
Larian kuda yang di kendalikan oleh Dhavin melaju cukup kencang, di balik dia harus mengendalikan kuda yang dinaikinya, Dhavin pun harus menyiapkan posisinya ketika orang-orangan yang di gunakan sebagai bahan target untuk menembak tiba-tiba muncul.
Sebab ketika mereka muncul, maka Dhavin harus segera menembaknya tepat di bagian kepala maupun titik pusat dari badan orang-orangan itu.
Dan dia tidak sendirian, dia di temani oleh dua orang lainnya yaitu Freddy tentunya, sebagai orang yang harus bertanggung jawab karena semalam sudah mencuri kesempatan milik orang lain dengan tidur bersama dengan Istri orang, dan satu lagi adalah Andy, orang yang beberapa saat lalu berhasil menyindirnya.
Meskipun sindirannya memang tidak seberapa, tapi uang namanya tidak mengetahu tata letak kapan harus bicara kapan tidak, maka dia pun harus memberikan sebuah pelajaran juga.
"Kenapa hanya aku saja yang tidak memakai kuda?" Tanya Andy hanya memegang sebuah pistol berisi peluru karet.
"Kan tugasmu hanya jadi salah satu dari ratusan yang aku pilih, kenapa protes terus?" Sahut Dhavin seraya menyuruh kuda yang sedang berlari itu melompati satu halang rintang, dan salah satunya adalah Andy.
NGIKK...BRR...
Kuda berwarna hitam itu berhasil melompat tinggi melewati Andy.
'Apa dia sedang pam-'
"Ya, aku sedang pamer, jadi jangan katakan hal yang mudah aku mengerti dengan ekspresi wajamu." Sela Dhavin sekali lagi, menarik tali kuda agar kini berjalan menghampiri Freddy yang sedari tadi diam.
Andy seketika diam, sambil menyentuh wajahnya sendiri, sedangkan Freddy?
"Pasti sedang menyalahkanku."
"Tentu saja, karenamu aku kehilangan dua puluh menit kesempatan untuk tidur dengannya." Selidik Dhavin, mengarahkan kuda miliknya agar berjalan mengitari Freddy.
'Tidur dengannya? Apakakh mereka berdua sedang membahas soal wanita yang mereka berdua tiduri?' pikir Andy.
Tapi seperti harapan, selagi melakukan pembicaraan dengan Freddy, tangan kanan Dhavin pun menarik pemicunya dan mengarahkannya kepada Andy yang berani sedang berpikir di depannya itu.
DOR..!
Andy tentu saja berhasil menghindarinya dan secara refleks langsung menodongkan pistolnya ke arah Dhavin dan menembaknya.
Satu tembakan berhasil dilakukan oleh Andy dengan Dhavin sebagai targetnya.
__ADS_1
Akan tetapi karena Dhavin mampu membaca pergerakannya lebih dulu, maka Dhavin juga berhasil menghindari tembakan milik Andy tadi.
Namun disini, Andy merasakan keterkejutannya, sebab peluru yang berhasil di hindari oleh Dhavin itu menembak kepala dari orang-orangan yang ada di samping belakang Dhavin, dan memperlihatkan sebuah karet sudah menempel tepat di bagian titik tengah dari kepala itu.
"Apa? Peluruku karet?" gumam Andy melihat hasil tembakannya tidak seberbahaya yang di lakukan oleh Dhavin kepadanya.
"Kamu pikir aku akan memberikanmu peluru asli? Peluru asli akan di berikan jika kamu sudah respi jadi anggota. Dan karena kamu masih seorang pendaftar yang belum lulus, peganganmu adalah pisto dengan peluru karet." Jelas Dhavin di sela-sela perdebatannya dengan Freddy.
"Jadi apakah sekarang maumu bertarung di sini?" Tanya Freddy, antara tahu sekaligus seprti memberikan tawaran juga.
Dhavin kemudian melirik kembali ke arah Freddy dan menjawab : "Itulah alasanku menyuruhmu datang kesini." Ekspresi wajahnya pun berubah menjadi serius.
"Bos yang sangat gigih." Gumam Freddy sambil memejamkan matanya.
Dhavin yang merasa tersindir itu langsung mengangkat tangan kanannya ke arah depan.
"S-sebaiknya anda bertarung lebih dulu dengannya." Andy yang seketika merinding dengan tatapan dingin milik Dhavin, membuat nyalinya langsung ciut dan mulai berjalan mundur dua langkah ke belakang.
DORR...
"Siapa yang menyuruhmu pergi dari hadapanku?" Tangan kiri Dhavin di arahkan ke samping kiri sedikit ke bawah dan hasil tebakannya tadi juga hampir mengenai Andy yang hendak kabur itu. "Kalian berdua lawan aku." Imbuhnya.
'Bukannya ini tidak adil? Mereka berdua menggunakan senjata asli, sedangkan aku senjata dengan pulur karet, lalu mereka berdua juga menggunakan kuda, kenapa aku tidak diberikan kuda juga?' Protes dalam diam, Dhavin kembali memberikan Andy tembakan. "Anak buah magang yang tidak mengerti." Cibir Dhavin.
DORR..
Lalu satu tembakan itu menjadi awal pertandingan mereka bertiga dalam memperlihatkan kemampuan bertarung mereka dalam menguasai senjata mereka.
__________________
"Kemarin malam itu, apa-apaan? Ternyata pria itu malah lebih menyukai mencium seorang pelayan? Yang benar saja. Padahal aku sudah mempersiapkan agar dia jadi milikku. Tapi alhasil aku jadi tidak mendapatkan apapun, karena dia langsung pulang begitu saja." Gumam Adel. Masih tidak menerima apa yang terjadi malam tadi, apalagi saat dia diperlihatkan seorang Dhavin mencium mesra dengan seorang pelayan.
Setelah melihat hal itu, Adel jadi tidak fokus dengan yang lain, karena dia hanya berpikir satu hal, yaitu mendapatkan Dhavin untuk dirinya.
Kini Adel sedang duduk balkon kamarnya dari rumah yang dia beli dengan jumlah yang lumayan mahal. Tapi dengan harga mahal itulah, dia bisa menikmati pemandangan alam yang menarik untuk di lihat.
__ADS_1
"Nona, ini camilan untuk ana." Seorang pelayan tentu saja melayani majikannya dengan sangat baik.
Dengan uang, maka dia bisa melakukan segalanya, itulah persepsi yang dimiliki oleh Adel.
Hingga akhirnya sebuah teriakan langsung terdengar.
"Kyaaa....!" Teriakan yang berisi sebuah keterkejutan dari salah satu pelayannya, langsung menarik perhatian Adel.
"Siapa yang barusan berteriak, Emma?" Tanya Adel, segera bangkit dari kursinya.
Lalu wanita yang di panggil Emma yang merupakan pelayan pribadinya Adel, menjawab, "Dari suaranya, itu berasal dari belakang kebun, pelayan baru yang baru satu minggu kita rekrut, Merni."
Sesuai dengan apa yang diberitahu oleh Emma, Adel pun pergi dari sana untuk mencari tahu apa yang terjadi di belakang rumah?
Setelah sampai di halaman belakang, dengan langkah kaki besar dan lebar, Adel pergi menghampiri salah satu pelayan miliknya yang kini sudah jatuh terduduk di atar rumput dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat ketakutan, di samping tubuh terus gemetar.
"Apa yang membuatmu takut?" Tanya Adel sambil menatap sebuah semak-semak dari tanaman bunga mawar yang merambat.
"I-itu..ada..ada mayat." Dan setelah mengatakan itu kepada Nona majikannya, pelayan ini langsung mual. "Hoekk.." Emma yang sedari tadi mengikuti Nona majikan dari belakang, langsung menarik pelayan itu dari sana.
Adel yang terlihat antara punya keberanian juga keraguan, perlahan berjalan menghampiri arah yang di tunjuk oleh pelayannya tadi.
'Mayat? Dengan tembok setinggi ini, bagaimana ada mayat yang di bu-' Dan perkiraannya langsung benar.
Ketika Adel menilik apa yang ada di balik semaK itu, Adel langsung di perlihatkan dengan tiga orang mayat yang dimana tubuh sudah tidak utuh lagi, diantaranya tangan dan kaki, sehingga mereka bertiga meninggal dalam kondisi kaki dan tangan yang buntung.
Adel yang melihat itu, langsung berjalan mundur. Sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, Adel langsung memberikan sebuah perintah kepada Emma yang baru saja kembali dari mengantarkan pelayan baru tadi kedalam rumah.
"Emma, selidiki CCTV yang ada. Cari tahu siapa yang melakukan ini kepadaku." Perintah Adel.
Emma yang penasaran segera melihat mayat yang dimaksud itu, dan langsung berkata : "Nona, bukannya ini tiga orang yang dua hari lalu anda utus untuk menculik teman anda Revina?"
"Hmm..." Dehem Adel, melihat danya lalat yang kini mulai berdatangan, dan mengganggu selera makan Adel. "Kalau seperti ini, sudah ada kemungkinan kalau di belakangnya ada yang melindunginya."
"Apa anda sudah tahu siapa?'
__ADS_1
"Belum." Adel berbalik, dan memberikan perintah lagi, "Bersihkan itu, buang tanaman yang sudah di nodai darah mereka."
"Baik Nona." Emma pun menjawabnya dengan cepat.