Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2

Dhavin Bos Mafia Jatuh Cinta Kepadaku S2
85 : DBMJCP : Mall


__ADS_3

"Hahaha ...., kamu yakin soal itu? Tuan akan datang kesini bersama dengan i-" Vinella yang kebetulan sedang ada di mall bersama dengan rekan kerjanya, tiba-tiba langsung menghentikan tawa dan langkah kakinya saat dia tidak sengaja melihat seseorang yang cukup familiar.


"Vin, ada apa? Apakah kamu baru saja melihat seorang musuh? Mungkin musuh bebuyutanmu?" Tanya pria ini, dia adalah rekan kera Vinella, dan sekarang mereka berdua ada di mall, sebab selain sedang menghibur hati dengan cara cuci mata, mereka juga sedang berpatroli.


"Hmm ..., aku baru saja menemukan musuhku. Katakan, sekarang Tuan dan Nyonya ada di mana?" Dan Vinella pun jadi semakin bersikap waspada, karena dia melihat ada Adel sedang menaiki ekskalator.


"Hmm..., Tuan dan Nyonya baru saja keluar dari mobil, dan sekarang sudah masuk. Ah ..., mereka ada di lantai pertama." Beritahu pria ini, sambil menunjuk ke arah bawah.


Vinella melihatnya, Adel ada di lantai tiga, dan sedang menuju ke lantai empat, tepat dimana mereka berdua berada. Tapi sayangnya di lantai satu, tidak ..., sekarang Dhavin dan Revina sedang naik lift.


Mau ke lantai berapa, sayangnya Vinella tidak tahu.


"Hei .., ini darurat. Kamu awasi wanita dengan gaun pendek berwarna pink itu, aku akan menghubungi Tuan. Dan selagi itu pula, beritahu aku posisi dari wanita itu kepadaku setiap saat." Perintah Vinella kepada temannya itu. "Sana pergi."


"Ada apa sih sebenarnya?" Tanya pria ini bingung.


"Sudah, ini menyangkut posisi Tuan dan Nyonya, jangan banyak tanya lagi, sana." Mendorong punggung teman nya itu agar segera pergi.


"Kamu perempuan tapi tenagamu seperti pria." Kata pria ini dengan senyuman tawarnya dengan tubuh terus terdorong.


"Makannya, jika tidak mau kena bogem mentahku, sana pergi dan awasi wanita itu." Tunjuk Vinella pada Adel yang baru saja sampai di lantai empat.


"Tidak, justru aku mau merasakan bogem punyamu."


Mendapatkan godaan seperti itu, Vinella segera menendang pan*tat pria itu agar segera pergi. "Hish! Merepotkan. Pergi!" Ucapnya dengan wajah kesal.


Berhasil membuat temannya pergi mengerjakan tugas yang Vinella perintahkan tadi, Vinella langsung menghubungi Bos nya.


Karena kebetulan Lift itu terbuat dari kaca, maka Vinella tahu persis kemana kedua majikannya itu pergi.


"Kenapa Bos tidak mengangkat teleponku?" Kutuk Vinella, sama sekali tidak mendapatkan jawaban, karena panggilannya tidak di angkat.


*

__ADS_1


*


*


"Kenapa kita ke mall? Apakah artinya kamu suka pergi ke mall?" Tanya Revina, dia pun celingukan dengan tempat yang begitu ramai itu.


Tapi dari pada melihat keramaian, dia justru tertarik dengan arsitektur dari mall yang sedang dia kunjungi itu benar-benar cukup mewah.


Sesuai dengan posisinya, mall terbesar di kota A dan paling mewah diantara mall yang lain.


"Tanpa tempat ini, maka tidak akan ada yang namanya kehidupan untuk orang kaya ." Balas Dhavin, sambil mendorong kursi roda.


Karena jalan-jalan adalah sesuatu yang membutuhkan tenaga lebih untuk berkeliling, sedangkan Revina sendiri belum lama ini keluar dari rumah sakit dan apalagi belum lama melahirkan, sudah pasti Dhavin akan memberikan layanan eksklusif dari diri Dhavin untuk Revina, sebagai balas jasa sebab istrinya berhasil memberikan keturunan untuk keluarganya.


Merasakan adanya tatapan mata dari belakang, Revina pun menoleh ke belakang. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Revina dengan anda malas, sebab wajahnya seperti sudah ketahuan atas jawaban apa yang akan di lontarkan dari mulut pria ini kepadanya.


"Karena aku senang." Dhavin menghentikan langkah kakinya, sehingga mereka berdua pun berhenti di tengah jalan. Setelah itu Dhavin membungkukkan tubuhnya ke depan, dan membisikkan sesuatu di telinga sang Istri ini. "Senang, karena akhirnya kita berdua bisa keluar bersama setelah sekian lama." Tambahnya.


BLUSHH....


BUKH..


"A-apa? Kenapa kamu memukul tanganku yang sedang sakit ini?" Gugup Dhavin dengan reaksi Revina yang justru malah mengganas.


"Ini di tempat umum, jangan merayuku."


"Tapi kamu kan memang pantas aku rayu dimanapun kita berada." Sahut Dhavin saat itu juga.


"Siapa mereka berdua? Apakah mereka berdua artis?"


"Ih, dia tampan sekali? Tapi yang di kursi roda, apakah dia pacarnya?"


Satu dau orang dan bertambah lebih banyak lagi, semua kalimat pujian menghujani diri Dhavin, padahal saat ini Dhavin sedang menyamar dengan menggunakan wig, serta penampilan dengan paling biasa.

__ADS_1


Tapi semua orang tetap menyadari akan aura kuat yang dimiliki oleh Dhavin.


"Apakah dia pacarnya? Kasihan sekali, dia lumpuh."


"Dari pada dia, lebih baik aku saja. Kan menyusahkan ya? Jalan-jalan tapi harus mendorong kursi roda."


Hanya saja, mendengar adanya cacian untuk Revina, Dhavin yang tidak terima itu langsung meliriknya dengan tajam. "Apa kalian baru saja menghinanyamph..!"


Dhavin yang terkejut baju hoodie nya di tarik oleh Revina hingga Dhavin terus membungkuk, mulutnya itu pun langsung kena bungkam karena tangan Revina ini.


"Lumpuh? Memangnya duduk di kursi roda artinya aku lumpuh?! Jangan sembarangan kalau bicara. Nih ..., aku bisa berdiri." Revina yang kesal, membuktikan dirinya bisa berdiri dan berjalan menghampiri mereka berdua, dua orang perempuan yang tadi sempat menghinanya.


"Ih, apaan sih. Dia marah karena itu?"


"Hiyy ..., pergi yuk." Kedua wanita ini pun segera pergi meninggalkan Revina yang hendak menghampiri mereka berdua.


Revina yang baru saja di tinggal, sedikit membuka topi bundar nya dan melihat mereka berdua berhasil kabur, sedangkan mereka semua yang sudah memiliki niat untuk mendekati Dhavin, langsung mengundurkan diri mereka, karena melihat wajah marah dari Revina.


"Huh~ Lumpuh? Padahal aku sama sekali tidak lumpuh. Awas saja, kedepannya mereka berdua bisa lumpuh betulan, nanti rasakan itu. Ucapan itu doa, dan mereka berdua malah mengatakan itu kepadaku." Gerutu Revina, kembali memperbaiki posisi topi bundar miliknya.


Dhavin yang mendengar kutukan dari Istrinya yang baru saja di hina, jadi terdiam.


Dia menoleh ke belakang, dan masih melihat dua orang wanita tadi baru saja masuk ke dalam toko perhiasan.


'Lumpuh, doa?' Dhavin yang terdiam itu melirik secara bergantian, antara menatap kedua wanita yang tadi sudah pergi lalu beralih menatap Revina yang kini sudah kembali duduk di kursi roda sambil menyangka kepalanya dengan raut muka yang cukup kesal.


Lagi pula, siapa yang tidak kesal jika di hina sedemikan rupa di depan banyak orang.


"Ayo kita pergi ke satu tempat." Dhavin mencoba mengalihkan suasana hati Revina yang sedang marah itu, dan mendorong kembali kursi roda yang di naiki oleh Revina.


"Apa bisa, kita makan dulu?" Masih seperti biasa, ekspresi wajahnya sedang tidak bagus.


Dan kebetulan yang pas, hal yang paling bagus adalah merubah suasana hati Revina dengan membuat perut Istrinya itu kembali di isi.

__ADS_1


Bukan di isi anak, tapi di isi makanan yang enak.


__ADS_2