
"Lalu aku harus mengatakan seberapa banyak alasan lagi untuk itu Arlsei?" tanya balik Dhavin kepada Arlsei.
"Bukannya lebih baik jujur itu akan memudahkan anda untuk kedepannya lagi?" Arlsei pun benar mengatakan itu tanpa ekspresi apapun di wajahnya itu.
Sedang tidak mau mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Arlsei, tanpa sepatah katta Dhavin menyalakan kembali mesin mobilnya.
'Bicara itu memang mudah. Jujur? Yang benar saja, jika aku mengatakan itu, bagaimana reaksi Revina nantinya?' Ketakutan terbesar yang dimiliki Dhavin pun bukan lagi soal kematian, melainkan Revina yang akan meninggalkannya, jika Revina tahu apa pekerjaan Dhavin yang persis itu.
Hanya saja, saat Dhavin benar-bbenar hendak menancap gas mobil, sebauh teriakan langsung terdengar.
"DHAVIN!"
'Apa yang terjadi?' Teriakan yang tentu saja berasal dari suara Revina itu langsung membuat Dhavin keluar dari mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah.
Sebuah kepanikan langsung melanda diri Dhavin sepenuhnya.
Suara derap langkah kaki yang begitu cepat itu mengisi ruang tamu dari rumah Dhavin. Dan ketika Dhavin berlari masuk, dia pun melihat Istrinya sedang berlari sekuat tenaga untuk pergi menghampirinya?
"Revina? Ada apa?" Demi agar Revina tidak berlari berlebihan lagi, Dhavin lebih dulu menghampiri Revina yang sudah berjarak sepuluh meter di depan Lift.
Raut wajah cemas pun terpapar jelas di wajah Dhavin, dan ekspresi Revina yang terlihat lelah itu pun terpampang cukup jelas juga.
__ADS_1
"D-Dhavin!" Tepat di jarak satu meter dengan posisi Dhavin, Revina langsung melompat dan merangkul belakang leher Dhavin dengan erat hingga Dhavin sendiri refleks langsung membungkuk, dan akhirnya..
CUP..
"........!" Dhavin membelalakkan matanya, melihat teriakan yang tadinya keluar dari mulut Istrinya itu ternyata berakhir dengan sebuah salam manis pagi dengan cara ciuman. 'Revina? Apakah dia baru saja berteriak demi melakukan ini kepadaku?' Pikirya.
Ciuman yang hangat, lembut pun mneyambut pagi mereka berdua dengan nuansa pnis dari sepasang suami istri yang saling mencintai.
Hingga Arlsei yang melihat pemandangan itu haya menatap datar dan berjalan masuk kedalam rumah untuk pergi ke area dapur.
"Revina?" Panggil Dhavin sesaat, ketika tautan mereka berdua terputus untuk saling mengambil nafas mereka berdua masing-masing.
Tidak menjawab panggilan itu, Revina kembali menarik wajah Dhavin agar bisa Revina cium lagi, lagi dan lagi.
Perlakuan Revina pun membuat wajah Dhavin sepenuhnya mulai basah dengan air liur Revina.
"Hei, sabar dong." Sindir Dhavin dengan tingkah Revina yang tidak sabaran itu.
"Sabar bagaimana, kamu pasti akan pergi seharian." Sahut Revina.
"Mana mungkin, aku kan sudah bilang akan segera kembali." Dhavin segera menghentikan ulah Revina yang terus saja mencium wajahnya dengan ganas, seakan perlahan deretan gigi putih milk Revina ini akan memakan wajahnya.
__ADS_1
Dhavin kini sudah menangkap wajah Revina dengan kedua tangannya, dan membuat mereka berdua saling menatap mata mereka.
"Tapi biasanya juga berakhir pulang mal-mphh?"
"Tidak dengan hari ini." Jawab Dhavin atas ucapan Revina yang sempat menggantung tadi setelah Dhavin berikan ciuman juga.
"Kenapa?"
Dhavin pun mendekatkan wajahnya di telinga Revina sebelah kiri, lalu dia mengatakan, "Karena aku ingin berduaan seharian denganmu."
BLUSH..
Kebiasaan Dhavin yang suka menggoda Revina pun kembali muncul juga, membuat wajah Revina tersipu.
'Karena malam tadi kamu cukup bersenang-senang, mari kita puaskan kebersamaan kita hari ini sampai aku puas, Revina.' Benak hati Dhavin, masih kurang puas dengan apa yang terjadi semalam, karena dia mendapatkan sedikit perhatian dari Revina, sebab Revin malam tadi tidur dengan memeluk tubuh pria lain.
Dengan ulahnya yang semakin nakal, Dhavin mengigit telinga Revina, mendaratkan telapak tangan kanannya di salah satu buah dada Revina seraya tangan kirinya itu Dhavin letakkan di belakang pinggang Revina agar jarak diantara mereka berdua semakin dekat dan menempel, sambil berkata : "Maka dari itu, terus jaga tubuh ini dengan baik-baik, jangan sampai ada yang menyentuhnya, apalagi pria lain selain diriku, Revina."
Wajah sipu Revina pun menjadi daya tarik Dhavin untuk melihatnya lebih di permalukan lagi, dan salah satu diantaranya adalah dia dengan beraninya menyelipkan black card miliknya di dalam bra milik Revina.
"Untuk menghilangkan kejenuhanmu, besok kita pergi jalan-jalan."
__ADS_1
"D-Dhavin~" Akhirnya Revina pun terkena ganjarannya karena tadi sempat mencium ganas Dhavin, karena dia memang tiba-tiba merasakan ingin sekali menghabisi wajah Dhavin yang tampan itu dengan ciuman tak terhingganya.
"Dan kamu yang menentukannya." sepasang mata Dhavin pun menatap sepasang mata hitam Revina dengan senyuman manis yang justru terlihat mengerikan, karena seperti ada niat terselubung lain di balik senyuman penuh maut itu.