
Ssetrikaan yang pertama, Dhavin lakukan pada perut Revina yang memang terlihat lebih kendur dari pada dulu.
Tapi Dhavin tidak begitu memperdulikannya, karena itu menjadi bukti untuk Dhavin kalau Revina hampir membuang nyawanya demi melahirkan kedua anaknya.
Dan ujung jarinya itu kemudian menyisir lembut menjalar dari atas dadanya sampai ke perutnya, membuat Revina sedikit mengernyitkan matanya, karena Revina sama sekali masih belum bisa menahan apa itu yang namanya rasa geli yang di buat olah Dhavin ini.
Setelah satu ujung jarinya itu menyisir di kulit tipis Revina persis, yang kedua adalah posisi paling utamanya, yaitu menindih kembali tubuh Revina dalam Kungkungan nya, yang pasti siapapun tidak akan pernah bisa lepas dari jeratan itu, dan salah satunya adalah Revina sendiri.
"Huah...setelah sekian lama, akhirnya kulitku bisa menyentuh kulitmu lagi secara langsung seperti ini." Ungkap Dhavin dengan senyuman penuh kemenangan miliknya itu.
'Keringatnya. Apa Dhavin buru-buru datang kesini karenaku?' Revina yang kebetulan memang cukup menyukai aroma tubuh Dhavin itu, tanpa basa-basi dan tanpa peduli apa lagi yang akan di katakan Dhavin terhadapnya, karena kebetulan pria ini sudah ada di atasnya persis, Revina tanpa sungkan segera merangkul tengkuk Dhavin agar pria ini semakin memeluknya, memberikan kesan yang hangat dan terlindungi. "Maaf, karenaku kamu jadi kerepotan." Kata Revina dengan sebuah bisikan kecil di telinga sebelah kiri Dhavin.
"Justru karena itu, artinya aku bisa di andalkan. Jadi tidak perlu merasa bersalah. " Sahut Dhavin. Kedua tangannya sudah melingkar ke belakang punggung Revina untuk memeluknya, menganalisis aroma tubuh milik Revina yang cukup nyaman itu.
Merasa puas dengan jawaban dari Dhavin, Revina pun akhirnya akhirnya akan menyerahkan tubuhnya itu kepada Dhavin, untuk menerima apa yang di katakan oleh pria ini beberapa saat lalu, kalau Dhavin bisa membuat pikiran dan hati yang sedang gelisah itu, bisa hilang.
Dengan apa dan cara apa, Revina memang sudah tahu.
Itulah yang Revina inginkan setiap bersama dengan pria ini.
Ya..Revina memang di balik tampangnya yang terlihat polos itu, sebenarnya Revina adalah penyuka dengan segala permainan yang di pimpin oleh Dhavin jika sudah menyangkut apa itu namanya tempat tidur bangsawan Tuan Dhavin.
Dia menyebutnya itu, karena suaminya ini memang menyandang sebagai Tuan Dhavin Calvaro yang punya sejuta pesona dengan tampang seperti seorang kelas atas layaknya pangeran.
"Terima kasih atas segalanya, karena mau direpotkan olehku.” Kata Revina, sampai akhirnya senyuman milik Dhavin yang tidak pernah pudar itu tiba-tiba saja dia memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya sampai wajahnya itu mendarat di atas bahu kanan milik Revina.
Kecupan yang terasa hangat itu pun menyentuh kulit tipis Revina langsung, yang mana hal itu menjadi sensasi kedua yang cukup mengundang mereka berdua ingin melakukannya lebih jauh lagi dari itu.
Masih menempelkan di permukaan kulit dari bahu Revina, Dhavin kembali berkata : “Revina, seperti yang aku katakan tadi, aku akan membuat pikiranmu kosong dan tidak mengingat lagi apa hal yang kamu anggap buruk itu. Apa kamu siap?"
“Hmm..aku serahkan padamu.” Entah kegilaan apa barusan Revina katakan kepada Dhavin, Revina hanya akan mempercayai, bahwa pagi ini mereka akan melakukan pekerjaan untuk saling meninggalkan rasa sepi yang sudah lama mendiam di tubuh mereka untuk sebuah tujuan saling menghibur diri.
__ADS_1
“Kalau begitu aku mulai.”
Jantung yang sudah tidak dapat terkontrol itu, sudah tidak Revina pedulikan lagi. Karena satu hal yang di pedulikannya adalah bisa menikmati permukaan kulit milik Dhavin ini.
“Dhavin, kenapa dari sekian banyak tempat, selalu suka bagian ini?” Revina yang akhirnya merasa geli sendiri, sebab sepasang asetnya mulai dimainkan, hingga membuat suara raungan yang cukup lirih itu keluar dari mulutnya Revina juga.
“Kan ini yang paling menarik.” Jawab Dhavin singkat, sambil mengulum ujung dari buah yang tidak bisa di makan itu sendiri dengan gerakan layaknya sedang memakan permen lolipop.
'Iya sih. Tapi..tapi kan itu kalau di ****, i-itu kan yang keluar adalah minuman untuk anak kita. Kenapa jadi kamu yang meminumnya?' Karena tidak tahan dengan uluman dari lidah panas milik Dhavin yang mendarat di ujung buahnya sontak Revina jadi memeluk kepala Dhavin dengan lebih erat. "Dhavin..itu..itu geli."
"Kalau aku yang melakukannya geli? Tapi jika kedua anak kita yang melakukannya, kamu tidak merasa geli?"
"Sa-sama-sama geli. Tapi..kamu itu jelas..beda." Dan cengkraman tangannya terhadap rambut Dhavin pun semakin kuat, karena saking geli serta rasa aneh yang terus menjalar di tubuhnya, yang kini sekalipun masih memakai pakaiannya, tapi itu juga sudah tidak di kancing lagi. Sehingga Revina benar-benar memperlihatkan tubuhnya yang sudah tidak berpenampilan benar.
"Apa kamu bisa mengatakannya, bedanya di bagian apa?" Pinta Dhavin, lalu kembali mendaratkan bibirnya lagi ke atas permukaan permen manis itu lagi.
"M-mu.. mulutmu lebih besar." Jawab Revina dengan cepat, sebelum akhirnya Revina langsung membuka mulutnya dan mengatakan lebih banyak Ah seperti ingin di suapi.
Ya..karena kebetulan Dhavin haus, jadi tanpa sadar mulutnya lebih suka mendarat di buah milik Revina.
______________
"Ah~ D-Dhavin...itu-" Lenguhan itu pun menyambut indera pendengaran Dhavin lagi, lagi dan lagi.
"Kamu suka sekali memanggil namaku ya? Sini di bagian ini juga."
"Tu-tunggu... Itu..itu disana, disana aku belum sembuh."
"Mau sudah sembuh atau tidak, aku ingin memeriksanya sendiri. Atau, kamu jangan-jangan malu?"
"Jelaslah, malu. Apa kamu sebegitu penasarannya dengan itu?"
__ADS_1
Dan suara Dhavin kembali terdengar. "Bukankah di dalam janji pernikahan kita, apa yang aku miliki jadi milikmu, dan sebaliknya juga. Apa yang kamu miliki jadi milikku. Jadi wajar saja kan, aku memeriksa barang punyaku juga. Ini itu aset berharga kita berdua, jadi jangan halangi aku untuk melihatnya, Revina."
"D-Dhavin, apa kamu tidak tahu aku tetap masih malu."
"Singkirkan tanganmu, aku hanya ingin melihat luka besarmu itu seperti apa."
"Kan, itu artinya kamu memang penasaran."
"Maka dari itu, biar aku jadi tidak penasaran lagi, buka cela*na mu ini." Tuntut Dhavin lagi, sedang berusaha untuk menyingkirkan tangan Revina dari pangkal paha yang masih terbungkus dengan baik.
"Apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain ini?"
"Aku justru terlalu luang, sampai bosan nya, jadi ingat, aku penasaran dengan ini." Sambil menunjuk aset milik Revina yang diam dan terbungkus itu. "Cepat buka."
Dan gelengan kepala dari Revina pun jadi sebuah jawaban penolakan Revina terhadap permintaan kecil Dhavin yang terlampau galau karena tidak bisa melakukan lebih untuk memuaskan na*fsu nya yang memang sudah timbul itu.
"Karena kamu sendiri sudah menolak, jangan salahkan aku pakai ini."
Dan suara itu berakhir dengan teriakan yang langsung mengejutkan banyak orang yang sengaja sedang menguping.
"Akhh..Dhavin! Itu celana dalm kesayanganku!"
"Kan aku sudah bilang, buka ya buka. Salahkan dirimu sendiri menolak permintaanku. Tapi sayangnya sudah terlanjur aku gunting nih." Ucapan Dhavin itu pun menunjuk pada satu barang pelindung yang sedang di pakai Revina, dan barang itu sudah di gunting sampai sudah tidak bisa di apa-apakan lagi. "Kalau kamu suka ini, aku akan menyuruh salah satu designer untuk membuat salinannya."
Sedangkan di sisi lain, sebanyak sepuluh orang, empat dari kalangan pelayan dan sisanya adalah anak buah Dhavin yang penasaran, mereka semua berakhir dengan langsung jatuh terduduk di lantai marmer menahan tawa serta pikiran yang sedang traveling.
Tentu saja apa yang sedang di pikirkan oleh mereka semua memang sedang terjadi di dalam kamar milik majikannya itu.
'Ternyata Tuan memang suka jahil seperti itu terhadap Nyonya.' Pikir anak buah Dhavin yang pertama.
'Akhh...aku jadi iri, kenapa majikan yang aku layani bisa harmonis seperti ini? Aku sungguh ingin sekali bisa seperti itu dengan kekasihku nanti.' Benak hati pelayan wanita yang pertama.
__ADS_1
'Ini sungguhan sangat berbanding terbalik. Tuan ternyata bisa membuat candaan seperti itu dengan Nyonya, sedangkan jika pada kami, kami justru di anggap seperti musuh.' keluh anak buah Dhavin yang kedua ini.