Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
83 : DBMJCP : Mimpi Tapi Rasa Nyata


__ADS_3

Hanya dengan mendengar nama Adel saja, detak jantungnya jadi seolah berhenti untuk sesaat itu juga.


Dia seketika menjadi jengkel, karena nama Adel adalah nama yang harus Dhavin hilangkan dari muka bumi.


Tentu saja, jika bukan karena wanita itu, maka anak buah nya tidak akan perlu repot-repot menyamar jadi Istrinya.


Dan yang lebih parahnya lagi adalah, sekarang Revina menghilang?


Menghilang kemana, Dhavin sendiri tidak begitu tahu.


Di samping dia masih di berikan tatapan terkejut oleh Vinella, Dhavin sempat berpikir. 'kalau ini adalah mimpi kenapa pukulanku ini terasa menyakitkan? Apa iya, mimpi bisa semenyakitkan ini? Hati, dan tangan, semuanya bisa aku rasakan, ini membuatku merasa kalau semua ini adalah kenyataan.


Tapi tidak ..., tidak mungkin. Jika ini kenyataan, lalu apa yang aku lakukan selama ini? Menggendongnya, mengusap wajahnya yang sedih itu, bertengkar, dan tidur bersama. Padahal jelas-jelas aku melakukan itu dengan Revina, tapi apa semua ini?


Kedua anak ku terlihat berumur tujuh tahun, sedangkan wanita yang sedang menyamar jadi Revina ini, dia sudah menikah?'


Dhavin pun sempat melihat cincin sudah melingkar di jari manis Vinella.


Cincin yang jelas berbeda dengan yang biasanya Revina pakai. Maka dengan begitu, semua yang ada di sekelilingnya itu menjadi sesuatu yang masuk akal bahwa dia ada di alam nyata?

__ADS_1


"Ini tidak mungkin nyata, tidak, aku jelas tadi sedang tidur dengan Revina." Gumam Dhavin. Dia benar-benar merasa syok, karena melihat Vinella berpenampilan Revina, dan kedua anaknya sudah besar, sampai mereka berdua sudah bisa berbicara dengan lancar.


Apalagi Luoisa, bahkan anak perempuannya itu malah sudah berani protes dan membuat hinaan besar kalau Revina bukan Ibu kandungnya.


Entah kali ini adalah mimpi atau bukan, Dhavin tetap saja merasa hatinya jadi ikut sakit ketika mendengar Revina yang sudah susah payah melahirkan mereka berdua, justru tidak mendapatkan pengakuan.


Sampailah dimana Dhavin ingat sesuatu yang kebetulan belum lama ini, dia mendengar singkat cerita dari mimi milik Revina.


'Jadi benar, maksudnya ini? Louisa menolak mengakui Revina adalah Ibunya? Apakah aku memimpikan sambungan dari mimpi milik Revina?' Pikir Dhavin lagi.


"D-Dhavin, tanganmu-" Ucapan dari rasa khawatir itu pun menyeruak masuk ke dalam telinganya.


"'Dhavin? Kau berani sekali memanggilku seperti itu. Kau kan memanggil-" Kalimat Dhavin langsung terpotong saat dia melihat Vinella menggeleng-gelengkan kepalanya.


Darah yang begitu merah, segar, dan sebenarnya cukup amis, jika di biarkan seperti itu terus.


"Dhavin! Kenapa kamu diam saja?! Berikan tanganmu! Ini harus di obati." Kata Revina lagi.


Mendengar namanya terpanggil lagi, Dhavin menoleh ke arah Vinella yang justru sudah kabur untuk mengambil kotak P3K yang Dhavin simpan di lemari bufet tepat di dalam kamar yang terhubung dengan kantor nya itu.

__ADS_1


'Vinella sudah pergi, lalu kenapa aku dari tadi mendengar suaranya Revina?' Dhavin yang kebingungan itu pun bertanya pada satu anaknya yang masih duduk anteng di tempatnya. "Apa kamu mendengar sesuatu?"


"Aku mendengar Ayah yang bicara dengan ekspresi wajah khawatir." Jawabnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari game yang sedang dia mainkan itu.


'Apa? Jadi hanya aku saja yang mendengar suaranya? Yang artinya, ini memang hanya mimpi saja, ya kan?' Karena percaya dengan pikirannya itu, Dhavin pun kembali duduk dan mencoba memejamkan matanya.


Sampai pintu kantor nya tiba-tiba saja terbuka.


KLEK.


Dan satu orang wanita berpakaian serba hitam, sampai menyembunyikan wajahnya di balik masker, tiba-tiba muncul sambil menodongkan pistol ke arah mereka, sebelum jari telunjuk itu akhirnya menarik pemicunya, dan ...


DOR...!


"Levine!" Panggil Dhavin, mau bagaimanapun dia langsung terkejut jika melihat anak nya yang sedang duduk anteng itu tiba-tiba saja di tembak.


Tapi ternyata tidak hanya itu saja, karena Vinella yang sedang berjalan dengan kotak P3K di tangannya itu, juga turut di tembak.


DOR...!

__ADS_1


Dan di akhir dari drama yang Dhavin yakini adalah mimpi itu, Dhavin mengangkat pistol nya ke depan, dan sama-sama menarik pemicunya dalam waktu yang bersamaan, sampai yang kena justru mereka berdua secara bersama-sama.


DOR....!


__ADS_2