rumah untuk menjaga rumah, Dhavin dan Revina sudah berangkat ke bandara.


"Jangan lama-lama ya?" Pinta Revina, di dalam mobil dia sedang duduk sambil di peluk oleh Dhavin yang tengah duduk di sampingnya.


"Iya, memangnya aku pernah ingkar janji denganmu?" Tanya balik Dhavin. Meskipun saat ini Revina sedang duduk di sebelahnya, bersandar ke tubuhnya dan memainkan jari jemarinya di dada bidangnya, Dhavin terus serius dengan bermain tab.


"...." Merasa kesal, sebab Dhavin bersikap malah sebaliknya, Revina yang tadinya ingin bermanja untuk terakhir kalinya, jadi langsung mengurungkan niatnya itu.


Apalagi melihat Dhavin begitu serius dengan pekerjaannya itu, maka Revina memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi dengan melepaskan pelukannya dari tubuh Dhavin dan duduk sedikit menjauh, sehingga bisa memberikan ruang untuk Dhavin, setidaknya, bernafas?


'Revina?' Sadar kalau Revina tiba-tiba melepaskan pelukannya, dan melihat Revina jadi diam sambil menatap pemandangan luar jendela mobil, Dhavin pun meletakkan tab miliknya ke atas meja, dan menarik tangan kanan Revina yang sedang mengepal. "Apa kamu marah?"


"Tidak,"


"Tapi ekspresimu mengatakan sedang marah tuh." Dengan sengaja, Dhavin menyentuh pipi nya Revina, bermaksud menggoda, ujung-ujungnya, Dhavin malah mendapatkan ekspresi Revina yang mau nangis.


"Dhavin~"


"Hmm?" Melihat telinga Revina yang memerah, Dhavin menggeser pan*at nya itu untuk duduk lebih dekat ke sisi Revina, lalu dengan begitu gemas, menggaruk-garuk bawah dagu Revina layaknya sedang memanjakan kucing kecilnya.

__ADS_1


BLUSHH..


"Kenapa? Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan. Oh ya, nanti saat aku pulang, mau aku bawakan oleh- oleh apa?" Dhavin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari rona pipi Revina yang terus memerah.


"Nanti-" Suaranya begitu lirih.


"Nanti apa? Nanti setelah pulang, mau buat anak lagi." Dengan wajah sumringah, Dhavin benar-benar berhasil meledek Revina di ambang batas ketahanan Revina yang pastinya sedang mengingat kejadian yang semalam.


'Tuan, anda begitu suka sekali menggoda Nyonya. Sebenarnya aku melayani majikan macam apa sih?' Bahkan sampai sang supir hanya meliriknya sekilas dan sempat tersenyum tawar sampai dia menghilangkan senyuman itu, sebelum ketahuan Bos nya itu.


"Bukan itu. Aku hanya ingin-" Malu ketahuan ada yang bisa mendengar suaranya, dengan wajah malu-malu itu, Revina menghentikan tingkah Dhavin yang kekanakan itu, yang dari tadi terus menggaruk manja dagu dan mengusap pipinya terus. Setelahnya, Revina menarik leher Dhavin agar lebih mendekat, sampai dia berbisik sesuatu. "Jangan lirik wanita lain,"


'Walaupun aku masih tetap meragukan orang tampan tidak akan melirik wanita lain, tapi aku memang sudah milikmu sepenuhnya.' Melihat Dhavin berhenti bicara, karena tiba-tiba saja kedua tangannya yang mau berulah itu di pegang dengan kedua tangan Revina lebih dulu, Dhavin pun menyeringai.


"Sebagai hadiah terakhir kali untukku sebelum pergi, kamu mau beri aku apa?" Harap Dhavin, kedua tangannya di tuntun untuk memegang pinggangnya Revina saja, tanpa perlu menggelitiknya.


"Aku pada dasarnya tidak punya apa-apa," Sahut Revina, matanya begitu sendu saat menatap mata Dhavin yang berhasil memikat itu.


Sampai berpindah posisilah Revina, yang tadinya duduk di kursi, kini merangkak naik ke atas pangkuannya Dhavin, sehingga dengan posisi itu, punggung Revina berhasil untuk menutupi apa yang akan dilakukannya.

__ADS_1


Dhavin hanya diam tapi tetap tersenyum, menunggu penantian panjangnya, bisa mendapatkan hadiah eksklusif dari Istrinya itu.


Dua wajah saling menatap, kedua tangan Revina yang sedang menangkap kepala Dhavin, perlahan memberikan usapan lembut yang memancing rasa sensitif milik Dhavin, makannya, sebagai balasannya, Dhavin langsung melingkarkan kedua tangannya itu di belakang pinggang Revina, dan menarik tubuhnya agar lebih menempel.


"Jadi aku hanya bisa memberikan ini saja. Apa kamu mau menerimanya?" Wajahnya makin mendekat, nafas yang saling berhembus, menciptakan kehangatan yang tidak bisa mereka berdua lakukan untuk satu minggu ke depan.


Berbagi perasaan, hati, dan kehangatan, serta waktu terakhir milik mereka berdua untuk dia habiskan di menit-menit terakhir milik mereka berdua.


"Apapun itu-" Kecupan pertama, Dhavin lakukan. "Aku akan menerimanya, karena kamulah yang menjadi landasan hatiku. Apa kamu paham?"


Revina tersenyum lemah mendengar gombalan itu, dan akhirnya sebagai hadiah yang bisa dia berikan tanpa uang sepeserpun, Revina akhirnya bertukar air liur dengan Dhavin.


CUP.


'Aku sebenarnya ragu, membiarkanmu pergi. Tapi karena kamu terlihat sesenang itu bisa bertemu dengan klien mu, aku tidak mau jadi penghalangmu.' benak hati Revina.


Dan Dhavin yang sebenarnya masih enggan untuk pergi menjauh dari Revina, semakin mengeratkan pelukan nya itu, menyingkirkan semua jarak diantara mereka berdua, sebelum jarak itu kembali tersusun untuk membuat mereka berdua menjauh dalam urusan mereka masing-masing.


"I Love u Dhavin." Bisik Revina, di sela-sela ciuman itu sendiri.

__ADS_1


"Hm, I love u too Revina." Semakin berlalu, Revina pun melingkarkan kedua tangannya di belakang leher, hingga suasana panas tercipta di dalam mobil yang sedang melaju menuju bandara Domodedovo, bandara internasional yang ada di Rusia.


__ADS_2