Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
37 : DBMJCP : Penculik yan di culik


__ADS_3

Hanya mendengar jawaban ala kadarnya saja dari Arlsei, Dhavin langsung menyambar undangan yang Arlsei sodorkan itu kepadanya.


Dhavin membaca surat undangan itu dan dari isi yang sudah Dhavin baca itu, berhasil membuat Dhavin meremas surat unndangan itu dan melemparnya secara sembarangan ke belakang, hingga udangan itu langsung terlempar dan mendarat ke lantai satu.


"Tapi Tuan, anda harus hadir bersama dengan Nyonya besar." beritahu Arlsei selagi melirik ke arah bawah, dimana salah satu anak buahnya yang berhasil menangkap kertas undangan itu, buru-buru merapikannya lagi.


"Harus? Aku punya urusanku sendiri, kenapa Ibu tidak menyuruh si Fred saja yang pergi dengannya?" Tanya Dhavin, masih tidak mau pergi dari depan kamarnya sendiri. "lagi pula-" Dan sorotan mata Dhavin pun semakin dingin, seakan Dhavin baru saja melihat kenalan lama yang sangat Dhavin benci itu. "Itu kan hanya pesta ulang tahun dari tikus putih, jika sudah berkaitan dengannya, sudah pasti akan ada kejutan juga. Dia bukan sekedar mengundangku begitu saja."


"Karena itu, apakah anda tidak penasaran? Dengan alasan orang itu mau mengundang anda?" Tanya balik Arlsei, berhasil menarik perhatian Dhavin untuk menoleh ke arahnya.


"Kamu sedang memancingku ya?" Memberikan tatapan menyeildik kepada Arlsei ini.


"Jika anda berpikiran demikian, saya akan mengatakan Iya saja." jawabnya.


"Hah..." Dhavin mendengus kesal. Dia kembali menatap pintu kamarnya itu, dimana saat ini di dalam kamar itu ada istrinya yang saat ini sedang sendirian dengan emosi yang kembali naik.


Tapi demi memberikan Revina waktu untuk sendirian, baik itu agar Revina berpikiran jernih sekaligus menata hatinya, Dhavin pun memberikan perintah baru kepada Arlsei yang selalu siaga di rumah terus.


Semenjak Dhavin menikahi Revina, tentu saja untuk menjaga keamanannya, Dhavin menempatkan Arlsei yang merupakan tangan kanannya agar terus berada di sekitar Revina untuk menjaganya.


"Nanti siang, kamu yang buatkan makanan untuknya. Aku akan pergi dulu ke kantor." Perintah Dhavin. Dan Dhavin memang sengaja menyebut kantor adalah agar tidak ada kecurigaan pada Revina, kalau sebenarnya, Dhavin pergi ke markasnya, yang memang dalam bentuk gedung pencakar langit.


Itu bisa di jadikan kantor, akan tetapi kantor apa dulu?


Itu adalah kantor dari organisasi gelap miliknya, port Mafia.


"Baik Tuan." Arlsei pun menunduk sebagai tanda jawaban miliknya juga.


Setelah itu, Dhavin pergi dari depan kamarnya, benar-benar meninggalkan Revina sendirian di dalam sana.


*


*


*


'Hiks..hiks...padahal aku memang menyukai Nasi Gorengnya. Padahal bagiku tidak begitu asin, kenapa hanya seperti itu saja dia jadi marah kepadaku?' batin Revina.


Saat ini Revina kembali berbaring di atas tempat tidur, yang beberapa waktu lalu, dimana tepat saat mereka bangun tidur saja sudah saling menyapa dengan sentuhan mesra dibawah kasih sayang, tiba-tiba semua itu terasa seperti mimpi saja setelah pertengkarannya dengan Dhavin hanya karena Nasi goreng yang keasinan itu.

__ADS_1


________


"Mhh...! Mhh...!" Ketiga orang pria ini sudah terikat di kursinya masing-masing.


"GUK...!" Sayang sekali, anjing dengan bulu berwarna hitam tapi dominan coklat dengan kedua telinga berdiri tegak, yaitu Belgian Malinois itu langsung membuat satu nggonggongan keras agar ketiga orang di depannya itu segera diam.


'Kenapa aku tiba-tiba bangun dan ada di tempat seperti ini?! Gelap juga dingin, tapi ini...aku merasakan bau amis yang lumayan. Siapa yang melakukannya kepadaku?' Pikir pria berjaket biru ini, atas dirinya yang terbangun dari pingsannya, ia sudah dalam kondisi tubuh yang sudah terikat di kursi, mulut yang di bungkam dengan selembar kain, dan yang lebih menakutkannya dari itu adalah bahwa dia tidak sendirian.


Dia tidak hanya sendirian, tapi juga ada dua orang teman lainnya yang sama-sama dalam kondisi terikat, dan tempat mereka di kurung saat ini adalah seperti ruang bawah tanah. Ada beberapa pilar dengan rantai menggantung, cipratan darah berada di dinding, dan yang lebih parahnya lagi adalah di bawah kakinya persis, dia seperti baru saja menginjak sesuatu yang kecil tapi mengganjal.


Saat dia mencoba mengangkat kedua kakinya yang terikat, rupanya benda yang sempat dia injak adalah..


'J-jari?! Kenapa disini ada potongan jari?!' Teriak pria ini, tak kuasa menahan keterkejutannya itu. "Ehmm!..mhh..!' Bertambah meronta lah pria ini karena takut dengan potongan jari yang dia lihat itu.


"GUK! GUK!" Gonggonngan am*jing itu semakin menambah kepanikannya. Sampailah, dimana anjing tersebut, tiba-tiba berlari." Guk!"


"AKhh...!" Ronta pra ini, melihat an*jing yang sedari tadi berdiri itu tiba-tiba saja saat ini berlari kearahnya dengan gonggongan yang cukup keras.


"GUk!"


"Akkh!" Ronta pria ini, tatkala jarak diantara mereka sudah semakin pendek, dan ...


Kedua kaki belakang dari an*jing ini langsung melompat ke arahnya.


Kedua bola mata dari pria ini langsung terbuka lebar sat an*jing galak itu embuka mulutnya dan sedang melompat ke arahnya.


KLEK...


Suara pintu yang terbuka itu berhasil membawa seorang pria masuk kedalam ruang bawah tanah itu.


"Adema, berhenti." Perintahnya.


Satu perintah berisi nama panggilannya juga, berhasil membuat anj*ing yang tadi memang sedang dalam kondisi melompat ke arah pria berjaket itu, langsung menjadikan wajah dari pria tersebut sebagai pijakan.


TAP...


Adema itu langsung melanjutkan lompatan dari hasil tumpuan yang menggunakan wajah menusia tadi sebagai tumpuan mereka berdua.


"Guk!"

__ADS_1


Gonggongan itu mewakili langkah pertama yang di ambil oleh pria ini untuk terus berjalan ke arah tiga orang tawanan barunya itu.


'S-siapa laki-laki ini?' pikirnya, saat melihat pria bertubuh tinggi dan terlihat besar dengan segala segi sisi tubuh yang cukup berotot itu, berhasil berdiri di depan matanya persis dengan tatapan yang cukup dingin.


"Sudah terikat seperti itu, masih punya nyali juga meolot ke arahku." Ucap pria ini.


KLEK..


Pintu kembali terbuka, satu orang pria dengan stel seragam serba hitam lengkap dengan kacamata hitam itu, tiba-tiba saja masuk dan membawa sebuah kursi kayu biasa.


Kursi itu di letakkan di belakang dari pria yang baru saja berkata demikian tadi kepada tawanannya yang sengaja di tangkap tadi malam itu.


"Bos, silahkan duduk." kata laki-laki berkaca mata hitam ini kepada seorang pria yang di panggil Bos?


'Bos? Apa aku baru saja mengusik seseorang yang harusnya tidak aku usik?' Benak hatinya.


"Hei~ Kenapa reaksimu terlihat ketakutan seperti itu, padahal malam tadi kalian berempat sudah melakukan sesuatu kepada salah satu anak buahku." Senyuman miring yang tersungging di bibirnya itu pun menjadi satu perkata baru untuk mereka bertiga.


Dimana kedua orang sisa itu akhirnya secara perlahan bangun juga.


"Mhh...?!"


"Hmmh..hmh..!"


Dan sama hal nya dengan keterkejutan yang di alami oleh si laki-laki berjaket biru itum kedua orang itu juga menuntut hal yang sama, yaitu sebuah jawaban.


'Kenapa kita terikat dan dimana kita?!'


Dua pasang mata yang saling pandang satu sama lain itu sukses mneyita perhatian anj*ing tersebut untuk kembali menggonggong.


"GUK!"


"Kalian bertiga, kenapa kalian begitu terkejut seperti itu? Aku sedang ada di sini, tapi kalian sedang melihat ke arah mana ha?" Tanya pria ini, tidak lain adalah Dhavin.


Seperti yang sudah direncanakan tadi malam. Karena semua anak buahnya bersiaga di tempat dengan berpura-pura menjadi orang lewat dan pengunjung restoran, maka kasus penculikan yang akan melibatkan Vinella itu berakhir dengan menculik mereka semua.


Dan disinilah sekarang. Mereka bertiga duduk dengan kondisi tubuh di ikat total, mulut yang di bungkam, dan menempatkan mereka bertiga di ruang bawah tanah khusus yang gelap, sebab disinilah tempat berakhirnya deretan nyawa yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, berakhir melayang.


Dan Dhavin?

__ADS_1


Tentu saja kedatangannya itu ingin melihat ketiga orang ini lebih dulu.


__ADS_2