
"Pergi ...sini ....sekarang."
'Apa? Kenapa ada suara berisik sekali?' Samar-sama ada kebisingan di sekitarnya, membuat Revina yang awalnya lelap dalam tidurnya, tiba-tiba membuka matanya.
"Tapi kamu ...sendiri...ini-"
'Siapa?' Sekalipun matanya separuh terbuka dan membuat pandangannya terasa begitu samar, Revina mencoba memahami situasinya.
Dia seperti melihat adanya dua orang yang sedang berdebat di sampingnya persis.
Tapi siapa, Revina sungguh antara ingin tahu tapi mata juga masih menggantuk berat.
"Itu adalah tempatku, jadi cepat pergi dari sana." Tuntut Dhavin kepada Freddy yang masih setia tidur di samping Revina.
"Tapi kamu lihat sendiri, dia tidak mau melepaskanku." Freddy sendiri menunjuk pada tangan Revina yang terus saja mencengkram kemeja putih yang Freddy pakai. "Jika aku langsung bangun, dia akan sadar. Kamu yakin dengan hal itu?" Tatap Freddy kepada majikannya sendiri dengan tatapan mata yang cukup berani itu.
"Aku selalu yakin dengan keputusanku sendiri. Pergi sekarang, aku sudah ingin tidur, apa kamu tidak mengerti juga?" Perintah Dhavin kepada freddy. Terlepas dari segala konsekuensi yang ada, Dhavin hanya menginginkan satu saja, yaitu mengusir Freddy dari tempatnya sekarang juga, sebab Freddy ini tidak memiliki izin khusus untuk menjadi penggantinya.
Dhavin pun menarik kerah baju Freddy dari belakang dan segera menyeret pria beruang itu pergi dari atas tempat tidurnya saat itu juga.
Meskipun-
"Dhavin, mau kemana?!" Revina yang kembali memejamkan matanya, semakin mencengkramkan tangannya dari atas kemeja Freddy itu.
__ADS_1
"Aku ingin pergi ke toilet."
"Untuk apa? Perasaan sering kesana. Lebih suka di sana ketimbang di sini ya?" Papar Revina di dalam tidurnya yang masih setengah sadar itu.
Perempatan siku di dahi Dhavin tentu saja sudah langsung muncul begitu saja. Dhavin memang sadar, dia terlihat lebih sering pergi ke toilet, tapi apa masalahnya itu?
'Revina, apa kamu sedang menahan pria asing selain aku untuk terus tidur denganmu? Awas saja, kalau punyamu sudah sembuh total, aku akan membuatmu tiduran terus di sisiku.' Sumpah serapah itu pun jadinya keluar dari dalam hatinya yang terdalam.
"Jangan...pergi."
"Apa kamu mau tanggung jawab, aku buang air kecil di sini?" Tanya Freddy, yang sontak memicu aura Dhavin yang muncul lebih gelap dari yang tadi.
'Apa dia baru saja menggombal dengan Istriku?' Alhasil, Dhavin semakin menarik Freddy agar pergi dari tempat kekuasaannya, yaitu tidur bersama di samping Revina.
"Pergi dari tempatku." Tekan Dhavin dengan nada lirih, tapi penuh dengan ancaman kepada Freddy ini.
Freddy yang barhasil turun dengan selamat itu memperbaiki bajunya dan membawa pergi mantel coat miliknya itu dari sana.
Sedangkan Dhavin menatap sengit Freddy, karena malam ini anak buahnya itu benar-benar mengambil kesempatan besar dengan tidur bersama dengan Nyonya Calvaro.
'Dia benar-benar pemarah. Bukannya salah dia, membuatku jadi dirinya?' Dan Freddy hanya bisa menerima nasibnya sebagai bayangan dari Dhavin ini, lalu pergi keluar dari kamar.
Dengan langkah senyap, tentu saja Freddy keluar dari sana.
__ADS_1
Seperginya Freddy dari wilayah pribadinya, Dhavin yang kini masih mengenakkan jubah mandi, terus menatap Revina yang baru saja berbuat kurang ajar, karena membuat pria lain menyentuh tubuhnya yang bagi Dhavin dari ujung rambut sampai ujung kepala, semua itu sangatlah berharga, hingga Dhavin menganggapnya bahwa satu sentuhan kulit dengan Revina, harganya mahal.
'Revina, untuk kejadian ini, kamu akan menananggung akibatnya belakangan.' Batin Dhavin, akan memberikan Revina pelajaran saat Revina nanti sudah pulih dalam segala hal.
Setelah puas menatap dalam posisinya itu, Dhavin akhirnya melepaskan jubah mandinya, mengangkat salah satu kakinya ke atas tempat tidur, dan perlahan membaringkan tubuh miliknya yang sudah bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer.
"Sudah kembali?"
"Hmm..." Dhavin berdehem sebagai jawaban yang sebenarnya sedang tidak puas hati sendiri.
Tapi karena setidaknya saat ini dia bisa tidur di sampingnya Revina lagi, maka dia Dhavin hanya bisa menahan rasa kesalnya itu.
Dia mengulurkan tangan kirinya untuk di jadikan sebagai bantal eksklusif milik Revina, dan mendekatkan tubuhnya yang sudah bertelanjang dada di depan Revina yang terus saja tidur dalam posisi miring ke arah kanan.
Tangan Revina yang hendak mencengkram kembali sebuah pakaian seperti tadi, hanya bisa mendapatkan sesuatu yang keras, hangat, tapi punya tekstur permukaan dari kulit yang cukup lembut.
'Apa ini? Apakah Dhavin kembali membuka bajunya saat tidur?' Tidak peduli dengan hal itu, karena pikirannya benar-benar membuat matanya ingin sekali memejamkan matanya dan lelap dalam tidur, Revina jadi tidak membahasnya sama sekali selain bisa menikmati aroma tubuh Dhavin yang terasa menenangkan itu.
'Revina-' Dan Dhavin kembali menatap Revina dengan tatapan mata penuh rasa simpati, karena dia harus menghadapi satu kenyataan lain, ketika cardigan yang di pakai oleh Revina ini sempat tersingkap dan membuat luka yang berada di lengan atas dari tangan kirinya Revina jadi terlihat.
Melihat hal itu, Dhavin jadi ingin tahu siapa yang berani menembak Istrinya ini.
Tapi dari pada itu, Dhavin memutuskan untuk kembali tidur.
__ADS_1