
"..." Fredy lantas terdiam dengan kedua tangannya tiba-tiba saja berhenti mengetik setelah ke sepuluh jarinya itu ia gunakan untuk berlomba dengan waktu.
Ya, Freddy barusan mendapatkan perintah dari Arlsei kalau ada yang baru saja terjadi dengan Dhavin.
Meskipun yang ia retas adalah handphone miliknya Revina, namun ia tahu betul kalau yang ia retas adalah handphone yang tidak sengaja terbawa oleh Dhavin.
'Siapa yang berani melakukannya?' Pikir Freddy, lalu dia kembali menatap layar laptopnya. Tidak lama kemudian ekspresi wajahnya jadi semakin serius dengan melihat layar laptop nya sambil kembali menggerakkan kesepuluh jarinya untuk mengetahui apa situasi serta kondisi yang sedang terjadi oleh Dhavin.
Sampai tidak lama kemudian, sorotan matanya yang cukup dingin itu berhasil menangkap satu berita yang baru saja ia dapatkan.
'Dhavin-' detik hati Freddy ketika melihat betapa seriusnya situasi yang tengah Freddy lihat itu.
____________
"Bos! Saya sudah menghubungi Tuan Kafael, dan beliau bilang akan langsung segera menurunkan bantuan." Bisik anak buah Dhavin ini kepada majikannya yang saat ini sudah berlumuran darah di bagian kepalanya.
Dhavin sendiri dia langsung mengeluarkan senjata yang ada di dalam sarung pistol yang Dhavin pakai yang letaknya ada di bawah ketiaknya.
"Ha~ Baru juga sampai, kenapa malah diberi sambutan seperti ini?" Gerutu Dhavin dengan senyuman sinisnya. Kilatan akan mata yang menatap tajam lawannya yang ada di belakang sana, tengah sama-sama sedang bersembunyi. "Dengar, walaupun kita minta bantuannya, bukan berarti kita percaya sepenuhnya dengannya. Apa kau mengerti?"
"I-iya Bos. Jadi apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin kita berada di sini terus sampai batuan datang, ya kan?" Tanya laki-laki ini dengan wajah cemas.
Dhavin berpikir sejenak, lalu dia menjawab, "Tentu saja kita tidak bisa ada di sini terus. Dan, buang handphone mu itu."
"Eh? Kenapa?" tanya bingung.
"Karena kita sudah tidak butuh itu lagi. Jika kau terus menggunakannya, yang ada kita akan terus terlacak. Memangnya aku percaya kalau handphone yang kau gunakan itu tidak pernah hilang sesaat dan sudah di taruh alat pelacak oleh orang lain?"
'P-prasangkanya benar-benar buruk sekali.' tercengang dengan cara berpikir Bos nya yang kelewat curigaan.
"Cepat cari dia! Mereka tidak mungkin bisa pergi jauh setelah kecelakaan seperti itu! Kalau ketemu, usahakan langsung bunuh saja dan kalau bisa, biarkan mayatnya itu tidak pernah ketemu, atau bahkan di bawa pulang ke negaranya, hahah...itu pasti menyenangkan." Teriak salah satu orang laki-laki berpakaian serba hitam, karena penampilannya yang rapi dan memakai jas hitam, bahkan sampai masker serta kacamata hitam pun di pakainya.
"Baik Bos." dan ke sepuluh orang itu pun berpencar mencari target mereka untuk di bunuh.
'Bukannya mereka terlalu mencolok? Tunggu-' pikir Dhavin.
Mendapatkan jumlah yang tidak sepadan untuk di hadapi, Dhavin mencoba untuk berpikir lain.
Tapi memangnya bisa apa?"
-"Bos, bagaimana keadaanmu Bos?"- Suara milik seorang wanita itu langsung masuk lewat alat komunikasi radio yang Dhavin bawa.
__ADS_1
"Dibilang tidak apa-apa, tapi aku juga baru saja kecelakaan. Posisimu dimana?" Bisik Dhavin, berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu berisik.
Tapi, saat Dhavin juga hendak bicara lagi, seseorang mulai mendekat.
PHYUUU....
BRUK....
Dua meter sebelum orang yang sedang mencari Dhavin itu berhasil menemukan Dhavin yang sedang bersembunyi di balik tong sampah besar, tiba-tiba saja langsung ambruk.
"Aku ada di apartemen, apa Bos mau menemaniku disini?" jawab sekaligus bertanya balik kepada Dhavin.
"Kau dulu yang temani aku membereskan mereka semua. Baru nanti aku bisa ke tempatmu." Jawab Dhavin dengan senyuman getir, karena rasa sakit yang ada di kepalanya itu justru jauh lebih sakit ketika digunakan untuk terus berpikir.
Sejenak, Dhavin terdiam, dia merasa ada bahaya yang akan datang, sehingga ia pun memberikan kode kepada satu-satunya anak buahnya yang tersisa itu?
"...." Dhavin terdiam sambil menatap anak buahnya itu sesaat. 'Sudah terlambat ya? Jadi apa boleh buat?'
Dalam diam Dhavin lebih ingin tertawa terbahak-bahak, tapi tidak ia lakukan untuk mengkondisikan situasinya yang semakin mepet.
"01! Dia tertembak!" Teriak salah satu dari mereka.
Ada dua pistol di tangannya, ketika satu pistol itu tiba-tiba di todongkan ke arah ujung lorong yang mengarah ke arah jalan keluar.
DORR...
CTAKK...
Satu tembakan berhasil di halau dengan tembakan juga, sedangkan satu tangan lainnya, tanpa sungkan menembak ke arah posisi dimana Dhavin berada, yaitu ke arah tong sampah besar.
DORR....
CTANG....
Satu peluru yang tertembak itu berhasil menyerempet ujung besi dari tong sampah tersebut, dan secara sengaja juga memberikan Dhavin yang ada di balik tong sampah itu sebuah peringatan.
"Keluar!" Perintahnya dengan sebuah teriakan.
"Apa aku harus keluar, gitu?" dan Dhavin malah bertanya balik.
"Bos," Lalu saat anak buah Dhavin ini malah memasang wajah yang semakin takut karena Dhavin sendiri malah menyahut ucapan dari musuhnya sendiri, tiba-tiba saja di tembak mati oleh Dhavin yang padahal duduk berjejer saat itu juga. "Ken-"
__ADS_1
DORR...
"Oh, kenapa kau malah membunuh anak buahmu sendiri?" Tanya pria ini, sebagai pencetus dari insiden Dhavin yang harus menghadapi kecelakaan.
Karena Dhavin berpikir sudah tidak ada gunanya bersembunyi terus, karena sudah ketahuan, Dhavin pun keluar dan sepeti musuhnya itu, dia dengan begitu percaya dirinya sama-sama memegang kedua pistolnya dan tersenyum ke arah mereka yang sudah berhasil berkumpul untuk mengepung Dhavin.
DORR...
CTAKK...
'Skill menembaknya sangat tinggi, bisa tahu kalau Vinella menembak dan bisa menghalau tembakannya seperti itu, ternyata aku memang tidak menghadapi musuh yang kaleng-kaleng.' Pikir Dhavin saat melihat betapa cekatannya musuhnya kali ini dalam menghadapi peluru yang datang ke arahnya, karena perbuatan dari Vinella.
"Kenapa tidak jawab?"
"Heh~ Kenapa aku harus menjawab hal yang sudah pasti?" Delik Dhavin. Satu persatu, Dhavin lirik dan amati dengan seksama sebelum sepasang matanya itu kembali menatap lawannya. "Dua orang pengawalku kan pada dasarnya sudah mati duluan, jadi mana mungkin dia orangku juga." Jawab Dhavin, sesaat melihat kearah satu orang yang awalnya Dhavin kira adalah anak buahnya, tapi nyatanya bukan.
"Kau cerdas, tapi akan aku pastikan kecerdasanmu itu berakhir di sini saja." Ucap pria ini, memberikan sebuah ancaman kepada Dhavin.
"Apa maksudmu kau ingin aku di buat menjadi orang idiot?" Tanya Dhavin dengan sedikit memiringkan kepalanya ke arah kanan.
"Entahlah, rasanya kau juga sudah mendengar perintahku tadi untuk segera membunuhmu." Seringai pria ini.
Begitu senyuman dari mereka berdua pudar, saat itulah Dhavin pun langsung berlari menuju ke arah lawannya, dan berbagai macam nada dari suara peluru yang di tembak dalam posisi yang berbeda, menjadi awal dari pekerjaan mereka dalam menghadapi lawannya.
'Jika kau memang berharap aku mati, maka aku berharap kalian semua mati lebih dulu.' Pikir Dhavin.
DORR...
CTAK...
Satu tembakan itu berhasil di tangkis dengan peluru juga.
DORR...
DORR...
DORR....
Dari sepuluh orang, Dhavin berhasil membantai tiga di antaranya, tapi itu masih belum termasuk untuk memukul mundur dari pemimpin penyerangan ini, sedangkan Vinella dia tiba-tiba harus berurusan dengan seseorang juga, sehingga di waktu seperti ini, sama sekali tidak ada bantuan sekalipun.
_________________
__ADS_1